Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
8 Telepon Yang Rumit


__ADS_3

8 TELEPON YANG RUMIT


“Nona, ada yang ingin bertemu dengan Anda.”


“Siapa?”


“Aku.”


Khea menoleh pada seseorang yang ada di depan pintu. Khea menghela nafas, lagi-lagi dia harus berurusan dengan masa lalu.


“Jangan memulai pertengkaran lagi. Kamu pasti masih sangat ingat dengan masa lalu, kan? Jangan sampai anakku kembali menjadi korban.”


“Vana ....”


“Maksudku Khea, aku mohon, tolong kamu dan Gean tinggalkan negara ini. Pergilah menjauh dari Ken.”


“Kamu saja sana yang pergi, kenapa harus aku? Pergi dari sini sekarang.”


“Khea, tolonglah. Ini demi persaudaraan kita.”


“Sekarang baru mengaku saudara, dulu ke mana saja? Pergi dari sini sekarang juga!”


Vara mendekati Khea, lalu tiba-tiba saja dia merasakan sakit di perutnya. Dia merintih kesakitan.


“Dhea, tolong aku. Perutku sakit sekali.”


“Jangan pura-pura. Aku tidak akan tertipu olehmu.”


Bruk


Vara terjatuh di lantai.


“Hei, bangun. Apa kamu ingin bersandiwara dan membuat orang-orang menyalahkan aku karena kamu pingsan di sini!”


Mata Vara masih terbuka sedikit.


“Sa ... sakit, Vana.”


“San ... Santi!” teriak Khea.


“Ya, Nona?”


“Bantu aku membawa dia ke mobil. Ish, merepotkan saja.”


“Gean!”


“Tuan Gean ada di lantai empat, Nona.”


“Panggil Gean. Kami akan ke rumah sakit.”


“Baik, Nona,” ucap salah satu penjaga butik.


Gean dan Khea membawa Vara ke rumah sakit.

__ADS_1


“Gean, tolong telepon aunty Rara.”


“Ya, Mom.”


“Halo?”


“Halo Ra, tolong kamu kasih tahu Marco, Marco kasih tahu Ken, Ken suruh kasih tahu papa sama mamanya Vara ....”


“Hah? Gimana-gimana? Kok aku bingung, ya?”


“Vara pingsan, ini aku sama Gean lagi di jalan mau ke rumah sakit.”


“Ngapain di bawa ke rumah sakit? Gelindingin aja tuh di jalan.”


“Jangan ngelawak, deh.”


“Enggak, pokoknya aku gak mau nelepon tuh si Marconot.”


“Ish, tolonglah, Ra.”


“Gak.”


“Ya udah, deh.”


Khea lalu menghubungi Nio, untung saja dia masih menyimpan nomor teleponnya, itu juga kalau nomor ponsel Nio belum diganti.


“Halo, siapa nih?”


“Aku.”


“Kamu hubungi si Kencur sana.”


“Kencur?”


“Teman kamu!”


Nio terdiam sejenak, kapan dia punya teman namanya Kencur?


“Kencur? Ken ... Cur. Ya ampun, maksudnya Ken?”


“Bilang sama dia, kalau pacarnya pingsan di butik aku. Ini aku sama Gean lagi di jalan bawa dia ke rumah sakit. Nyusahin banget!”


“Oke, oke, aku hubungi Ken. Aku juga nanti ke sana.”


Di rumahnya, Ara lagi galau. Sebenarnya dia malas menghubungi Marco, tapi juga tidak mau mengecewakan sahabatnya.


“Halo, Ara? Tumben kamu telepon aku.”


“Kamu kasih tahu tuh si sahabat kamu, kalau tunangannya pingsan, sekarang lagi dibawa sama Khea dan Gean ke rumah sakit.”


“Siapa?”


“Sahabat kamu yang sudah tunangan emangnya siapa saja? Awas ya, jangan sampai kamu kasih tahu tuh si Mak Lampir ratu dedemit.”

__ADS_1


“Oke, oke, aku paham.”


Ratu dedemit pasti Rissa, maksudnya. Dan yang pingsan pasti Vara.


“Khea telepon aku, nyuruh telepon kamu. Kamu disuruh telepon Ken. Ken suruh telepon orang tua Vara.”


“Ribet amat.”


“Aku sebenarnya malas banget telepon kamu, tapi ini demi Khea dan Gean. Bukan demi kalian, ya. Malas banget!


Di sana, Ken mendapatkan kabar dari Marco.


“Halo?”


“Vara pingsan, sekarang dibawa ke rumah sakit.”


“Pingsan? Di mana?”


“Enggak nanya. Khea telepon Ara, nyuruh dia menghubungi aku buat menghubungi kamu, kamu disuruh telepon kedua orang tua Vara.”


“Khea? Kenapa Khea tidak menghubungi aku langsung?”


“Memangnya kamu siapa? Memangnya dia mau nyimpan nomor telepon kamu? Menghubungi kedua orang tuanya saja sampai ribet begini, harus nelepon sana sini dulu.”


Ken mendengus, seolah Marco mempertegas kalau dia bukan siapa-siapa.


Tidak lama kemudian, Ken kembali dihubungi, tapi kali ini oleh Nio.


“Ya?”


“Tadi Khea telepon aku, katanya Vara pingsan dan sekarang dibawa ke rumah sakit.”


“Khea? Khea telepon kamu?”


“Iya.”


“Enggak lewat perantara?”


“Enggak, memangnya kenapa?”


Ken tidak menjawab, dia malah membanting berkas-berkas di atas meja.


Khea bisa menghubungi Nio, bahkan menyimpan nomor ponsel pria itu, tapi kenapa tidak dengan dirinya?


Dia jadi teringat dengan perkataan Marco, memangnya dia siapa?


Bagaimana pun juga kan, aku ini Daddy dari anak kami.


Setidaknya, kalau ada apa-apa, kenapa tidak langsung menghubungi aku saja?


Ken masih merasa kesal, tapi dia juga tidak mau abai dengan kabar yang dia dengar. Meski dia sudah memutuskan hubungan dengan Vara, tetap saja dia peduli dengan gadis itu, sebagai seorang sahabat kecil. Kebersamaan mereka sejak kecil, tidak bisa dilupakan begitu saja.


Toh ada awalnya, hubungan mereka semua memang berasal dari persahabatan, kan? Bukan langsung menjadi sepasang kekasih dan bertunangan.

__ADS_1


__ADS_2