Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
48 Logika dan Akal Sehat


__ADS_3

Selama satu minggu, Khea masih dirawat di rumah sakit, dan belum juga ada tanda-tanda bisa pulang, meski keadaannya mulai membaik. Dan selama itu juga, Ken tidak pernah tidak menginap di rumah sakit.


Meskipun selalu di rumah sakit, tapi Ken tidak pernah abai terhadap pekerjaannya. Semua dia lakukan di rumah sakit, dan justru bisa lebih cepat selesai dari biasanya.


Sungguh, berada di dekat Khea dan Gean benar-benar memberikan energi positif untuk dirinya. Dia menjadi lebih bersemangat. Lebih memiliki banyak terobosan baru untuk perusahaan dalam waktu singkat, dan semangat untuk merealisasikan semua rencana itu.


Ken juga berencana membuka galeri lukisan untuk Gean. Bukan sekedar rencana, tapi Ken benar-benar akan mewujudkan semua itu. Dia sudah menyuruh Arka membeli tempat yang bagus untuk membuat galeri. Dilihat dari hasil lukisan Gean dan karakter ibu dan anak itu, Ken tahu bagaimana selera keduanya, dan meminta arsitek dan design interior untuk membuat semuanya lebih berkelas.


...💕💕💕...


Hari ini Khea sudah diijinkan pulang, tapi belum bisa melakukan aktivitas, terutama yang berat-berat. Kepulangan dirinya dijemput oleh semua anggota keluarganya. Mereka ingin mengajak Khea pulang ke rumah, tapi tentu saja perempuan beranak satu itu tidak mau.

__ADS_1


Mereka juga haru tahu, kalau Ken menjadi tetangga Khea, dan semakin membuat Vara sakit hati. Padahal semua itu memang terjadi secara tidak sengaja, bukan direncanakan.


"Khea, kalau kamu tidak mau pulang ke rumah, tidak apa-apa. Tapi ijinkan kami sering-sering datang ke sini."


Khea diam saja. Di satu sisi, dia ingin menolak, tapi di sisi lain, dia ingin membiarkan. Membaurkan merasa datang tapi memperlakukan seperti orang asing.


"Tidak perlu, aku masih bisa menjaga diri sendiri. Kesakitan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kesakitanku yang lalu, yang menorehkan luka mendalam di hatiku ku, bahkan rasanya masih ada hingga saat ini."


Memang benar apa kata orang, luka yang diberi akan meninggalkan bekas. Itu menjadi koreng di hati Khea sampai kapan pun.


Khea masuk ke kamarnya dengan menggunakan kursi roda. Bukan karena dia tidak bisa berjalan, tapi karena kakinya masih terasa ngilu. Kecelakaan itu benar-benar membuat para korbannya mengalami luka berat dan nyaris tewas.

__ADS_1


Untung saja pihak perusahaan yang telah bekerja sama dengan Khea yang menjadi modelnya, bisa mengerti dan akan mengatur jadwal ulang. Bisa saja mereka membatalkan dan menggunakan model lain, tapi memang mereka sendiri yang sangat menginginkan dan kekeuh mempertahankan Khea.


Mereka menatap nanar pintu kamar Khea. Gean lun masuk ke dalam kamarnya, mengambil alat lukisnya dan mulai menorehkan cat.


"Jangan mengemis perhatian padanya," ucap Vara. Dia merasa kesal dengan sikap Khea. Menganggap kalau adiknya itu terlalu sombong dan masih saja egois.


Apa dia pikir, dirinya sangat diharapkan jadi sok jual mahal? Dia pasti sangat senang dan bangga diperlakukan seperti ini. Dikejar-kejar dan dimohon-mohon untuk bersama mereka.


Vara menghela nafas berat, mencoba menenangkan diri sendiri. Dia lalu menatap Ken, yang sepertinya sudah terbiasa dengan tempat tinggal Khea.


Apa diam-diam mereka main belakang?

__ADS_1


Pikiran buruk terus saja berdatangan, membuat hati semakin panas dan emosi, tidak memikirkan logika dan mengalahkan akal sehat.


__ADS_2