Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
69 Hinaan Yang Kejam


__ADS_3

"Aku juga menyesal!" ucap Khea. Ken menatap Khea, berharap Khea akan memaafkan dirinya dan mengijinkan dia bersama dengan Gean.


"Aku menyesal dulu pernah sangat mencintai pria seperti kamu. Sesuatu yang sia-sia dan menyakitkan."


Ken merasakan degub jantungnya yang berdetak kencang. Bukan kata-kata ini yang ingin dia dengar dari Khea. Hatinya sakit dan tidak terima. Dia ingin terus Khea mencintai dirinya. Tapi untuk apa? Agar dia bisa dengan mudah menjadikan Khea istrinya dan memiliki hak atas Gean?


"Tidak Khea, jangan katakan itu. Tolong maafkan aku, aku benar-benar menyesal."


Vara yang melihat pria yang selama ini sangat dia cintai duduk bersimpuh di hadapan perempuan lain, merasa sangat terpukul. Apa sejarah akan terulang lagi? Apa dia dan Khea akan kembali memperebutkan hal yang sama? Apa Ken akan tetap mempertahankan dirinya atau lebih memilih Khea karena ada Gean sebagai pengikat mereka?


Tidak, membayangkannya saja Vara sudah takut. Bukannya dia mau egois, tapi dia sudah bertahan sampai selama ini. Enam tahun menunggu dan setia pada Ken. Tetap bersama meski pernikahan mereka selalu saja diundur karena kesibukan masing-masing dan keadaan lainnya.


Tapi bukan juga Vara tega dengan Khea. Entahlah, Vara juga dilanda dilema. Kenapa masalah ini harus menimpa dirinya? Kenapa takdir membuat dia dan Khea selalu saja berseteru karena seorang pria yang sama.


Khea tersenyum sinis menatap Ken, lalu tersenyum mengejek pada Vara.

__ADS_1


"Seperti apa kamu menyesali masa laluku, seperti itu juga aku menyesali masa laluku, bahkan lebih."


"Khea, mama mohon padamu. Tolong maafkan Ken," ucap Dania, mamanya Ken.


"Wah wah wah, sejak kapan Anda menyebut diri Anda mama kepadaku?"


"Khea, dengarkan opa. Opa tahu Ken sudah melakukan kesalahan fatal kepadamu. Apa yang sudah dia lakukan memang tidak mudah dimaafkan. Andai saja saat itu opa ada di sini, tentu saja opa tidak akan bertindak gegabah. Opa sungguh malu dan tidak percaya kalau mereka semua bisa sebodoh itu!" Ronald menghela nafas berat. Di usianya yang sudah tua seperti ini, seharusnya dia menikmati masa tuanya dengan bermain bersama cicitnya. Tapi karena kebodohan anak dan cucunya, kehidupan masa tuanya malah seperti ini.


"Khea, maafkan opa yang tidak bisa mendidik anak, menanti dan cucu opa."


"Sidah aku katakan, kalau kalian ingin aku memaafkan kalian semua, maka aku meminta perlakuan dan rasa yang sama!"


"Apa maksudnya?"


"Aku ingin perempuan ini juga dinodai oleh dia hingga hamil, tanpa pertanggung jawaban!"

__ADS_1


"Khea, jaga bicara kamu!"


"Belum apa-apa sudah marah!" cibir Khea.


"Oh, tapi kalau mereka yang melakukan itu, sudah pasti suka sama suka, ya? Pasti mereka sangat menikmatinya dan malah ketagihan."


"Jangan sembarang bicara, Khea."


"Perempuan itu pasti jingkrak-jingkrak saat bajingan itu menyentuhnya, dan bisa dijadikan alasan untuk menikahinya kan? Sudah terlewat selama enam tahun loh, ini!"


Ini benar-benar suatu penghinaan yang sadis.


"Aku juga ingin perempuan ini diusir dari rumahnya dan tidak lagi diakui dalam keluarga, dianggap mati tanpa ada kuburannya!"


"Khea!"

__ADS_1


Mendengarnya saja sudah membuat mereka merinding, apalagi Khea yang dulu diperlakukan seperti itu, apa lagi di depan orang banyak.


__ADS_2