
35 JANGAN ADA ORANG ASING
Opa begitu murka, dan dia merasa gagal. Kenapa anak, menantu, dan cucunya begitu bodoh. Kenapa tidak langsung menghubunginya, atau menceritakan semua kepadanya. Mereka malah bersikap semua itu justru hanya karangan saja. Karena dia sedang ke luar negeri bersama istrinya, jadi opa tidak tahu apa-apa dan tidak bisa bertindak.
Rasanya, hanya dengan meninju wajah mereka berkali-kali pun, semua tidak akan menghilangkan rasa marahnya, rasa kecewa yang sudah terlanjur terjadi.
"Apa yang membuat kamu begitu bersemangat bekerja?" tanya opa.
"Tidak ada, Opa. Oya, ada apa Opa ke sini?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin melihat-lihat perusahaan yang sudah lama opa dirikan. Apa mengalami peningkatan, atau justru kemunduran."
"Ayo, kita makan siang bersama," lanjutnya.
Opa bangkit, lalu disusul oleh Ken. Mereka menuju restoran Turki yang jaraknya cukup jauh dari perusahaan.
"Vana? Gean?" sapa opa, tidak menyangka akan bertemu dengan kedua orang yang doa sayangi itu.
Khea dan Gean memang berada di restoran ini, karena Gean yang ingin makan kebab dan makanan Turki lainnya.
Khea menatap opa, pria tua yang sejak dulu begitu baik padanya. Namun rasa amarah Khea pada Ken dan keluarganya, membuat perempuan itu juga ikut marah pada opa dan Oma Ken.
Tapi rasanya tidak adil, kalau aku seperti itu. Bukankah saat itu, opa dan oma juga tidak ada? Tapi bisa saja mereka tahu, tapi juga pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Vara kan calon menantu kesayangan mereka.
Pikiran Khea terus bertentangan.
"Bisa kita makan bersama?"
__ADS_1
Khea menatap Gean. Gean menatap opa, lalu langsung memalingkan wajahnya.
"Terserah Mommy."
Opa tersenyum. Dia bisa melihat sendiri, kalau ibu dan anak ini, meskipun status mereka adalah anak dan orang tua, tapi bisa saling menghargai.
Tidak merasa kalau dirinya adalah ibu, lantas selalu bersikap untuk selalu dituruti tanpa boleh protes apalagi menolak.
Gean pun sama, tidak merasa kalau dirinya anak, lantas bersikap kalau anak itu seharusnya dituruti, disayang, dimanja. Sidah sepantasnya orang tua selalu memperhatikan anaknya.
Mereka seimbang.
Opa menghela nafas. Perjalanan hidup yang berat, pasti sudah membentuk keduanya menjadi seperti ini. Melihat kekompakan dan kedewasaan Gean, membuat opa merasa bangga akan keduanya. Mau bagaimana pun cara Gean hadir ke dunia ini, itu bukan salah anak ini. Opa benar-benar ingin menjadikan Gean sebagai pewarisnya, tapi bukan berarti akan memisahkan Gean dengan Khea. Opa ingin keduanya. Gara-gara anak, menanti dan cucunya, hubungan dia dengan Khea yang dia sayangi sejak kecil, menjadi jauh—bahkan sangat jauh, seperti dua orang yang tidak pernah akrab dan saling mengenal.
"Ayo, opa sudah memesankan tempat."
Mereka memasuki ruangan VIP, yang salah satu dindingnya adalah tembok kaca yang menunjukkan taman.
"Baik, Opa. Semua berjalan dengan lancar."
"Kalau ada kesulitan, beri tahu opa, jangan sungkan."
"Ya. Hm, bagaimana kabar Oma?"
"Kurang baik. Tapi mungkin kalau Oma bertemu dengan kamu dan Gean, Oma bisa kembali sehat."
Khea menoleh, ingin menolak perkataan yang mengandung keinginan dan permohonan itu.
__ADS_1
"Cukup kamu, Gean dan Oma saja. Atau mungkin juga dengan opa. Tidak perlu ada orang asing. Bagaimana?"
Kali ini, Ken yang menoleh.
Orang asing? Siapa yang opa maksud orang asing? Aku?
"Akan Khea pertimbangkan. Khea memang sedang banyak pekerjaan untuk beberapa bulan ke depan. Tidak tahu kapan ada waktu luang."
"Ya, tentu saja. Opa mengerti, dan opa senang mendengarnya."
Pelayan datang membawakan banyak makanan. Semuanya terlihat enak dan menggugah selera.
"Ayo, dimakan."
Gean makan kebab, karena itu yang dia inginkan lebih dulu.
"Gean suka kebab?"
"Dia juga suka makanan Jepang dan Korea."
"Seleranya selalu sama seperti kamu, ya."
Ya, apa pun yang Khea suka, Gean juga menyukainya.
Opa senang bisa bertemu dengan Khea dan Gean saat ini. Sampai-sampai dia lupa, kalau datang ke sini bersama dengan Ken.
Ken yang dicuekin, tidak masalah sama sekali. Dia bisa puas melihat Khea dan Gean. Setelah dari restoran ini, dia bisa semakin bersemangat bekerja.
__ADS_1
Hati Ken selalu menghangat saat bisa melihat ibu dan anak itu.
Kalau ditambah dengan seorang putri yang cantik, pasti akan lebih sempurna.