
Vara membuka matanya. Dia merasa ngilu di sekujur tubuhnya. Dilihatnya kedua orang tua dia dan orang tua Ken ada di sofa. Perlahan Vara Muksin mengingat apa yang terjadi.
"Ma, Pa," panggil Vara dengan pelan. Mamanya membuka mata, melihat anak pertamanya sudah sadar.
"Apa ada yang sakit, Sayang? Tunggu sebentar ya, mama panggilkan dokter dulu." Mamanya menekan tombol panggil, dan tidak lama kemudian, dokter dan perawat datang.
"Dia baik-baik saja, tapi kita tetap harus melakukan pemeriksaan keseluruhan untuk tubuhnya."
"Ma, di mana Ken? Apa yang terjadi pada Vana dan Gean?"
"Mereka berdua belum ada yang sadar. Ken masih menunggui mereka."
Vara menghela nafas. Dia berharap orang pertama yang akan dia lihat setelah dia sadar adalah Ken, calon suaminya. Nyatanya pria itu malah di tempat lain.
Mereka yang menunggui Vara saat ini ingin bertanya, tapi tahu ini bukan saat yang tepat.
Di kamar sebelah
Gean mulai membuka matanya.
__ADS_1
"Mom ... mommy?"
"Sayang, daddy di sini." ken mendekati Gean, tapi anak itu malah memalingkan wajahnya. Saat itu, dia langsung melihat di sebelahnya sang mommy memejamkan mata dengan wajah pucat. Gean mulai menangis.
"Mommy ...." Isak tangisnya mulai terdengar. Ara dan sahabat-sahabat Khea berpisah menenangkan anak itu. Gean mencoba bangun, tapi tubuhnya masih sangat sakit.
"Bangun, Mom." Isak tangis itu menyakiti hati Ken. Pria itu lalu memeluk Gean, tidak peduli dengan penolakan anak itu. Tidak peduli bagaimana kerasnya Gean memberontak.
"Mommy, mommy ... Gean mau mommy!"
Ara segera memanggil dokter. Dokter memeriksa keadaan Gean, selanjutnya memeriksa Khea.
"Dia akan segera sadar. Memang membutuhkan waktu untuk pemulihan tangan dan kakinya."
"Dengan perawatan dan terapi yang rutin, dia akan cepat sembuh."
Seharian ini Vara menunggu kedatangan Ken, tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda pria itu akan melihat keadaannya. Apa sekarang dia sudah tidak berarti lagi di hati pria itu?
Kalau Ken menginginkan anak, dia juga bisa memberikannya setelah mereka menikah nanti. Dia berjanji tidak akan pernah menunda untuk hamil.
__ADS_1
"Ma, Mom, kenapa sampai sekarang Ken tidak datang juga?" Pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari mulut Vara.
Kedua mama itu menghela nafas.
"Gean sedang ditenangkan. Khea masih belum sadar juga, tangan dan kakinya patah dan membutuhkan perawatan khusus."
"Apa?"
"Ken sedang berusaha menenangkan Gean. Kamu jangan berpikir macam-macam, ya. Yang terpenting adalah kesehatan kalian bertiga."
"Ken ... Ken tidak akan meninggalkan aku karena masalah ini, kan?"
"Maksudnya?"
"Ken tidak akan meninggalkan aku demi Vana dan Gean, kan?"
"Seharusnya dia memang meninggalkan kamu demi Vana dan Khea." Mereka menoleh, Ronald masuk ke dalam ruangan itu.
"Ayah ...." Mamanya Ken merasa tidak enak dengan Vara dan mamanya.
__ADS_1
"Vara, kamu masih muda, cantik, dan terpelajar. Kamu juga punya karir yang bagus. Masa depan kamu masih panjang dan cerah. Lebih baik lepaskan Ken, bakalan doa bersama anaknya. Kalau kamu menjadi Vana, apa kamu bisa bertahan seperti dia? Apa kamu tega dengan anak sekecil itu? Cinta baru masih bisa didapatkan, tapi orang tua kandung, mau bagaimana pun juga, tidak bisa dihapus."
Vara menunduk, dia merasa diperlakukan seperti pihak ketiga. Seperti seorang pelakor yang akan merebut suami dari perempuan lain. Seperti seorang penjahat yang merebut seorang ayah dari anaknya.