
Vara dan Ken kini berada di dalam restoran. Sudah sepuluh menit mereka di sana, sambil menunggu makanan yang dipesan datang, tapi tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan. Vara menghela nafasnya, melihat Ken yang diam saja dan sibuk dengan ponselnya.
"Ini pesanannya Tuan, Nona."
Ken memasukkan kembali ponselnya di saku jasnya, lalu mulai makan tanpa berkata apa pun, seolah dirinya ada di sana sendiri.
Aktivitas makan Ken terhenti saat melihat Khea dan Gean yang memasuki restoran itu. Vara ikut melihat apa yang saat ini sedang Ken pandang.
Vana dan Gean?
Kedua orang itu hanya bisa melihat Gean dan Khea yang tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi keduanya terlihat sangat bahagia, berbeda sekali dengan keadaan Vara dan Ken saat ini, yang terlihat seperti orang asing satu sama lain.
Cara dan Ken melihat Gean yang mengecup pipi Khea, lalu Khea yang mengecup pipi Gean.
Aku juga mau, batin Ken.
__ADS_1
Tanpa sadar Ken tersenyum saat melihat ibu dan anak itu. Dia iri, dia juga ingin berada di antara mereka. Makan bersama, berbicara dengan akrab. Semua, semua yang mereka rasakan dan lakukan, Ken juga ingin merasakan dan melakukannya.
Ken bahkan melihat Gean yang menyuapi mommy-nya makanan, dan mengelap sudut bibir Khea yang terkena saos makanan.
Ken tidak lagi memperhatikan makanannya sendiri, bahkan sekarang dia mengeluarkan ponselnya dan merekam kegiatan Khea dan Gean. Apa yang dilakukan oleh Ken itu membuat hati Vara semakin teriris. Dia yang sejak tadi duduk sangat dekat dengan Ken, tapi seolah hanya benda tembus pandang saja.
Ken, kenapa kamu sekarang menjadi seperti ini? Aku merasa semakin lama jarak di antara kita semakin lebar saja. Kamu seperti orang asing untukku. Apa karena Vana dan Gean?Aku pasti akan menerima Gean seperti anak aku sendiri. Bukan hanya karena dia anak kamu, tapi juga karena dia keponakan aku.
Vara melihat Ken yang masih saja merekam Khea dan Gean, bahkan kini pria itu tersenyum. Vara merasakan senyuman Ken itu sangat berbeda dari senyumannya yang lain.
Kedua orang yang duduk di meja yang sama itu, menunjukkan ekspresi wajah yang sangat kontras. Jika yang satu berwajah cerah, maka wajah yang satunya lagi berwajah mendung.
Sedangkan Khea dan Gean yang menjadi pusat perhatian itu, tidak sadar sama sekali. Ibu dan anak itu memang seperti itu, tidak aka. peduli dengan orang di sekitarnya.
"Gean senang, besok akan syuting?"
__ADS_1
"Biasa saja."
Khea terkekeh mendengar perkataan anaknya itu.
Vara melihat tawa adiknya. Ingin sekali dia menghampiri adik dan keponakannya. Khea selalu menutup akses agar Vara dan kedua orang tuanya tidak bisa menemui dia. Vara tidak ingin melihat mamanya bersedih, juga ayahnya yang selalu melamun.
Dalam hati Vara berjanji, akan mempertemukan mama dan papanya dengan Khea. Bagaimana pun juga mereka adalah keluarga. Jangan biarkan kesalah pahaman di masa lalu itu terus berlanjut. Vara tidak mau lagi ada penyesalan.
"Gean sudah selesai makan?"
"Sudah, Mommy. Sekarang perut Gean sudah sangat penuh. Jadi mommy tidak perlu masak untuk makan malam."
Lagi-lagi perkataan Gean itu membuat Khea tertawa pelan.
"Mommy akan tetap masak makan malam yang banyak untuk Gean. Anak mommy Haris banyak makan dan gemuk, agar mommy bisa memeluk Gean dengan puas."
__ADS_1