
"Halo, saya Jessica."
Mereka berkenalan dengan Jessica, perempuan muda yang ramah dan baik. Perempuan itu ikut membantu menjaga Khea, terutama di saat perempuan itu kumat.
Khea sendiri, setelah melahirkan, melanjutkan pendidikannya, tapi dia kuliah online dengan bantuan teman-temannya yang mengurus semuanya.
Wajah bayi laki-laki tampan itu, sangat mirip dengan Ken. Setiap kali Gean menangis meminta ASI, Khea akan panik.
Nalurinya sebagai ibu, membuat dia menyusui anak laki-lakinya itu.
Jujur saja, ada perasaan jijik dalam diri Khea menyusui Gean. Gean sendiri tidak pernah mau menyusu dari botol susu. Tidak juga mau meminum susu formula.
Ada perasaan enggan menatap wajah anaknya itu. Tapi lagi-lagi, dia juga mengalami pergolakan batin yang berat, yang hanya dia sendiri saja yang tahu bagaimana berat rasanya.
Ada perasaan sayang sebagai ibu, ada perasaan benci sebagai seorang perempuan sekaligus korban pemerkosaan.
Jadi, apa yang harus dia lakukan?
Suatu pencapaian luar biasa, bahwa Khea masih hidup hingga saat ini.
Setiap kali melihat wajah bayi tampan itu menangis meminta ASI, ada dorongan setan untuk membanting bayi itu, untuk mencekiknya, atau memberinya racun.
Khea fokus dengan kuliah onlinenya. Tidak memiliki teman kampus satu pun, tidak ada yang mengenal dirinya.
"Ini, aku berikan alat untuk mendesign. Semua karyamu bagus, kamu akan menjadi designer yang terkenal. Kamu akan menjadi orang yang sukses."
Perkataan-perkataan positif dari Jessica, dengan sentuhan lembut di punggungnya. Begitu juga dengan Austin dan sahabat Khea yang lainnya.
__ADS_1
Satu baju.
Dia baju.
Hingga puluhan baju Khea buat.
Dengan merek CryStar.
Cry, yang berarti menangis.
Star yang berarti bintang.
Bintang yang menangis.
Khea adalah bintang, bintang yang menangis. Seorang bintang yang penuh dengan tangis dan duka untuk tetap mempertahankan hidupnya. Seorang bintang yang banyak mengeluarkan air mata untuk benar-benar menjadi seorang bintang.
Khea seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Satu sisi dia menjadi ibu yang baik, satu sisi dia seperti mengidap gangguan jiwa.
Gean semakin besar. Ada kalanya Khea menjaga jarak dari anak itu, ada kalanya Khea begitu dekat.
Gean yang semakin besar pun, merasa ada yang berbeda dari sang mommy.
"Semakin hari, wajah Gean semakin mirip dengan pria itu."
"Benar, aku takut Gean kenapa-kenapa. Takut Khea khilaf dan lepas kontrol."
Benar, setiap ada perasaan ingin menyakiti Gean, maka Khea akan menyakiti dirinya sendiri, bahkan Gean—tanpa sepengatahuan siapa pun, sering melihat itu.
__ADS_1
Mommy ....
Pria itu? Siapa pria itu?
Gean mulai masuk play group.
Khea mulai ke dunia luar.
"Eh, anak itu tidak punya Daddy."
"Benar, tidak jelas siapa Daddy-nya."
"Banyak pria yang mengantar jemput anak itu, jadi yang mana ayahnya?"
"Mungkin ibunya sendiri tidak tahu yang mana ayahnya."
"Mungkin ibunya pelacur."
"Ibunya seperti mayat hidup."
Berbagai hinaan Gean terima, tapi anak itu diam saja. Dia tidak mau menceritakan apa pun pada siapa pun. Tidak mau menambah beban ibunya, para aunty-nya, juga para uncle-nya.
Semua dia pendam sendiri, dan bertanya dalam hati, "Kenapa? Siapa?"
Setiap hari melihat wajah Khea, diam-diam melihat perempuan yang melahirkannya itu menangis, histeris, mencoba bunuh diri agar tidak menyakiti dirinya (Gean).
Gean yang masih sekecil itu, bisa apa?
__ADS_1