Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
52 Mengemis


__ADS_3

"Dulu, Vana yang mengejar-ngejar aku. Orang-orang—termasuk kita berdua—mengatakan kalau dia bodoh dan tidak tahu malu, sudah ditolak, tapi masih saja mengemis cinta. Sekarang, kita sendiri kan, yang seperti itu. Aku mengemis padanya, dan kamu yang mengemis padaku. Aku ingin tertawa, tapi juga ingin menangis."


Vana meneteskan air matanya. Entah karena apa dia menangis, apa karena penolakan Ken, atau karena perkataan pria itu yang mengatakan mereka seperti pengemis cinta.


Mengemis pada orang yang dulu mereka anggap pengemis!


Pada akhirnya, Tuhan lah yang membolak-balikkan hati seseorang.


"Tolong jangan membuat aku semakin menjadi pria yang kejam, Vara. Aku bukan laki-laki baik, juga jauh dari kata sempurna. Raihlah kebahagiaan kamu sendiri, tapi bukan bersama aku."


Di lain tempat


Rissa, Nio dan Marco sedang bersama. Rissa tidak sengaja bertemu dengan mereka berdua di mall dan saat ini sedang berada di tempat makan.


"Aku harap, Vara dan Ken dapat kembali bersama," ucap Rissa.


"Aku rasa tidak, Ken akan memilih Khea," sahut Marco.


"Ck, kita bertiga ini kan sahabat mereka berdua. Sudah seharusnya kita mendukung dan mendoakan mereka, agar mereka dapat kembali bersama. Kasihan Vara, dong. Sudah bertahun-tahun menunggu dan setia, tapi malah dicampakkan. Mana ada lagi, coba, perempuan seperti Vara."


"Itu definisi menjaga jodoh orang," ucap Marco.

__ADS_1


"Itu definisi bukan jodoh. Mau dipaksa seperti apa pun, kalau bukan jodoh, ya tidak akan bersama. Lagipula, lebih baik sakit hati sekarang, daripada sudah menikah lalu bercerai," komentar Nio.


Rissa berdecak kesal, karena merasa tidak ada yang mendukungnya.


"Kalian para lelaki, bisanya hanya menyakiti perempuan dan memberikan harapan palsu."


"Lah, kenapa malah kami ikut disalahkan?"


"Gimana kalau hal ini terjadi pada saudara perempuan kalian?"


"Tenang saja, kami tidak punya saudara perempuan," jawab Marco dengan enteng.


"Ish, kalau ini terjadi pada anak perempuan kalian, bagaimana?"


"Aku percaya dengan kalimat, 'Apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai.' Jadi, jadikan ini pelajaran untuk kita semua," jawab Nio.


"Lagipula, kenapa kamu sangat mendukung Ken dan Vara?"


"Kenapa tanya? Tentu saja karena Vara adalah sahabatku. Vara selalu bersikap baik padaku, aku menyayangi dia seperti saudara sendiri."


"Vana juga adik Vara, berarti kamu harus menyayangi dia seperti adik sendiri."

__ADS_1


"Dih, amit-amit."


"Kenapa benci banget sama Vana?"


"Sebenarnya bukan benci, tapi memang kurang suka, karena sifatnya. Aku paling malas sama perempuan manja dan egois."


"Vana itu enggak manja. Dia mandiri dan ...."


"Dulu, dia sangat manja. Suka banget ganggu hubungan Ken dan Vara. Aku membayangkan bagaimana jadinya kalau aku yang menjadi Vara, pasti setiap hari akan makan hati. Vana juga bicara suka kasar."


Nio menghela nafas berat. Dari dulu memang Rissa yang ada di posisi paling depan untuk membela Vara bersama Ken, setelah itu Marco. Tapi Marco yang sekarang, sudah berubah. Marco akan mendukung Ken dan Vana, mungkin juga karena ada Ara.


"Ya sudah, yuk."


Mereka meninggalkan tempat makan itu. Rissa yang berada di tengah-tengah Nio dan Marco, menggandeng lengan kedua pria itu. Marco langsung melepaskan rangkulan Ara, begitu juga dengan Nio.


"Kalian kenapa, sih?"


"Bisa gawat kalau Ara melihat ini, atau ada yang melaporkan padanya. Aku belum balikan sama dia, jangan malah nambah masalah," jawab Marco.


"Kalau aku gak perlu menjelaskan apa-apa, kan? Jangan sampai nanti ada berita kalau aku diciduk bersama dengan seorang perempuan. Aku paling gak suka masuk berita karena gosip, bukan karena prestasi."

__ADS_1


"Halah, kalian berdua ribet. Mendingan kamu nyari perempuan lain aja, Co, daripada sama perempuan judes itu! Dan kamu Nio, dulu kan kamu juga sering digosipkan dengan tuh perempuan, jadi gak usah lebay!"


Nio diam saja. Dia memang beberapa kali digosipkan memiliki hubungan khusus dengan Khea.


__ADS_2