
"Apa kamu mau menjadi bintang tamu di acara yang om buat?" tanya seorang pria. Dia adalah produser sebuah acara di salah satu stasiun TV.
"Tidak," jawab Gean singkat.
Pria itu tidak menyerah, dia sangat ingin Gean muncul di acaranya. Dia sangat yakin dengan kehadiran Gean, acaranya akan mendapatkan rating yang tinggi.
"Nona, tolong jadilah bintang tamu di acara saya."
Khea menghela nafas berat.
"Begini saja, berikan saya waktu untuk memikirkannya. Saya hanya ingin kenyamanan untuk anak saya."
"Tentu saja. Saya akan menunggu kabar baik dari Anda."
...🍁🍁🍁...
Ken mematut dirinya di depan cermin. Hari ini dia akan kembali menemui Khea dan Gean. Sidah bebe hari ini dia berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar mempunyai waktu luang untuk bertemu dengan keduanya.
Dia segera keluar dari kamarnya, dan di ruang tamu, ada Vara yang sedang duduk sambil memainkan ponsel.
"Kamu mau ke mana, Ken?"
__ADS_1
"Aku ada urusan penting. Aku pergi dulu ya."
Tanpa bicara lebih banyak lagi, Ken langsung meninggalkan Vara. Hati Vara gelisah. Entah kenapa sekarang dia merasa kalau Ken sedikit berbeda. Hanya pekerjaan saja yang mereka bicarakan. Saat Vara bertanya pada Ken, Ken hanya akan menjawab singkat tanpa ada niat untuk memulai pembicaraan lainnya.
Ken mengemudikan mobilnya dengan pera berdebar. Entah kenapa dia takut ditolak. Dia tahu kalau Khea sangat keras. Di tengah jalan, dia melihat toko yang menjual banyak bunga. Dia memberhentikan direksi, lalu masuk ke dalam toko itu.
"Mau membeli bunga apa, Tuan?"
Ken bingung, bunga apa yang Khea sukai? Atau bunga apa yang cocok untuk Khea.
"Saya juga bingung, bunga apa yang cocok untuknya."
"Kalau boleh tahu, untuk siapa bunga itu Anda berikan?"
"Oh, istri Anda."
Deg
Istri?
Khea memang ibu dari anaknya, tapi bukan istrinya. Andai saja dulu dia mengingat apa yang dia lakukan, apakah dia akan menikahi Khea, atau tetap memilih Vara?
__ADS_1
Sekarang Ken dilanda dilema. Apa yang harus dia lakukan? Namun yang dia tahu, saat ini yang paling utama dia harus lakukan adalah bertemu dengan Khea dan Gean. Mengatakan pada Gean kalau dia adalah daddy-nya.
Urusan Khea dan Vara, nanti saja belakang. Dia sadar, pasti akan ada yang tersakiti, lagi!
"Bagaimana kalau bunga mawar putih saja?" tawar pelayan toko menyadarkan lamunan Ken.
"Ya, yang itu saja."
Seikat mawar putih yang terlihat indah dan sangat segar sudah ada di genggaman tangan Ken. Ken menghirup bunga itu, dan tersenyum.
Dia melajukan mobilnya lagi, dan lagi-lagi dia berhenti di depan toko mainan. Dengan semangat dia masuk ke toko itu. Memilih beberapa mainan untuk anak laki-laki.
"Gean suka mainan apa, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ah, anak laki-laki pasti suka mobil-mobilan."
Tapi bukan hanya mobil-mobilan saja yang dia beli. Ken juga membeli motor-motoran, pesawat, kapal, bola, dan robot. Membeli semua ini, ternyata bisa membuat dia senang. Tidak tahu sudah berapa lama dia menghabiskan waktu di sana.
Apa aku juga harus membelikan Gean baju dan sepatu? Tapi ini sudah cukup siang. Besok saja aku ke mall.
Ken terus saja mengukir senyum. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Gean.
__ADS_1
Gean, daddy datang.