Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
73 Bertanya Atau Menuduh


__ADS_3

"Biarkan Vana pergi lebih lama lagi. Nanti kalau dia pulang, dia bisa kembali mengganggu hubungan aku dan Ken."


"Tapi Vara ...."


"Jangan cari dia. Toh, dia pergi juga karena kemauan dia, kan. Jadi dia juga bisa pulang sendiri tanpa kita mencarinya. Lagi pula, dia kan punya banyak teman. Pasti dia menginap di salah satu rumah temannya. Berikan Vana hukuman lebih lama lagi. Setidaknya, lakukan ini demi Vara. Vara selama ini sudah cukup bersabar menghadapi keegoisan Vana. Nanti dia bisa besar kepala dan menganggap kita mempercayai apa yang dia katakan itu adalah sebuah kebenaran. Kalau pun dia hamil, bukan berarti itu anaknya Ken. Aku sangat tahu bagaimana Ken."


"Baiklah, untuk saat ini papa tidak akan mencarinya. Tapi kalau sudah satu minggu Vana belum pulang, papa akan mencari Vana."


"Iya, Pa. Terima kasih banyak, karena sudah mau mengerti perasaan Vara."


Satu minggu kemudian


"Pa, ini sudah satu minggu, cepat papa cari Vana."


"Iya, Ma, papa akan mencari Vana."


Papanya Vara menyuruh anak buahnya untuk mencari Vana. Tidak ada yang tahu di mana keberadaan perempuan itu. Bahkan mereka saja tidak tahu siapa saja teman-teman Vana.


Di lain tempat

__ADS_1


"Benar kan, bukan kamu yang melakukan itu pada Vana, Ken?" tanya Rissa.


"Tentu saja bukan, apa kalian tidak percaya padaku?"


"Ck, sulit kan, menolak pesona Vana." Kembali Rissa berucap, seolah dia sendiri ragu akan pria itu.


"Kamu!"


"Oke, oke, aku percaya. Tapi belum tentu Vara percaya, kalau kamu juga tidak bisa memberikan bukti."


"Jadi, Vara meragukan aku?"


"Ya enggak gitu juga, Ken. Tolong maklumi dia. Dia pasti sedang bingung saat ini. Di satu sisi, ada adiknya—saudara satu-satunya. Di sisi lain, ada kamu sebagai tunangannya, orang yang dia cintai sekaligus sahabatnya."


"Ya sudah kalau begitu, tidak perlu takut."


"Kamu pucat, apa kamu sakit?" Kali ini Nio yang bertanya.


"Aku hanya kurang tidur saja, dan merasa kelelahan."

__ADS_1


"Mungkin kamu kurang istirahat dan terlalu memikirkan masalah itu."


"Ngapain dipikirkan, itu sih hanya akal-akalan Vana saja, biar semua orang menyetujui hubungan kamu dan dia," ucap Marco.


"Ini, minum dulu." Rissa memberikan minuman kepada ketiga pria itu, dan tidak lama kemudian, Vara datang.


Vara memang sering mengajak Ken, Nio dan Marco datang ke apartemen Rissa. Selain karena tempatnya yang strategis karena dekat dengan tempat masing-masing, juga di sini pusat kota.


"Wajah kamu pucat sekali, Ken." Vara menatap iba wajah tunangannya itu.


"Ini semua gara-gara Vana. Atas nama Vana, aku minta maaf ya, Ken. Aku tidak becus sebagai seorang kakak. Tapi ... memang bukan kamu, kan?" Vara tidak bisa tidak menanyakan masalah ini kepada Ken.


Entah Vana benaran hamil atau tidak, Vara hanya takut kalau hubungannya dengan Ken akan berakhir.


"Jadi kamu meragukan aku? Kalau memang kamu tidak percaya, ya sudah. Kita batalkan saja pertunangan kita, mumpung semuanya belum terlambat, toh kita baru bertunangan, bukan menikah!" bentak Ken.


Ken yang memang sedang merasakan pusing, sakit kepala, lelah dan kurang tidur, akhirnya tidak bisa menahan emosinya.


"Selain orang tua aku, seharusnya kamu menjadi orang pertama yang mempercayai aku, bukan malah berburuk sangka."

__ADS_1


"Kok kamu jadi marah? Aku kan hanya bertanya saja!"


"Kamu bertanya tapi seolah menuduh!"


__ADS_2