
"Kamu pasti tahu kan, papa kamu itu mau menikah dengan perempuan lain. Dia pasti tidak mau punya anak seperti kamu. Papa kamu akan memiliki anak lain yang sangat dia sayang dari orang lain, bukan kamu dan mama kamu." Anak yang selalu mengatai Gean dan berkelahi dengannya itu, kembali mengejek Gean.
Dia tersenyum mengejek pada Gean, senang melihat wajah Gean yang terlihat datar. Anak itu sering mendengar mamanya bergosip dengan teman-teman sosialitanya, membicarakan tentang hal yang sebenarnya tidak baik untuk di bicarakan, apalagi di depan anak-anak. Jadi tidak heran pengaruh buruk itu menular pada anak sekecil itu.
"Dasar anak haram. Anak haram, anak haram ...."
Bugh
"Aw!"
Mereka kembali berkelahi, kali ini Gean benar-benar melupakan kemarahannya. Dia tidak suka mencari masalah, tapi kalau ada orang lain yang menghina sang mommy, mau itu anak-atau orang dewasa, laki-laki atau perempuan, maka Gean tidak akan diam saja.
Teman-teman anakniti membantu dia untuk membalas Gean.
"Mana tuh teman-teman kau yang tiga orang itu."
__ADS_1
Chiro yang melihat Gean akan dikeroyok, langsung membantunya, diikuti oleh Radhi.
"Kamu duduk saja, Raine."
Salah satu murid langsung memanggil guru, mereka langsung memisahkan anak-anak itu.
Seperti sebelumnya, apes orang tua itu kembali marah. Kepala sekolah juga Sidah menghubungi orang tua Chiro dan Radhi, dsn kali ini Chiro tidak bisa mencegah Daddy dia datang. Chiro bukannya takut pada sang daddy, hanya tidak mau Daddy dia jadi khawatir dan sedih.
Arby dan Marva marah-marah melihat putra mereka terluka. Anak-anak itu menjelaskan apa yang terjadi.
"Anak kami tidak mungkin seperti itu," bela salah satu orang tua murid.
"Bu ... bukan begitu, Tuan. Kenapa tidak keluarkan saja anak ini dari sekolahan ini."
"Jangan sembarangan, Bu!" protes Khea.
__ADS_1
"Tapi anak ini memang tidak pantas berada di sini."
"Semua anak pantas sekolah di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan. Selama mereka mau belajar dan bersikap baik, maka gerbang sekolah ini akan selalu terbuka untuk mereka."
Khea melirik Daddy Chiro, sedangkan Gean melirik Chiro, Radhi dan Raine, karena yang datang hanya Daddy mereka saja. Lagi-lagi anak itu berpikir kalau ketiga temannya tidak memiliki mommy. Dia jadi merasa kalau mereka itu senasib.
Tapi tetap saja, mereka bukan anak haram seperti yang selalu orang-orang itu lontarkan padaku, kan?
"Sekolah ini untuk mereka yang sungguh-sungguh mau belajar, bukan buat orang yang suka mem-bully dan penghasut!"
Wajah orang tua murid itu merah padam, merasa tertohok dengan perkataan si mulut pedas. Kalau mereka bisa berkata kejam, maka pria yang satu ini juga bisa lebih kejam lagi, apalagi kalau sudah berkolaborasi dengan bebebnya.
"Sekolah ini tidak butuh mereka yang suka menyakiti teman lainnya dan suka merendahkan keberadaan mereka. Jadi, yang tidak bisa mematuhi peraturan di sini, bisa hengkang dari sini. Sekolah ini tidak akan bangkrut hanya karena kehilangan dua tiga murid saja. Keluar satu, masuk seribu!"
Yang lain menahan senyum dengan perks yang Arby katakan, terutama Marva. Dia sudah tidak heran lagi dengan kosa kata pria itu.
__ADS_1
...🌼🌼🌼...
Gean tidak mau lagi kembali ke sekolah. Dia tidak mau terus menerus menjadi bahan ejekan teman-temannya. Memang tidak semua, tapi tetap saja membuat dia membenci orang-orang itu.