
Acara telah selesai, kini hanya tersisa para keluarga dan sahabat saja. Khea lalu mendatangi Vara dan Rissa.
"Gara-gara kamu, hidupku jadi seperti ini." Dia menatap tajam kedua gadis yang bersahabat itu. Pandangannya kini fokus pada Vara.
"Apa maksudmu kamu, Vana? Memangnya apa yang telah aku lakukan padamu?"
Plak plak plak plak
Ya, empat kali tamparan di pipi kanan kiri, hingga menimbulkan bekas telapak tangan dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" teriak Rissa.
"Vana, apa yang kamu lakukan?" tanya Vara.
__ADS_1
Begitu juga dengan orang-orang yang kaget melihat apa yang Khea lakukan, kecuali para sahabat Khea dan Gean. Austin menutup mata Gean saat Khea melakukan itu. Mereka hanya akan menjadi penonton saja, karena hanya Khea yang berhak bertindak saat ini, bukan orang lain.
"Gara-gara kamu, hidupku dan anakku menjadi seperti ini!" ucap Khea lagi, lebih emosi dari sebelumnya.
"Maksudnya apa? Aku tidak mengerti," ucap Vara.
"Sayang, ada apa? Kalau ada masalah, ayo kita bicarakan baik-baik. Ayo duduk, tenangkan dirimu. Jangan emosi, ada Gean di sini," ucap Anya.
Dia tidak mau lagi melihat kedua anak perempuannya bertengkar. Vanya ingin mereka memulai hidup baru, mengikhlaskan masa lalu, karena untuk melupakan apa yang pernah terjadi, tentu saja tidak bisa. Mereka merindukan masa-masa kecil anak-anak itu yang akur dan menyenangkan.
SAAT MEREKA MASIH KECIL
Ken, Vara dan Vana, ketiga anak kecil yang akrab, karena kedua orang tua mereka juga bersahabat. Ken seumuran dengan Vara, mereka selalu bermain bersama, hingga akhirnya Vana lahir.
__ADS_1
Ken selalu mengajak Vana bermain, membelikan es krim, boneka, atau pita. Vara yang sudah terbiasa bermain dengan Ken berdua saja sejak dulu, merasa sedikit iri. Tapi dia diam saja, dia pun akan ikut bermain bersama Ken dan Vana.
Kedua orang tua Vara selalu mengatakan untuk menjaga dan mengajak Vana bermain, jangan marah saat Vana merusak mainan mereka, karena Vana masih kecil, belum mengerti apa-apa. Ken masih bisa bisa menerima itu, tapi tidak dengan Vara yang merasa dibeda-bedakan. Menurut dia, kalau salah, ya salah. Mau itu anak-anak, atau orang dewasa. Kenapa hanya Vana saja yang dikecualikan, begitu pikir Vara. Tapi sekali lagi, gadis itu hanya diam saja.
Vara yang merasa kedua orang tuanya lebih menyayangi adiknya, merasa semakin iri. Dia juga ingin diperhatikan, ingin disayang. Apa yang orang tuanya mau, akan Vara lakukan. Kedua orang tua Vara berharap—bukan hanya berharap, tapi menuntut—Vara dan Vana belajar bisnis, karena mereka berdua lah yang akan meneruskan perusahaan keluarga.
Maka Vara, yang lebih dewasa dari Vana, sudah mulai belajar bisnis, dari membaca buku-buku, hingga bertanya ke kedua orang tua dan kakek neneknya.
Begitu juga dengan Ken, dia diharapkan menjadi penerus yang lebih sukses dari opa dan ayahnya. Karena persamaan nasib dan keadaan ini, membuat hubungan keduanya kembali lebih dekat. Mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk belajar dan membaca buku, untuk sharing dan hal lainnya.
Ken yang melihat Vana melakukan apa saja yang dia mau, membuat dirinya menjadi sedikit iri. Memang Vana masih sekolah dasar, tapi rasanya tidak adil. Dia dan Vara saja, sudah dilatih ini itu.
Vara yang memang secara umur lebih dewasa, merasa senang. Akhirnya ada hal yang bisa dia lakukan berdua saja dengan Ken. Ada hal bisa dia lakukan, sedangkan Vana belum bisa karena masih sangat kecil.
__ADS_1
Dan yang paling penting, saat dia belajar bersama Ken, Vana tidak boleh mengganggu. Kedua orang tuanya akan melarang Vana merecoki Ken dan Vana. Maka, Vana semakin belajar dengan giat.