Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
56 Mengikat Tangan Dan Kaki


__ADS_3

Berhari-hari keadaan Vana semakin memburuk. Perempuan hamil itu sering menyakiti dirinya sendiri.


Vana mengalami depresi, dan hal itu membahayakan dirinya sendiri juga anak yang ada dalam kandungannya. Berkali-kali perempuan muda itu mencoba bunuh diri, tapi untungnya selalu berhasil dicegah dan diselamatkan.


"Aku akan membawa dia ke luar negeri. Vana sebaiknya dirawat di sana saja, dengan suasana baru dan ada di tempat yang orang-orang tidak ada yang mengenalnya," ucap Yuri.


"Ke luar negeri?" tanya Bunda.


"Iya, Bun. Kami akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Mungkin dengan suasana baru, Vana bisa cepat sembuh dan memulai hidupnya yang baru."


"Baiklah kalau begitu. Bunda sebenarnya mau ikut, tapi ...."


"Kami mengerti, Bunda memiliki tanggung jawab yang besar juga di sini."


Dua hari kemudian, sahabat-sahabat Vana pergi ke luar negeri membawa perempuan itu, menggunakan jet pribadi milik salah satu sahabat Vana yang memang dari keluarga kaya raya.


Vana tiba di Amsterdam.

__ADS_1


Perempuan itu tinggal bersama dengan sahabat-sahabatnya di salah satu rumah. Mereka tinggal bersama. Tadinya ingin tinggal di apartemen, tapi setelah dipertimbangkan baik-baik, mereka memutuskan untuk tinggal dalam satu rumah bersama, agar bisa saling menjaga.


"Awas kalau ada pengkhianatan. Jangan terlibat cinta segitiga atau saling menyakiti!" ucap Yuri.


Hari berlalu, keadaan Vana masih sama buruknya. Perempuan itu kadang menyayat tangannya dengan jarum. Mencoba mencari dari lantai dua, atau mencoba meminum cairan pembersih lantai.


Tidak ada cara lain, mereka harus membawa Vana ke psikiater.


"Sebaiknya dia di rawat di rumah sakit jiwa saja. Keadaannya begitu mengkhawatirkan, tidak baik untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, terutama anak dalam kandungannya."


Vana yang antara sadar dan tidak, mendengar kata-kata anak dalam kandungan, mulai bereaksi.


Dokter yang memeriksa psikis Vana, mengatakan kalau perempuan itu mengalami dua pergolakan batin. Satu sisinya ingin mempertahankan hidup. Entah hidupnya atau hidup anak yang ada dalam kandungannya. Satu sisinya lagi ingin mengakhiri hidupnya.


Ketakutan karena hamil tanpa suami, dibuang keluarga, dihina orang-orang. Ada rasa takut tidak bisa menjadi ibu yang baik. Takut bagaimana hidup anaknya nanti yang sudah pasti tidak akan memiliki ayah.


Agar tidak lagi menyakiti diri sendiri dan mencoba bunuh diri, perempuan itu harus diikat tangan dan kakinya.

__ADS_1


"Vana ...." Sahabat mereka hanya bisa menangis melihat keadaan perempuan itu. Mereka mencoba mencari dokter yang terbaik.


"Jangan sampai ada yang tahu kondisi dia saat ini. Ini akan semakin menghancurkan masa depannya."


"Jadi, apa kita harus membawa dia ke rumah sakit jiwa?"


"Apa tidak bisa dirawat di sini saja?"


Mereka berembuk untuk memberikan yang terbaik pada sahabat mereka.


Hingga akhirnya, didatangkan salah satu dokter dan perawat untuk membantu dalam perawatan Vana. Sepasang suami istri yang memiliki anak laki-laki yang juga menuruni jejak mereka sebagai seorang dokter.


Mereka melihat keseharian Vana dari layar CCTV.


"Kondisi janinnya baik-baik saja, kan?"


"Kita harus membawa dia ke rumah sakit untuk melakukan USG. Dia juga membutuhkan udara segar dan sinar matahari."

__ADS_1


"Apa akan aman untuk membawa dia ke luar?"


__ADS_2