
Berita itu tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Ada yang mendukung pernikahan keduanya, tapi ada juga yang mencibir.
Orang-orang yang mencibir itu tentu saja mereka yang tidak suka dengan apa yang pernah Ken lakukan pada Khea, terutama sahabat-sahabat Khea. Bukan berarti sahabat-sahabat Khea itu berharap kalau keduanya menikah, tapi bagi mereka, Ken tidak merubah bahagia. Mereka ingin Ken menderita seperti apa yang pernah Khea rasakan dulu. Mereka berharap pernikahan itu akan gagal lagi, dan untuk selamanya.
Gean melihat sang mommy yang menghela nafas berat berkali-kali dengan mata yang masih menatap layar televisi. Ibu dan anak itu seperti memendam perasaan dan pikiran masing-masing yang tidak ingin diungkapkan pada siapa pun.
Sementara itu, Ken menunda kepulangannya. Dia membeli lahan untuk membuat vila yang ada di dekat pantai dan sudah meminta seseorang untuk mengerjakannya dengan cepat. Bukan hanya di sini saja, dia juga sebelumnya sudah membeli Vios yang ada di daerah Puncak, dengan pemandangan yang menawan. Dia ingin sesekali, saat dirinya berlibur nanti bisa membawa anak dan istrinya ke sana. Ken tersenyum, merasakan kehangatan saat memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Ken sudah tidak sabar untuk kembali. Dia tahu, pasti nanti saat dirinya mengaktifkan kembali ponselnya, akan banyak pesan dan panggilan masuk dari keluarganya juga asistennya, dari Vara dan juga sahabat-sahabatnya. Hanya saja tidak akan ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Khea, ibu anak-anaknya.
Ken sudah memesan cincin pernikahan khusus, dan sepulang dari sini, dia akan langsung mengambilnya di toko perhiasan milik salah satu pengusaha terkenal.
__ADS_1
Pria itu sama sekali tidak tahu tentang berita yang beredar saat ini.
Keluarga Ken juga sudah sangat cemas, Ken tidak ada kabar sama sekali. Arka pun tidak tahu di mana keberadaan bosnya itu. Vara menangis terus-menerus, bertanya pada Rissa, Nio dan Marco, tapi tentu saja mereka bertiga juga tidak ada yang tahu. Marco berpikir mungkin Ken menuruti nasehatnya untuk menyendiri, menenangkan pikiran, tapi bukan berarti dia tahu ke mana perginya sahabatnya itu.
"Apa mungkin Ken sedang bersama perempuan itu?" tanya Rissa. Tentu saja mereka tahu siapa perempuan yang mereka maksud.
"Tidak mungkin."
"Ya kan kita tahu sendiri bagaimana Khea pada Ken. Gean juga terlihat membenci ayahnya itu."
"Ya bisa saja kan itu hanya di depan orang-orang saja. Dia kan munafik."
__ADS_1
"Kenapa sih sampai sekarang kamu itu sangat membenci Khea? Memangnya kamu punya dendam pribadi apa sama Khea? Sebagai sahabat, seharusnya kamu tidak mengompor-ngompori Khea dan Vara, bagaimana pun juga mereka itu kakak beradik, saudara kandung."
"Kamu kenapa sejak dulu selalu membela perempuan itu?" Rissa balik bertanya kepada Nio.
"Aku tidak membela siapa-siapa, tapi aku memang tidak suka apa yang kamu lakukan. Kamu bisa semakin merusak hubungan persaudaraan mereka berdua," jawab Nio.
"Nio benar, Rissa. Seharusnya kita membantu hubungan Vana dan Vara membaik, bukannya selaku menyudutkan Vana."
Rissa menggeram kesal, saat Marco malah ikut-ikutan menyalahkannya.
"Kamu lihat sendiri kan, Vara, sekarang mereka berdua malah membela perempuan itu. Pasti mereka sudah dipengaruhi oleh wajah sok polos perempuan munafik itu."
__ADS_1