Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
7 Pertanda


__ADS_3

7 Pertanda


“Keputusan aku sudah bulat, Vara. Aku harap kalian semua bisa menerimanya dengan lapang dada.”


“Opa akan mendukung kamu. Memang itu yang terbaik untuk kalian semua, terutama cicit opa.”


“Tapi bagaimana dengan aku, Opa? Apa kalian tidak memikirkan perasaan aku?”


“Cukup. Aku hanya akan menerima Khea sebagai cucu menantuku, dan dari rahimnya cicit-cicitku akan dilahirkan.”


Vara sungguh tidak mengerti, kenapa opa Vean itu begitu menginginkan Khea sebagai cucu menantunya. Apa hanya karena ada Gean? Kalau memang begitu, tidak sampai harus hanya menginginkan cicit dari rahim Khea saja, kan?


Dia juga bisa memberikan mereka keturunan dari rahimnya.


“Aku juga bisa memberikan opa cicit, dari rahimku yang lebih bersih, bukan hanya anak haram!”


Brak


Ken menggebrak meja.

__ADS_1


“Kau lihat sendiri Vara. Bahkan kamu saja—belum apa-apa—sudah menghina anakku, merendahkannya!”


“Maaf Ken, aku hanya sedang emosi saja. Aku tidak bermaksud begitu.”


“Pa, Ma, tolong bicara dengan Ken.”


“Lebih baik lepaskan Ken, Vara.”


“Tidak, tidak, kenapa kalian semua menjadi seperti ini? Ini tidak adil untukku.”


“Vara, kamu masih muda. Mungkin saja Ken memang bukan jodoh kamu. Lihat sendiri kan, bagaimana selama bertahun-tahun ini, pernikahan kalian selalu saja ditunda, bahkan sebelum kedatangan Vana dan Gean. Mungkin Tuhan—sejak dulu—sudah memberikan tanda, kalau Ken bukanlah untuk kamu, tapi untuk Vana.”


Vara lalu pergi meninggalkan mereka, membawa rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang dicintai dan keluarganya sendiri.


Vara duduk di taman, menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Setelah bertahun-tahun bersama, selalu setia tanpa peduli dengan para pria yang mendekatinya, Bisa-bisanya dia malah dibuang begitu saja.


Kenapa tidak dari awal saja mereka menyuruhnya mengalah?


Dulu Vana yang mereka buang, sekarang dia.

__ADS_1


Hati siapa yang tidak sakit?


💕💕💕


Gean sedang membuat lukisan. Lukisan seorang bayi yang dipeluk oleh ibunya. Tangan anak itu sangat terampil dalam melukis. Setelah selesai menyelesaikannya, dia memfotonya dan mengunggahnya di sosial media miliknya, dan langsung mendapatkan banyak tanggapan.


Banyak pencinta lukisan yang ingin membeli lukisan-lukisan miliknya, dan anak sekecil itu sudah bisa menghasilkan uang sendiri.


Kalau mommy sudah tua nanti, mommy tidak perlu bekerja keras. Cukup duduk dengan santai di taman, dan aku yang akan membahagiakan mommy selamanya.


Gean jadi teringat saat dia berjalan dengan Khea di mall. Melihat seorang anak yang memiliki seorang adik. Entah adik laki-laki atau perempuan, Gean tidak tahu. Dia jadi membayangkan bagaimana rasanya memiliki seorang adik?


Kalau pria itu menikah, maka aku akan memiliki adik. Tidak, dia bukan adikku. Aku tidak akan pernah mengakuinya, seperti mereka yang tidak pernah mengakui aku dan mommy.


Gean kembali teringat, saat Ken menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Daddy, dan mereka menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan opa oma.


Tidak ada gunanya sekarang mengakui aku, di saat mommy telah melewati rasa sakit itu sendirian, tanpa mereka di sisinya.


Mommy sudah berjuang seorang diri, dan di saat mommy sudah bisa bangkit dengan kakinya sendiri, mereka dengan seenaknya ingin diakui. Tidak akan aku biarkan.

__ADS_1


__ADS_2