
"Vana ...."
"Lepas!"
Khea melangkah mundur, sedangkan Kan justru semakin maju.
"Jangan dekat-dekat!"
"Vana ...."
Khea mundur hingga tubuhnya menabrak sofa, dan mereka berdua jatuh dengan posisi yang terlihat intim.
"Aaaa ... lepas!"
Bukannya melepaskan Khea, Ken justru semakin mendekatkan dirinya, ingin memeriksa apakah punggung Khea terluka atau tidak.
Pintu ruangan Ken terbuka, dan orang itu Yenti saja kaget dengan apa yang dia lihat.
"Vana, Ken!"
Khea langsung mendorong tubuh Ken.
__ADS_1
"Ingat apa yang aku katakan, jangan pernah lagi di mengirimkan apa pun pada aku dan Gean." Khea lalu menendang kantong-kantong itu hingga semuanya semakin berantakan.
"Dan katakan pada teman kalian yang tidak berguna itu untuk menjaga mulutnya. Jangan sampai nanti aibnya sendiri yang terbongkar. Dasar sampah!"
Vara menatap kepergian Khea lalu menatap Ken. Pria itu menatap barang pemberiannya untuk Gean.
"Ken, kamu ...."
"Aku lelah, Vara."
Ken duduk di sofa, memejamkan matanya dan mencoba menenangkan dirinya. Dia tahu Khea memiliki sifat yang keras. Tidak akan mudah untuk melunakkan hatinya.
Vara mendekati Ken, ikut duduk di sebelah pria itu. Hatinya sakit melihat Ken dan Khea tadi. Dalam pikirannya, apakah Khea masih mencintai Ken? Apa mereka akan bersama karena kehadiran Gean di antara mereka?
"Vana!" ucap mereka bertiga.
Khea hanya mendengkus melihat ketiganya, kamu kembali melangkah dan menyenggol dengan kencang pundak Hendrick. Kemarahan di wajah Khea itu terlihat jelas bagi Bryan, Hendrick dan Ronald.
"Apa yang terjadi?" tanya mereka serempak.
Ketiganya langsung memasuki lift khusus, menuju ruangan Ken. Ken sendiri di dalam ruangannya masih memejamkan matanya. Barang-barang pemberiannya untuk Gean yang dikembalikan oleh Khea masih berantakan di lantai. Dia tidak berniat untuk membersihkannya, atau menyuruh orang untuk merapikannya.
__ADS_1
Tidak ada yang bicara, baik itu Ken ataupun Vara. Vara sibuk dengan pikirannya sendiri, menerka-nerka apa saja yang telah terjadi antara Ken dan Khea tadi. Dan selanjutnya apa yang akan terjadi antara Ken dan Khea jika tadi dia tidak masuk ke dalam ruangan itu?
Tidak, Vara menggelengkan kepalanya. Dia yang dulunya begitu percaya diri kalau Ken tidak akan berpaling darinya, akan selalu setia dengannya, pasti tetap bersama dengan doa, mendadak kini merasa cemas dan tidak percaya diri.
Harus Vara akui juga, kalau Khea semakin cantik. Wajah yang kini terlihat dewasa. Masih terlihat arogan tapi entah kenapa itu juga menjadi salah satu daya pikatnya.
Pintu ruangan Ken terbuka.
"Ken, Vara?"
Ken dan Vara melihat siapa yang datang.
"Apa tadi Vana ke sini?" tanya Ronald.
"Ya," jawab Vara pelan, karena sepertinya Ken masih enggan untuk bicara apa pun. Ketiga pria tua itu melihat lantai yang berantakan oleh mainan anak-anak.
Tidak perlu banyak bertanya, mereka bisa menebak apa yang terjadi.
"Kamu bujuklah Vana baik-baik. Opa ingin bertemu dengan cicit opa. Bagaimana pun juga semua ini terjadi karena kelalaian kamu, jadi kamu yang harus berusaha lebih kuat. Jangan meminta opa yang membantu kamu. Mengerti!"
Bukannya Ronaldo tidak bisa membantu, tapi siapa yang berbuat, maka dialah yang harus bertanggung jawab. Apalagi pada saat pertunangan itu, dia dan Oma Ken tidak ada di sana.
__ADS_1
"Lakukan berbagai cara agar kita bisa bicara empat mata dengan Vana secepatnya, kamu mengerti, Ken!"
"Ya."