Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
96 Pebinor


__ADS_3

"Mungkin kalian berpikir, aku sedang menjalankan muslihat agar bisa bersama pria ini. Terserah apa tanggapan kalian. Toh kalau dia mau menikah dengan perempuan lain, aku tidak peduli."


Bukan Ken yang menjadi prioritasnya lagi, tapi Gean. Khea sering kali berpikir, apa yang akan dia lakukan dan rasakan kalau menjadi Gean?


Dan inilah jawabannya.


Mungkin mereka sehati ....


Pada dasarnya, tidak ada satu orang anak Lin, apalagi di saat masih kecil, yang menginginkan saudara dari salah satu orang tua yang berbeda. Memiliki saudara kandung yang kedua orang tuanya sama saja, serong kali dibanding-bandingkan dan dibeda-bedakan, seperti yang pernah dia alami.


Cukup dia saja yang merasakan seperti itu, anaknya jangan.


Hubungan Khea dengan kedua orang tuanya dan Vara, telah mengajarkan Khea banyak hal. Apalagi, Gean adalah anak dari hasil di luar pernikahan. Anaknya nanti akan diremehkan oleh anak Ken dari perempuan lain.


Lagi-lagi trauma masa lalu, membuat Khea seperti ini.


Diremehkan oleh kedua orang tua dan saudara kandung.


Gean, mommy melakukan ini demi Gean. Bukan karena ingin menguasai harta itu atau ingin bersama dengannya.


Sikap keras kepala dan egois itu tidak pernah hilang, dan mereka semakin membuat Khea seperti ini.


Anak haram, akan tetap dikenal sebagai anak haram. Sebagai perempuan yang melahirkan Gean, tentu saja Khea merasakan rasa sakit itu.


Demi Gean ....

__ADS_1


Bahkan, Mommy tidak akan menikah dengan pria lain.


Khea pun tidak mau, nantinya pria yang menikah dengan dirinya tidak bisa menerima Gean. Saat nanti mereka memiliki anak, Khea takut suaminya akan pilih kasih. Antara anak kandung dengan anak tiri, siapa yang akan dipilih?


Khea tidak munafik, karena dia pun akan tetap dan lebih menyayangi anak kandung. Khea hanya bersikap realistis. Jarang sekali orang yang bisa menerima anak tiri seperti anak kandung sendiri.


"Bagaimana?" tanya Khea.


Mereka menawarkan, jadi apa salahnya Khea memanfaatkan keinginan opa Ronald?


"Biarkan kami memikirkan semuanya. Beri kami waktu," ucap papa Ken.


"Lima menit dari sekarang. Aku tidak punya banyak waktu."


"Kalau tidak mau, ya sudah."


Mama Ken mencoba nego.


"Tanda tangan, Ken!" ucap opa Ronald.


"Aku mau surat perjanjian ini, disahkan secara hukum dengan banyak saksi," ucap Khea.


"Ken, tanda tangan!" perintah Ronald.


"Ken, pikirkan masa depan kamu!" ucap mamanya.

__ADS_1


Ken menghela nafas. Ken tidak peduli dengan warisan itu, karena memang pada akhirnya, akan dia berikan semuanya pada Gean, dan adik-adiknya saat nanti dia berhasil menikahi Khea.


Tapi di sini, tidak ada jaminan Khea pun tidak akan menikah dengan pria lain, tanpa Ken tahu apa yang ada dalam pikiran Khea.


Gean menatap tangan Ken yang masih menggantung memegang pena. Pikiran anak itu berkecamuk. Dia lalu memalingkan wajahnya saat Ken tidak juga menandai tanganinya.


"Mom, ayo kita pulang saja!"


"Oke."


"Tunggu, aku akan menandatangani perjanjian ini."


Tidak perlu cemas, pikir Ken. Toh dia tidak dilarang untuk menjauh dari Gean, kan? Khea juga belum menikah dengan siapa pun. Meskipun begitu, dia siap menjadi pebinor.


"Ini berarti, semua kebutuhan Gean aku yang akan menanggungnya, jangan dilarang!" ucap Ken cepat.


"Legalkan secara hukum!"


Perjanjian ini masih berupa coretan saja, karena persyaratan dadakan yang Khea ajukan. Nantinya, pengacara akan menyiapkan dengan diketik rapih dan bermaterai.


Lagi, Gean menatap surat perjanjian yang masih ditulis tangan itu. Khea lalu menyimpan salinan kasar itu ke dalam tasnya. Jangan sampai nanti dia dikibulin.


Ken tidak akan mencegah Khea bermain licik seperti ini, toh ini juga demi Gean, dan Ken sadar, sangat sadar itu.


Masih ada banyak cara untuk menjadikan mereka berdua milik Ken sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2