
"Ayolah Khea, apa kamu tidak tertarik sama sekali dengan tawaranku?"
"Aku tidak mau anak aku menjadi sorotan publik. Kalau dia bermain film, sudah pasti orang-orang akan mencari tahu tentang dirinya. Tentang keseharian dia, dan latar belakang dirinya."
"Tidak menjadi publik figur pun, orang-orang tetap akan ingin tahu tentang kamu dan Gean."
Khea hanya berdecak saja, dia masih belum tertarik untuk bermain film.
"Memangnya kamu tidak mau Gean mencoba sesuatu yang baru? Siapa tahu saja anak itu punya bakat dalam berakting, kan?"
"Akan aku pikirkan dulu."
"Ck, dari dulu selalu itu yang kamu katakan, tapi belum ada kabar baik juga."
"Aku sibuk, tapi kali ini aku akan mengabari kamu, apa pun yang aku putuskan, kamu harus bisa menerimanya."
"Aku akan menerimanya kalau keputusan kamu sesuai dengan apa yang aku mau."
"Dasar!"
__ADS_1
Dennis tertawa, sejak awal dia melihat Khea, dia memang sangat ingin menjadikan Khea pemain di film terbarunya, tidak peduli dengan latar belakang perempuan itu atau rumor apa pun. Baginya, Khea memang memiliki daya pikat sendiri.
Setelah pertemuannya dengan Dennis selesai, dia segera pulang. Saat akan memasuki mobilnya, beberapa pria berjas menghampirinya.
"Tolong ikut dengan kami, Nona Vana." Khea mendengkus, mendengar mereka memanggilnya dengan nama Vana, sudah bisa dipastikan atas suruhan siapa mereka datang.
Khea tidak mempedulikan mereka, tidak ada yang bisa mengaturnya, apalagi orang-orang itu.
"Tuan Ronald ingin bertemu dengan Anda."
Mendengar nama Ronald, Khea menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu mobil. Dia tentu saja sangat tahu siapa Ronald itu.
"Baiklah. Aku akan membawa mobil sendir."
Kurang lebih empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Ken. Khea menatap rumah itu, rumah yang sudah sejak lama tidak dia datangi.
"Silahkan, Nona."
Dengan angkuh Khea memasuki rumah itu.
__ADS_1
"Tuan, Nona Vana sudah datang."
Mereka terkesiap melihat kedatangan Khea, tidak menyangka perempuan itu mau datang, meski juga merasa senang.
"Enggak perlu basa-basi, mau apa menemuiku?" Wajah angkuh itu terlihat mengejek mereka.
Wajah yang dulu selalu terlihat manja, dan penuh cinta pada Ken, kini tidak ada lagi.
"Duduk dulu, Vana."
"Namaku Khea. Kalau ada lagi yang memanggil aku dengan nama buruk itu, akan aku patahkan jari-jarinya. Aku sangat membenci nama itu! Nama yang diberikan mirip dengan nama seseorang tapi kasih sayang mereka tidak sama! Cih!"
Bryan dan Vanya merasa tertohok. Mereka memang sengaja memberikan nama yang mirip, agar mereka selalu ingat kalau mereka saudara, tapi ternyata kini yang diharapkan tidak berjalan dengan baik.
"Khea, mengenai apa yang terjadi di masa lalu, tolong maafkan kami," ucap Hendrick.
"Ayo kita perbaiki semaunya dan memulainya dari awal lagi," lanjutnya.
"Cih, mudah sekali kalian meminta maaf. Apa karena sekarang perusahaan kalian diambang kebangkrutan? Sampai mati pun aku tidak sudi memaafkan kalian!"
__ADS_1
"Khea, jangan seperti itu, bagaimanapun juga kita ini masih keluarga, pulanglah ke rumah," ucap Vanya.
"Keluarga? Yang benar saja! Dulu aku diusir, tidak dipercaya dan dibilang penipu. Aku juga masih sangat ingat ada yang berkata, 'Jangan pernah pulang sebelum kamu menyadari kesalahan kamu dan meminta maaf.' Jadi, karena aku memang tidak merasa bersalah, untuk apa aku meminta maaf dan pulang ke rumah terkutuk itu?"