Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
71 Biarkan Dia Pergi


__ADS_3

Vara yang merasa memiliki teman curhat perempuan yang menyenangkan seperti Rissa, selalu menceritakan apa saja pada gadis itu, tidak ada yang tidak dia ceritakan, membuat hubungan keduanya semakin akrab. Bahkan Rissa sering memberikan masukan kepada Vara. Hubungan mereka berdua terlihat lebih seperti saudara kandung, daripada hubungan Vara dan Vana.


Bagi Vara, Rissa adalah anak yang mandiri dan cukup sederhana. Meskipun keluarganya ada di luar negeri, tapi dia tidak pernah berkeluh-kesah.


"Kamu pindah ke apartemen?"


"Iya, biar lebih tenang buat belajar dan istirahat."


💕💕💕


"Kenapa, sih, Vana suka sekali memakai baju seksi? Nanti orang-orang bisa berpikiran buruk tentang dia. Biasa-biasa para pria menganggap dia perempuan panggilan."


Ken yang mendengar itu, mengepalkan tangannya. Entah kenapa dia sangat tidak suka mendengar perkataan Rissa.


"Maaf ya, Var, kalau aku mengatakan ini tentang adik kamu. Aku juga punya adik perempuan, soalnya. Coba kamu nasihati Vana, agar jangan terlalu dekat dengan pria-pria, jangan sampai nanti dia hamil di luar nikah."

__ADS_1


Wajah Rissa terlihat sungguh-sungguh dan cemas, seolah Vana adalah adiknya sendiri.


"Kenapa kamu bicara begitu?" tanya Ken.


"Aku lumayan sering melihat Vana jalan dengan beberapa pria yang berbeda-beda. Ya jangan sampai, dia terjebak pergaulan bebas. Vana itu kan cantik, dan anak keluarga terpandang. Apalagi di usianya yang masih belasan tahun, dia sudah biasa memakai baju seksi dan memang terlihat seksi, sih. Aku saja yang perempuan agak gimana gitu, kalau melihatnya. Jangan sampai nanti dia menjadi objek fantasi liar para pria, atau dimanfaatkan oleh mereka. Jangan sampai nanti Vana menjadi aib keluarga!"


Vara yang mendengarnya, menjadi tidak suka, begitu juga dengan Ken. Apalagi Rissa tidak hanya asal bicara, tapi memang memberikan bukti berupa foto-foto Vana dengan para pria yang berbeda.


"Itu Vana, kan?" tunjuk Rissa.


Kebetulan sekali, saat sedang membicarakan gadis itu, Vana terlihat bersama dengan seorang pria.


"Vana jalan sama om-om?" tanya Marco.


Vara akhirnya mengadukan apa yang dia lihat pada kedua orang tuanya. Vana yang merasa tidak bersalah, karena dia hanya jalan bersama temannya, merasa merah pada Vara, karena telah menjelek-jelekkan dirinya di depan kedua orang tua mereka dan Ken.

__ADS_1


"Hanya teman."


"Teman kok mesra, merangkul begitu. Mana sudah om-om."


"Dia bukan om-om, tapi memang lebih tua dari aku. Makanya, bergaul tuh sama banyak orang, biar wawasannya luas. Percuma pintar tapi tidak punya koneksi. Kutu buku tapi gak punya pengalaman apa-apa!"


💕💕💕


Setelah acara tunangan Ken dan Vara yang kacau ....


"Biarkan saja dia pergi!" ucap papanya Vana, setelah acara selesai.


Pria tua itu melonggarkan dasinya, merasa sesak dengan nafas yang cepat.


"Biarkan dia pergi. Kalau kita mencarinya, nanti dia jadi besar kepala. Toh kalau dia butuh uang, dia juga akan pulang ke rumah. Biarkan dia merenungi apa yang telah dia lakukan. Membuat malu kita saja. Bayangan bagaimana kalau mereka orang lain, bisa-bisa kita dituntut karena telah mencemarkan nama baik Ken dan keluarganya!"

__ADS_1


"Tapi, Pa, bagaimana kalau Vana nanti makan dan minum?"


"Justru itu, justru karena dia selama ini selalu terpenuhi semua kebutuhannya, dia pasti tidak akan lama pergi dari rumah."


__ADS_2