Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
104 Teman Sekelas Gean


__ADS_3

Hari ini Khea mengantar Gean ke sekolahnya lebih pagi. Dia ingin berbicara dengan guru Gean tentang keseharian anak itu selama berada di sekolah. Memang Gean baru mulai sekolah beberapa hari, tapi justru ini sangat penting. Jika di awal sekolah saja Gean sudah merasa tidak nyaman, dia khawatir selanjutnya anak itu akan semakin merasa tertekan.


Khea langsung menggandeng tangan Gean begitu mereka turun dari mobil. Ibu-ibu dari para murid melihat kehadiran Khea, dan langsung membicarakannya.


Khea yang mendengar cibiran-cibiran itu mengepalkan tangannya, dia merasa sakit hati. Tidak masalah kalau dia yang dihina dan direndahkan, tapi jangan anaknya.


Khea memandang sinis kumpulan ibu-ibu itu. Kalau saja di sini tidak ada Gean, pasti dia sudah membalas perkataan mereka.


Cih, mentang-mentang punya suami, bicara seenaknya tentang anak orang. Nanti kalau suami mereka selingkuh, baru tahu rasa!


"Gean masuk kelas dulu, ya. Mommy mau bicara dengan ibu guru sebelum kelas dimulai."


"Iya, Mom."


Gean duduk di salah satu bangku. Matanya melirik tiga anak yang juga memisahkan diri dengan yang lain.


"Chiro."


"Apa, Rain?"


"Aku mau lihat bekal apa yang kamu bawa."

__ADS_1


Anak yang bernama Chiro itu langsung membuka bekal makan miliknya.


"Radhi, lihat bekal Chiro. Kenapa bentuknya lucu seperti itu?"


Gean masih memperhatikan ketiga anak itu, yang menjadi teman sekelas dia.


Merasa diperhatikan, Chiro langsung menoleh pada Gean, dan anak itu memalingkan wajahnya.


Di ruang guru


"Bagaimana dengan Gean selama di kelas, Bu?"


Khea menghela nafas, sudah dia duga, dan tentu saja Khea tidak lagi kaget mendengar semua ini.


"Secara akademik, Gean sangat mudah mengikuti pelajaran. Bisa langsung dilihat kalau dia salah satu murid yang berprestasi selain ketiga teman sekelasnya. Anak itu juga punya bakat di bidang seni, pasti mengikuti jejak mamanya, ya." Khea tersenyum mendengarnya.


"Saya akan pelan-pelan mendekati anak itu, siapa tahu saja kalau kami sudah dekat sebagai seorang teman, dia mau lebih terbuka." Khea setuju dengan perkataan guru Gean. Anaknya itu memang tidak mudah dekat dengan siapa pun, apalagi terbuka.


Dengan dia saja sebagai ibu kandungnya, Gean tidak mau mengungkapkan semua isi hatinya karena khawatir Khea akan merasa terbebani. Sungguh anaknya itu, meskipun masih kecil, tapi sangat peduli dan perhatian.


Khea benar-benar bersyukur, dan merasa bangga.

__ADS_1


Setelah selesai bicara dengan guru Gean, Khea tidak langsung pulang. Dia menunggu di taman sekolah sampai jam istirahat dimulai. Tiba saatnya jam istirahat, murid-murid ke kaur kelas setelah sebelumnya memakan bekal mereka.


Bruk


Khea melihat seorang anak yang menyenggol Gean hingga anaknya itu terjatuh.


"Kami tidak apa-apa?" Seorang anak perempuan membantu Gean berdiri dan di sebelahnya ada dua anak laki-laki.


"Kamu tidak apa?" tanya salah satu anak laki-laki itu.


"Chiro, kakinya berdarah."


"Ayo kita ke ruang kesehatan."


Gean tidak menjawab apa-apa, dan langsung pergi meninggalkan ketiganya. Melihat itu Khea kembali menghela nafas.


"Ayo Radhi, Raine!" ajak anak yang bernama Chiro itu.


Gean duduk di bangku taman, sedangkan Radhi, Raine, dan Chiro duduk di ayunan.


Melihat ketiga anak itu, Khea jadi teringat masa kecilnya. Dulu dia, Vara dan Ken juga suka bermain ayunan.

__ADS_1


__ADS_2