
5 SATU PAKET
Jantung Ken berdetak tak menentu. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Dia merasa gelisah, dan hatinya berkata dia akan bertemu dengan orang-orang yang dia rindukan.
Khea, Gean ....
Ken terus menyebut nama keduanya dalam hatinya. Seolah dengan menyebut nama itu berkali-kali, maka mereka berdua akan ada di hadapan Ken saat itu juga.
Ken sangat memahami debaran jantungnya. Merasakan hati yang bergejolak, jantung yang berdebar seperti irama musik lagu cinta.
Dan benar saja ....
Itu dia, di hadapannya, seseorang yang sangat dia rindukan.
Melihat wajah yang ternyata langsung membuat hati Ken menghangat.
Ken bahagia, pria itu bersyukur dan tidak tahu cara untuk mengungkapkannya.
Selama beberapa tahun ini, nama-nama yang selalu doa sebut dalam setiap doa dan harapannya. Ingin dia membekap, mencium dan mengatakan rasa sayang terus-menerus.
Dan Ken, menyebut nama itu penuh kelembutan.
“Gean?”
Gean menatap seseorang yang menyebut namanya dengan penuh kerinduan. Anak laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya, saat melihat orang-orang itu. Anak itu kembali melanjutkan makannya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Ken menatap wajah anaknya, yang ternyata semakin mirip dengannya.
“Sayang, kamu di sini? Mana mommy? Kamu sehat-sehat saja, kan?”
__ADS_1
Ingin sekali Ken memeluk anaknya itu, ingin meluapkan segala kerinduannya.
“Minggir!” ucap seseorang di belakang mereka.
Kini Ken menatap wajah ibu dari anaknya, yang semakin terlihat cantik dan dewasa.
“Vana, mama kangen sekali sama kamu.”
Khea mendengus, bertahun-tahun dia mencoba menghilangkan segala rasa sakit itu, tapi nyatanya masih belum bisa meski dia sudah pergi jauh dan cukup lama.
“Akhirnya kalian kembali juga, Papa senang bisa melihat kalian lagi.” Pria itu lalu memeluk putrinya.
Khea tidak membalas, tapi juga tidak menolak. Vara menatap Khea dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu melirik Ken.
“Apa kamu datang untuk melihat pernikahan aku dan Ken?”
“Jangan terlalu percaya diri, kalian tidak sepenting itu sampai-sampai aku harus membuang waktu untuk acara yang tak berguna.”
“Gean, Daddy kangen sama kamu.”
Sudah cukup selama dua tahun ini dia menahan rindu. Kali ini, dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan hati anaknya itu. Apa pun caranya, bagaimana sulitnya, dia tidak akan menyerah.
“Daddy merindukan kamu, Sayang.”
“Jangan sentuh aku!” ucap Gean sebelum Ken memeluknya.
Pandangan anak itu tetap mengarah ke makanannya, namun tidak demikian dengan pikirannya.
Khea dan Gean memang kembali ke Jakarta, bukan tanpa alasan. Masalah terjadi di butik Dhea yang ada di kota ini.
__ADS_1
“Mom, ayo kita pergi.”
“Habiskan dulu makanan kamu, Sayang.”
Gean mengangguk, mulai menyuapi makanan yang masih tersisa. Selesai makan, mereka lalu kembali ke kamar hotel mereka, tanpa mempedulikan yang lainnya.
💕💕💕
Sudah dua hari Khea dan Gean di Jakarta. Mereka kini masuk ke unit kondominium mereka yang baru.
“Gean, apa Gean tidak ingin bersama Daddy?” tanya Khea.
Dia hanya ingin tahu apa yang anaknya itu rasakan. Bisa saja Gean merindukan sosok Daddy kandungnya, hanya saja mungkin masih menjaga perasaan Khea.
Khea tahu, Gean suka memandang anak-anak yang jalan bersama kedua orang tuanya, melihat mereka yang terlihat bahagia. Tidak hanya anak kecil, orang dewasa saja ada perasaan iri jika orang lain bahagia sedangkan dia tidak.
“Cukup dengan Mommy.”
“Mommy tidak akan melarang Gean jika ingin bersama dengannya.”
“Cukup dengan Mommy.” Lagi, itu yang dikatakan oleh Gean.
Lagipula, dia akan menikah dengan perempuan lain. Pasti akan memiliki anak yang lain, dan lagi-lagi aku yang akan terbuang. Aku dan mommy satu paket, jika dia tidak bisa menyayangi mommy, bagaimana bisa dia menyayangi aku. Mereka dulu membuang mommy, sedangkan ada aku dalam diri mommy. Aku bukan barang yang yang setelah dibuang, bisa dipungut lagi hanya karena mereka pikir masih berguna.
Luka yang mereka torehkan begitu dalam. Dibuang sebelum dirinya hadir ke dunia ini.
Malam harinya, Gean bangun dari tidurnya. Memandang langit di balkon kamarnya. Gean menghela nafas berat.
Bagaimana rasanya memiliki seorang Daddy?
__ADS_1
Gean kembali masuk ke dalam kamarnya. Sudah beberapa menit, tatap saja dia tidak merasakan kantuk. Begitu juga yang dirasakan oleh pria dewasa yang seharusnya dipanggil daddy sejak lama itu.
Ken meyakinkan hatinya sendiri, kalau semua masalah ini akan mendapatkan titik terang.