
Di dalam kamar, Gean duduk di tepi tempat tidur. Anak itu memandang lekat wajah Khea.
Cup
Gean mengecup kedua pipi Khea. Khea yang merasakan ada sentuhan di pipinya, langsung terbangun dan tersenyum melihat wajah anaknya. Perempuan itu bangun dan memeluk Gean.
"Morning, my prince."
"Morning too, my wonder mom."
Ken menguping sapaan ibu dan anak itu, yang kembali membuat dia merasa iri. Pria itu memejamkan matanya. Andai saja dia tidak melupakan kejadian malam itu, mungkin sekarang mereka bertiga akan hidup bahagia. Setiap pagi dia akan mendapatkan pelukan dan sapaan hangat dari anak dan istrinya.
Yang paling membuatnya benci, bukan karena Rissa telah membuat dia menghamili Khea, tapi karena dia telah membuatnya melupakan malam itu.
Ken mengusap sudut matanya, merasakan pilu di hati.
__ADS_1
Dia ingin mengatakan bahkan mengingatkan kepada Gean dan Khea, kalau dia tidak sepenuhnya bersalah. Bukan dia yang sengaja melupakan semua itu. Kalau mengingat kejadian itu saja tidak, bagaimana bisa dia mengakui anak yang dikandung oleh Khea adalah anaknya? Laki-laki bodoh mana yang mau mengakui perbuatan orang lain sebagai perbuatannya?
Tapi apa itu akan dianggap sebagai pembelaan diri sendiri? Apa itu akan dianggap alasan agar mendapatkan maaf?
Andai dia ingat, sedikit saja, maka dia akan langsung menikahi Khea saat itu juga. Amarahnya saat itu, mungkin sebagai bentuk rasa cemburu yang tidak dia sadari. Dia yang merasa iri, iri karena kenapa Khea bisa menjadi diri sendiri, tidak peduli dengan omongan orang-orang. Rasa cemburu dengan kehidupan yang berbeda, membuat dia memusuhi Khea. Untuk hal ini, dia tidak akan membela diri, karena dia tahu dia salah dan begitu bodoh.
Bodoh karena membohongi diri sendiri, bodoh karena tidak mau mengakui perasaaan dan bodoh karena terlalu gengsi.
Ken tidak sadar kalau di hadapannya kini ada Khea dan Gean. Ibu dan anak itu melihat tatapan mata Ken yang kosong, dengan sudut-sudut mata yang basah.
"Kamu sedang apa berdiri di depan pintu kamar Gean?"
Khea menatap wajah pria, lalu menghela nafas berat. Bagaimana bisa dia melupakan pria ini, bukan karena apa yang telah Ken lakukan di masa lalu, tapi juga karena wajah anaknya begitu mirip dengan Ken.
Khea lalu melirik Gean, ingin melihat bagaimana ekspresi anaknya sekarang, saat melihat Ken.
__ADS_1
Ternyata sulit.
Gean terlalu datar. Terlalu pintar menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Khea sedikit tersenyum, dan saat itulah Ken tersadar dari lamunannya. Dia melihat Khea yang tersenyum saat melihat Gean. Khea sendiri yakin, saat Gean dewasa nanti, akan banyak gadis yang menyukai dirinya. Karena pesonanya sungguh luar biasa. Ekspresi yang datar itu menjadi daya tarik tersendiri dari Gean. Irit bicara, tatapan mata yang tajam dan kecerdasan yang dimiliki.
"Ayo kita sarapan," ucap Ken.
Di atas meja makan, Ken sudah menghidangkan makanan dengan sangat rapih seperti di restoran.
Khea menatap makanan itu, dan melirik Ken. Ken ternyata masih sangat ingat bagaimana Khea yang selalu menyukai menu ini saat sarapan, dan bagaimana cara menatanya.
Ada potongan-potongan buah dengan jumlah tertentu di setiap jenisnya.
"Ayo sarapan."
__ADS_1
Ibu dan anak itu duduk dengan tenang, tapi belum menyentuh satu pun.
"Aku tidak meracuni makanan ini."