
Memasuki tahun kedua setelah pertunangan, hubungan Ken dan Vara masih sama. Bahkan sekarang Ken tidak pernah lagi membahas tentang pernikahan pada Vara. Dia sendiri juga semakin sibuk dengan pekerjaan. Semakin mengembangkan perusahaan seperti yang diharapkan oleh keluarganya.
Ken tidak lagi merasa antusias dengan pernikahan. Dia juga merasa biasa saja saat Vara juga tidak membicarakan tentang rencana pernikahan. Keduanya sama-sama dan semakin sibuk, semakin terbuai dengan karir yang menanjak pesat.
Rissa yang terus menyemangati Vara untuk semakin giat dalam karir, membuat dia pun tidak lagi memikirkan tentang pernikahan. Berpikir semuanya akan baik-baik saja. Berpikir dia pada akhirnya juga akan tetap menikah dengan Ken.
Hubungan yang jalan di tempat, membuat Ken merasa hambar. Mereka seperti sepasang sahabat yang saat bertemu hanya membicarakan masalah pekerjaan, diselingi masalah pribadi yang bagi Ken biasa saja.
"Jadi, kapan kita akan melangsungkan pernikahan kita, Vara?"
"Kita harus mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya. Oya, soal proyek kerja sama ...."
"Jangan salahkan aku, kalau pada akhirnya kita benar-benar batal menikah, Vara."
"Kenapa bicara begitu? Kita akan tetap menikah, tapi bukan tahun ini."
"Ini saja masih tahun baru, Vara."
__ADS_1
"Kamu ingat kan, impian kita? Kita harus sama-sama membuktikan kalau kita akan menjadi pengusaha yang sukses. Kamu juga ingin membuktikan kepada opa kamu, kan?"
Pernikahan semakin tidak lagi menjadi tujuan mereka saat bertemu. Tidak lagi menjadi prioritas keduanya. Kedua belah pihak keluarga juga sama-sama terbuai dengan berkembangnya perusahaan.
Ken yang mendirikan perusahaan baru miliknya sendiri, semakin sibuk.
Ken merasa hambar. Ada yang hilang, ada yang dia rindukan. Tapi apa? Dia merasa kesepian. Merasa kosong.
Setiap kali melihat anak kecil, hatinya berdenyut. Dia menginginkan seorang anak, tapi untuk menikah dengan Vara, entahlah ....
Bertemu dengan Vara seperti sebuah jadwal yang harus dilakukan karena kebiasaan saja, karena formalitas.
Dia jenuh, dia bosan dengan rutinitasnya. Waktu luangnya hanya dia pakai untuk melihat-lihat saluran TV. Membuka-buka majalah, keluar masuk butik dan membeli banyak saham di perusahaan entertainment.
Bertanya-tanya kepada para sutradara dan produser. Mendanai film yang akan dibuat. Mencari model-model baru baik di dalam maupun luar negeri.
Tetap saja dia merasa ada yang belum pas di setiap apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Ken hanya menceritakan semua apa yang dia rasakan pada Arka dan psikiater pribadinya. Kegelisahan yang dia rasakan. Perasaan yang kurang dalam hatinya.
Hingga bertahun-tahun telah berlalu ....
Flashback Off
"Puas kamu sudah melakukan semua ini?"
"Aku tidak mengerti, apa maksud kamu."
"Cih, masih juga mau menyangkal. Aku sudah mengumpulkan semua bukti. Kamu kan yang menjebak Ken malam itu. Kamu ingin menghaturkan kami semua dengan bersamaan!"
Khea melemparkan foto-foto itu, hingga semuanya bertebaran dan mereka bisa melihat foto apa itu.
Vara memungut foto-foto itu, dan matanya terbelalak.
"Ini ... ini ... Ini tidak benar, ini tidak mungkin."
__ADS_1
"Apanya yang tidak benar dan tidak mungkin? Bukti sudah di depan mata."
Ken dan yang lain juga ikut memunguti foto-foto itu.