
"Ara, di mana Vana tinggal?"
Ara langsung mendengkus mendengar pertanyaan Marco.
"Ngapain kamu tanya-tanya? Mau menghina dia lagi? Mau menyakitinya? Mau merusak ketenangan dia?"
"Kamu kok bicaranya begitu?"
"Memang begitu kan kenyataannya? Selama ini kan kalian selalu menyakiti dirinya, menghina dia, merendahkan dia, bahkan tidak pernah peduli padanya. Kamu juga! Aku tahu selama ini kamu tidak pernah menyukai Khea. Ngomong-ngomong, namanya Khea, bukan Vana! Kamu dan para sahabat kamu itu selalu menghakimi Khea karena dia sangat mencintai pria bajingan itu! Dan kenyataannya, pria bajingan yang kalian bilang sahabat itu, hanya laki-laki brengsek yang seharusnya mati saja sejak dulu!"
"Enggak usah berlebihan seperti itu, Ara!"
"Berlebihan kamu bilang? Bajingan kok dibela. Ya begitulah kalau bersahabat dengan bajingan, virusnya jadi nular."
Ara langsung ke luar dari ruangan Marco, yang ternyata ada Ken juga Nio.
"Enggak perlu mencari tahu tentang Khea dan anaknya. Mereka lebih baik tanpa iblis seperti dirimu. Berbahagialah dengan penderitaan kalian. Dan aku orang pertama setelah Khea yang akan bertepuk tangan dan tertawa bahagia!"
Ara benar-benar menunjukkan kebenciannya. Tidak perlu berpura-pura bersikap baik hanya karena Ken adalah sahabat dari tunangannya.
Ken menghempaskan dirinya di sofa ruangan Marco. Dia mengurut keningnya. Sejak kembalinya Khea, hidupnya menjadi lebih kacau. Bukan Karena Khea yang mengganggunya seperti dulu, tapi karena fakta yang terkuak.
Andai dia bisa mengetahuinya lebih cepat. Bukan, andai saja semua masalah ini tidak terjadi.
__ADS_1
Ken memejamkan matanya, sampai akhirnya satu pertanyaan kembali membuat hatinya bimbang.
"Lalu setelah semua ini terkuak, bagaimana hubungan kamu dengan Vara?" tanya Nio.
"Tentu saja dia akan tetap bersama Vara." Bukan Ken yang menjawab, tapi Marco.
"Kalau kamu bersama Vana, lalu bagaimana dengan Vara? Pasti dia akan terluka dan sakit."
"Terus, kamu pikir selama ini Vana tidak terluka dan sakit? Hamil, melahirkan dan membesarkan anak selama enam tahun tanpa suami dan keluarga."
Perdebatan antara Marco dan Nio itu semakin membuat kepala Ken ingin meledak. Kenapa kedua sahabatnya itu malah berdebat? Bukannya menenangkan. Belum lagi tunangan Marco yang sangat menghakimi dirinya.
Juga keluarga besarnya yang ikut kena imbasnya. Apalagi semua orang yang ada di pesta itu juga sudah tahu mengenai hal ini.
Ken, pria penipu yang menghamili perempuan. Iblis bertampang malaikat.
Pria protagonis kini menjadi tokoh bejat.
"Aku pulang."
Ken sudah tidak kuat lagi kalau harus di sana lebih lama.
Ken sampai di apartemennya. Dia menatap sekeliling apartemen itu. Teringat dengan video perbuatannya pada Khea. Tempat ini, tempat yang dia duduki saat ini adalah saksi bisu semua itu.
__ADS_1
Flashback On
"Kenapa kamu tidak mau mengakuinya, Ken?" tanya opa, setelah mereka melihat CCTV itu.
"Aku memang tidak ingat soal itu, Opa."
Ken mencoba mengingatnya lagi, kapan saat itu terjadi, dan apa yang dia lakukan setelah itu.
Samar-samar dia mengingat enam tahu yang lalu.
Ken terbangun dari tidurnya, karena dering ponsel yang berbunyi. Setelah mengangkat panggilan itu dan mendengar apa yang disampaikan, Ken langsung merapihkan bajunya yang berserakan di lantai tanpa sempat mencerna apalagi memikirkan apa pun.
"Saat itu aku terbangun, karena mendapat telp dari papa yang mengatakan kalau saat itu juga aku harus segera ke London karena Oma masuk rumah sakit dan ada masalah pekerjaan. Ken berada di London selama dua minggu dan sangat sibuk. Lagi pula, Ken juga tidak ingat apa-apa soal kejadian malam itu. Ken sibuk menjaga Oma dan mengurus perusahaan. Papa dan Opa bisa memeriksa kebenaran itu. Kalian ingat kan, saat itu Ken memang pergi ke London dan berada di sana dalam jangka waktu yang cukup lama. Lagi pula, Vana juga setelah kejadian itu tidak melaporkan apa yang terjadi pada keluarganya."
"Apa kalau dia melaporkannya, kalian akan percaya begitu saja? Saat dia mengatakan dia hamil anak kamu, apa ada yang percaya padanya?" tanya opa.
Mereka diam, karena jawabannya tidak. Tidak akan ada yang percaya padanya, karena mereka pasti berpikir kalau itu hanya akal-Vana saja untuk merusak dan membatalkan puasa Ken dan Vara.
"Opa sangat menyesal saat itu tidak ada di acara pertunangan kamu!"
"Maafkan aku, Sayang. Kalau saja aku tidak sakit, kita pasti bisa datang ke sana," ucap Oma.
"Buka salah kamu, Honey. Uang salah adalah anak dan ayah ini sangat bodoh!"
__ADS_1
Opa menyalahkan anak dan cucunya yang sudah membuat dia malu. Masalah ini justru terbongkar di hadapan para pengusaha ternama. Mau ditaruh di mana mukanya?
Flashback Off