
Mereka menatap Rissa dengan geram, bahkan rasanya ingin mencekik perempuan muda itu.
"Kenapa aku? Memang perempuan gila ini kan, yang tidak bisa menjaga anaknya."
"Pergi dari sini!" Ara dan Jessica mendorong Rissa.
"Jangan kasar seperti itu," ucap Vara.
"Vara, kamu juga pergi dari sini!" perintah Ken.
"Ken, kenapa kamu juga mengusir aku? Aku juga berhak ada di sini. Vana adik aku, dan Gean keponakan aku. Aku akan tetap berada di sini."
"Kalau begitu, tutup mulut kamu, dan suruh Rissa pergi dari sini."
Vara menoleh pada Rissa. Dia bimbang. Di satu sisi, dia juga ingin tetap berada di sini. Di sisi lain, ada Rissa—sahabatnya—yang selama ini selalu mendukung dan membela dia. Di saat orang-orang meninggalkan dia, hanya Rissa yang tetap ada bersamanya.
Jadi, sekarang apa yang harus Vara lakukan?
"Rissa, kamu pergi dulu, ya. Nanti aku ke tempat kamu. Keadaan sedang kacau saat ini, aku tidak mau kamu jadi disalahkan meski aku tahu niat kamu baik."
Rissa akhirnya pergi, dengan disertai tatapan benci dari teman-teman Khea.
"Kenapa perempuan itu ada di sini, sih? Kamu lihat sendiri, kan! Selalu dia yang cari gara-gara!"
"Sabar, Ara."
"Sabar, sabar! Dasar perempuan gak laku. Dia yang enggak laku, malah iri sama Khea. Kelakuan kaya begitu, mana ada pria yang mau sama dia."
"Apa? Masih mau membela dia? Coba aku mau tanya sama kalian, kalian kenal gak, pacarnya siapa? Atau pernah bertemu, tidak, dengan pria yang dia suka? Enggak, kan? Emang enggak laku, tuh cewek."
Khea tidak peduli apa yang mereka ributkan saat ini. Yang ada dalam pikirannya, hanya Gean.
Khea menggigit kukunya, bahkan hingga ujung jarinya berdarah.
"Khea, jangan seperti ini," ucap Austin—sahabat Khea—dengan lembut.
Ken merasa cemburu, tapi ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Jangan sampai malah dia sendiri nanti yang diusir dari sini.
__ADS_1
"Maafkan kami, ini kesalahan kami," ucap seseorang pria.
Mereka baru sadar kalau di sana ada seorang pria, seorang perempuan, dan anak laki-laki. Mungkin sepasang suami istri itu usianya tidak jauh berbeda dari Ken dan Vara.
Siapa mereka? Untuk apa mereka di sini. Rasanya tidak nyaman juga ada orang lain yang melihat secara langsung perdebatan itu. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur, dan tadi mereka terlalu panik untuk memperhatikan sekitar.
"Apa maksudnya?"
Pria itu lalu menceritakan kronologis kejadian.
"Jadi tabrak lari? Sialan, aku akan mencari penabrak itu."
"Khea, obati dulu luka kamu."
Mereka juga meringis melihat Khea yang luka-luka tapi belum diobati. Luka itu juga tidak ringan, tapi Khea tidak peduli. Apa pentingnya rasa sakit jika dibandingkan dengan Gean?
Gean pasti merasa lebih sakit lagi, pikir Khea.
"Gean, Gean, aku mau Gean."
"Iya, nanti ketemu Gean."
"Jangan ambil Gean. Gean, maafkan mommy. Maafkan mommy!"
Austin membekap tubuh Khea dengan erat.
"Jangan menyentuhnya!" ucap Ken, berusaha menjauhkan Austin dari Khea.
"Minggir!" Kini Austin yang mendorong Ken.
Khea masih saja memberontak, dan ditenangkan oleh sahabat-sahabatnya.
"Gean!"
"Gean baik-baik saja, Khea."
Deo dan Jessica membantu Austin untuk menenangkan perempuan itu. Austin menggendong Khea dan segera membawanya pergi.
__ADS_1
"Mau kamu bawa ke mana Khea?" tanya Ken.
"Minggir."
Ara ingin ikut, tapi langsung dicegah oleh Jessica.
"Ara, kamu tunggu saja di sini."
Ara akhirnya mengangguk saja. Ken ingin mengikuti, tapi ditahan oleh Ara.
"Biarkan saja mereka. Mereka sahabat Khea."
"Mereka bisa saja melakukan sesuatu pada Khea."
"Kalau itu kalian, baru aku khawatir membiarkan Khea dibawa. Mereka jauh lebih baik dari kalian."
Inilah kenapa tidak boleh mempertemukan Rissa dengan Ara. Mulut mereka sama-sama tajam. Tapi ... Khea lebih tajam lagi, sebenarnya.
Dokter lalu keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana, Dok?"
"Pasien sedang kritis, kami akan memindahkan dia ke ruang ICU."
Mereka menangis mendengar perkataan dokter. Bagaimana bisa anak sekecil itu merasakan semua ini. Harus kritis dan dirawat di ruang ICU. Bukan hanya ruang operasi, ruang ICU juga sama horornya bagi sebagian orang yang menanti antara hidup dan mati.
Ken terhuyung.
Dia belum mendapatkan maaf dari Gean dan Khea.
Belum mendapatkan kasih sayang dari anaknya.
Belum menjadi Daddy yang baik.
Belum diakui ....
Tapi kenapa ini yang terjadi?
__ADS_1
Seolah takdir tidak mendukungnya.