Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
15 Biar Aku Yang Bertanggung Jawab


__ADS_3

"Apa?"


"Aku hamil, dan saat ini sedang mengandung anak Kak Ken."


"Jangan semaba bicara kamu, Vana!"


Ken tentu saja tidak terima dirinya di fitnah seperti itu, apalagi saat ini adalah pertunangannya dengan Vara.


"Aku tidak bicara sembarangan, aku memang sedang hamil. Ini, aku membawa testpack dan foto USG anak kita, Kak."


"Cukup, Vana. Haruskah kamu merendahkan diri kamu sendiri seperti ini?" Vanya menatap anaknya itu dengan raut wajah kecewa. Dia tidak pernah menyangka anaknya itu akan melakukan hal sejauh ini, sampai mempermalukan dirinya sendiri dan keluarga besar mereka.


"Aku tidak bohong, Mama. Kak Ken sudah mengambil kesucianku dengan paksa!"


"Cukup, Vana!" bentak Bryan.


Brian sangat malu dengan kelakuan Vana. Apa dirinya selama ini salah mendidik?


"Papa, kenapa papa membentak aku? Yang aku katakan ini memang benar, dan anak ini anak Kak Ken."


"Papa bilang cukup, Vana!"

__ADS_1


Vara juga sangat kecewa dengan adiknya itu? Kenapa Vana bisa nekat seperti ini?


"Vana, itu tidak mungkin. Jangan berbuat yang tidak pantas padamu, aku dan Ken saja selama ini tidak pernah berbuat hal yang lebih , bahkan berciuman saja kami tidak pernah."


"Jangan ikut campur kamu. Yang harus kamu lakukan hanya membatalkan pertunangan ini dan membiarkan Kak Ken menikah denganku!"


"Cukup Vana. Kalau Kun benar kamu hamil, itu pasti bukan anak aku!"


"Anak ini anak kamu, Kak."


"Jangan memfitnahku. Kamu pikir aku tidak tahu, kalau selama ini kamu sering jalan dengan pria yang berbeda-beda. Kenapa aku ya g Haris bertanggung jawab akan anak haram yang kamu kandung!"


"Ini anak kamu, Kak. Kenapa kamu tidak mau mengakuinya?"


Bryan menampar wajah Vana yang sudah membuat ulah dan malu.


"Papa!"


"Cukup Vana. Mulai hari ini kamu bukan putriku lagi. Silahkan kamu pergi dari rumah, dan jangan membawa apa-apa. Jangan pernah kembali selama kamu belum mengakui kesalahan kamu, meminta maaf dan berubah!"


"Papa, kenapa papa tega sekali padaku? Aku ini juga anak papa. Bagaimana nasibku dan anakku, Pa?"

__ADS_1


"Sudah saya katakan, kamu bukan anakku, dan anak ya g kamu kandung bukan cucuku. Itu pun kalau benar saat ini kamu sedang hamil."


"Mama?" Vana berusaha meminta pertolongan dari Vanya, tapi mamanya itu juga diam saja.


"Vara, apa kamu mau menikah dengan pria yang menghamili adikmu sendiri?"


Vara menatap Vana dengan pandangan yang sangat kecewa. Dia memalingkan wajahnya, tidak mau melihat wajah adiknya.


"Kenapa kalian lakukan ini padaku, kenapa kalian semua jahat padaku?"


"Kamulah yang jahat pada kami. Cepat pergi dari sini sebelum sekuriti mengusir kamu dengan kasar."


"Tapi bagaimana dengan anak yang aku kandung?"


Mereka menghela nafas, tidak mempedulikan teriakan Vana.


"Uncle, Aunty, kalian pasti percaya kan? Kalian pasti tidak tega dengan cucu kalian, kan?"


"Ken tidak mungkin melakukan itu. Putraku adalah pria baik-baik, kamu mendidiknya dengan sangat baik. Dan jika benar kamu hamil, anak itu sudah pasti bukan anak kamu. Pergilah, menjaulah dari kehidupan Ken dan Vara."


Vana mengepalkan tangannya, bagaimana bisa mereka bersikap seperti ini padanya, padahal dia sudah merendahkan diri mengatakan ini di hadapan para tamu agar pertunangan itu batal.

__ADS_1


"Vana, jika benar kamu hamil, biar aku saja yang bertanggung jawab. Aku yang akan menjadi ayah untuk anak kamu."


Ucapan seseorang membuat mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


__ADS_2