
Siang ini Nio mendatangi Khea di butik miliknya. Dia ingin memesan jas yang akan dia gunakan dua minggu lagi.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Saya ingin bertemu dengan Khea."
"Apa Anda sudah membuat janji?"
"Beberapa hari yang lalu saya sudah mengatakan ingin bertemu dengannya, Taki dia tidak tahu kalau saya akan datang sekarang."
"Tolong tunggu sebentar, Tuan."
Pegawai Khea itu sangat senang bisa melihat Nio di sana. Memang Nio juga cukup sering datang ke sana untuk membeli jas. Butik ini memang sering sekali didatangi oleh para artis dari berbagai bidang. Jadi bukan hal biasa lagi mereka sering melihat artis.
"Nio?"
"Hai Khea, aku mau memesan jas padamu."
"Ayo ke atas."
Lantai empat memang Khea jadikan sebagai ruang kerjanya. Khea membuka pintu, dan Nio melihat Gean yang sedang bermain puzzle. Banyak manekin di dalam ruangan itu. Baju anak-anak, gaun, bahkan jas hasil rancangan Khea juga ada di beberapa sudut.
__ADS_1
Khea menatap Nio dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu perempuan itu mulai mengambil alat tempurnya untuk membuat design.
"Bagaimana kalau seperti ini?"
"Oke, aku suka."
Jas yang didesign oleh Khea memang sesuai karakter Nio.
"Halo jagoan kecil," sapa Nio pada Gean setelah asisten Khea membawakan cemilan dan air minum. Gean diam saja, sedangkan Nio hanya tersenyum melihat anak yang sangat mirip dengan sahabat itu.
Asisten Khea kembali masuk dan membawa bunga serta beberapa bungkusan. Khea menghela nafas kesal, karena Sidah tahu apa yang ada di dalam kantong-kantong belanjaan itu.
Nio hanya tersenyum tipis. Dia tahu kalau sahabatnya itu berusaha mendekati Khea dan Gean.
"Ck, aku tidak mau ikut campur urusan kalian, Khea. Kenapa kamu tidak bicara saja padanya?"
"Aku sudah mengembalikan semua itu padanya kemarin, tapi dia masih juga memberikan yang baru setiap harinya."
"Ambil saja, dan berikan kepada yang membutuhkan."
"Dan dia akan berpikir kalau aku yang menerimanya? Cih, jangan harap."
__ADS_1
Nio melihat Gean yang kasih sibuk dengan puzzle-nya. Bahkan Nio melihat itu puzzle yang berbeda dari yang sebelumnya. Apa Gean sangat fokus dengan puzzle itu sehingga tidak mendengar pembicaraan mereka, atau pura-pura tidak mendengar, Nio tidak tahu.
"Bagaimana kalau kita makan siang sama-sama?" ajak Nio.
Khea memicingkan matanya, lalu mendengkus.
"Lalu kamu akan menghubungi mereka agar mereka datang?"
"Jangan selalu curiga, Khea."
"Mommy, Gean lapar. Ayo kita makan steak."
"Ayo." Khea lalu merapihkan barang-barangnya dan mengajak Gean keluar.
Di depan butik, Khea dan Nio masih terlibat pembicaraan. Tidak ada yang tahu kalau saat itu ada yang sedang memperhatikan mereka. Orang itu mengepalkan tangannya sambil terus mengawasi.
...🍁🍁🍁...
Pagi ini media sosial dan infotainment dihebohkan dengan gosip antara Khea dan Nio. Banyak foto yang beredar saat mereka ada di depan butik dan terlihat sangat dekat. Nio sendiri yang melihat foto-foto biasa saja. Baginya tidak ada yang aneh dengan foto-foto tersebut. Begitu juga dengan Khea, yang tidak mau ambil pusing. Anggap saja ini promosi untuk butiknya agar lebih terkenal lagi, karena di foto itu terpampang jelas nama butiknya.
Ken melemparkan ponselnya, kesal dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
"Apa kamu mau mengkhianati aku, Nio?"