
"Gean, apa Gean ingin memiliki Daddy seperti anak-anak lainnya?"
"Tidak, Gean hanya butuh mommy saja." Khea menatap Gean dengan tatapan lembut.
"Gean, jangan menyimpan perasaan kamu sendiri, ada mommy yang akan selalu mendengarkan keluh kesah Gean. Kalau Gean menginginkan sesuatu, apa pun itu, katakan langsung pada mommy. Mommy akan berusaha memberikan pada Gean, sesulit apa pun itu, katakan pada mommy."
Gean hanya menatap mata Khea. Bibirnya masih tertutup rapat, mungkin dalam hatinya, ingin meminta ini itu, tapi takut memberatkan Khea.
"Dengar, mommy ini mommy Gean. Semua yang ada pada Gean adalah tanggung jawab mommy. Kebahagiaan Gean, kesedihan Gean, apa pun yang terjadi pada Gean dan apa pun yang Gean rasakan, mommy juga akan merasakannya. Mommy tidak mau Gean bersedih, sama seperti Gean yang tidak mau melihat mommy bersedih, kan? Apa pun yang mommy rasakan, Gean akan ikut merasakan. begitu juga sebaliknya. Benar begitu?
"Iya."
"Kenapa begitu?"
"Karena kita satu paket, Mom."
__ADS_1
"Betul, karena kita satu paket. Seperti sepasang tangan yang saling membantu, sepasang kaki yang sama-sama mengalah, sepasang mata yang sama-sama melihat dan sepasang telinga yang sama-sama mendengar. Jika yang satu terluka, maka yang lain juga akan bersedih."
"Mommy tidak mau Gean bersedih. Gean, mommy sangat sayang pada Gean."
Khea memeluk tubuh kecil Gean. Mengusap punggung anak itu. Khea tahu dan sangat sadar, dia memang belum bisa memberikan semua yang terbaik untuk anak itu. Bukan hanya materi yang anak itu butuhkan, tapi juga kasih sayang dari kedua orang tua yang lengkap.
Gean memejamkan matanya, dia teringat perkataan sang mommy yang ingin dirinya mengatakan apa pun yang dia rasakan.
Ibu dan anak itu sama-sama menjaga perasaan masing-masing.
Gean pun tahu, kalau sebenarnya Khea sedang memancing dirinya untuk mengatakan, "Aku ingin memiliki Daddy."
Ibu dan anak itu memang benar-benar satu paket. Hidup berdua saja selama bertahun-tahun, membuat mereka lebih peka satu sama lain. Bisa saling memahami meski mulut terkunci rapat.
Mengandung selama sembilan bulan dengan keadaan memprihatinkan, membesarkan dengan keadaan sulit ekonomi dan hinaan, membuat Khea tentu saja lebih peka.
__ADS_1
Tapi orang-orang, seperti yang dia tahu, masih saja menganggap dia egois. Memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya. Dia Sidah tidak lagi berniat merebut Ken dari Vara. Biarlah pria itu untuk Vara.
Kalau orang-orang menganggap dia barang bekas karena kejadian dulu, bukankah pria itu juga barang bekas?
Seorang korban dan seorang pelaku, apa bisa disatukan?
Khea ingin memulai hidup baru, tapi mereka yang selalu mengungkit masa lalunya. Setiap kali melihat Gean, selalu melihat dengan tatapan iba, dan itu tentu saja membuat Khea tidak suka. Haruskah anaknya dikasihani dengan cara seperti itu?
Iba tapi meledek.
Khea membuka salah satu ponselnya, yang banyak pesan masuk untuk ajakan makan bersama.
Di lain tempat
Ken sedang mendirikan tenda. Dia sudah tiba di tempat tujuan. Berkemah seorang diri. Memang tidak hanya doa sendiri saja yang ada di sini, karena masih banyak para pendaki lainnya. Udara pegunungan dia hirup dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan.
__ADS_1