
Khea akhirnya membuka matanya. Bayangan tentang kecelakaan itu membaut dia panik dan langsung mencari keberadaan anaknya.
"Gean?" Khea merasa dikit untuk menoleh. Lehernya disangga oleh penyangga leher.
"Gean?"
"Kamu sudah sadar? Aku panggil dokter dulu. Gean sedang tidur setelah kelelahan menangis. Diansangat khawatir padamu. Anak kita baik-baik saja."
Khea ingin protes saat Ken menyebut Gean sebagai anak kita, tapi dia masih terlalu lemah. Suaranya saja masih sangat pelan, hampir tidak terdengar kalau saja Ken tadi tidak melihat ke arahnya.
Dokter dan perawat datang, dan segera memeriksa keadaan Khea.
"Dia baik-baik saja. Kami akan terus memantau perkembangan nona Khea."
"Mommy."
Khea melirik ke samping. Dilihatnya Gean yang ternyata brankarnya ada di sebelahnya. Anak itu langsung memeluk Khea.
"Hati-hati Gean, mommy masih sakit."
Gean menepis tangan Ken saat Kris itu menyentuhnya. Pintu ruangan terbuka, kedua orang tua Khea dan keluarga Ken masuk.
__ADS_1
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga."
Mama Khea memeluk anaknya itu.
"Jangan sentuh mommy aku!" Gean berkata sangat sinis pada neneknya, membuat hati perempuan tua itu sakit.
"Gean, Oma ...."
"Kamu bukan oma Gean. Kalian bukan siapa-siapa mommy dan Gean. Tidak akan pernah jadi siapa-siapa kami."
Sesakit inikah ditolak secara mentah-mentah?
Pintu kembali terbuka. Perawat datang membawakan makanan dan obat untuk Khea dan Gean. Anak itu langsung menegakkan sedikit brankar Khea agar Khea bisa makan dan bersandar dengan nyaman.
"Buka mulut Mommy." Gean dengan terampil menyuapi Khea makan, bahkan tidak belepotan. Setelah itu Gean juga membuka obat untuk Khea dan memberikannya minum. Gean mengambil tisu, mengusap mulut Khea yang basah dan leher Khea. Setelah selesai merawat Khea, anak itu lalu makan makannya sendir tanpa disuruh, dan minum obat tanpa protes dan tidak ada merasa pahit.
"Kalian pasti heran, kan, kenapa Gean bisa melakukan semuanya sendiri?" tanya salah satu sahabat Khea yang selama ini selalu bersama perempuan itu sejak di awal masa-masa kelamnya. Ara sendiri juga merasa takjub.
Kagum tapi sedih.
Kemandirian yang menunjukkan betapa dulu hidup mereka begitu berat.
__ADS_1
"Kalau saja kalian semua tahu apa saja yang telah terjadi, aku rasa kalian akan menangis darah."
Deg
Menangis darah?
Kata-kata itu sudah pasti menyiratkan sesuatu yang sangat buruk. Sesuatu yang tidak bisa dibayangkan.
Apakah mereka ingin tahu? Ingin mendengar semuanya?
"Uncle." Gean menginterupsi perkataan sahabat Khea.
"Gean, ini uncle bawakan alat melukis untuk Gean biar tidak bosan."
"Aunty juga bawakan buah-buahan kesukaan Gean dan mommy."
"Terima kasih Uncle, Aunty." Gean meletakkan alat lukis itu di nakas, lalu mendekati Khea.
"Mommy jangan khawatir, Gean yang akan menjadi tangan dan kaki Mommy." Khea mengedipkan matanya, karena untuk mengangguk saja dia tidak bisa, mau bicara tapi sangat sulit.
Mereka meneteskan air mata. Anak sekecil itu, kenapa harus selalu dituntut dewasa, padahal dia seharusnya bisa bermain dengan riang tanpa memikirkan masalah yang berat.
__ADS_1
Gean mengupaskan buah untuk Khea. Bukannya teman-teman Khea tidak mau melakukannya, tapi sejak dulu memang seperti itu. Kalau Khea sakit, Gean ingin dia sendiri yang merawat satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini.