Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
58 Memar


__ADS_3

Mereka tiba di loby apartemen Khea. Arka membukakan pintu mobil untuk Ken. Khea keluar dari mobil itu, menghampiri Arka.


Bugh


Bugh


Bugh


Tanpa ba-bi-bu perempuan itu menonjok Arka.


"Apa yang kamu laj Khea!" Ken menarik tubuh Khea agar dia melepaskan Arka.


Bugh


Bugh


Bugh


Dia lalu menonjok Ken dan pria itu hanya bisa meringis. Bukannya dia tidak bisa membalas, tapi dia tidak mungkin memukul seorang pere, apalagi itu ibu dari anaknya.


"Aku tidak pernah main-main dalam ucapan aku. Berhenti mengganggu aku dan Gean. Jika sekali lagi kalian berani membawa aku dengan paksa, maka aku akan membuat junior kalian itu mati rasa."


Arka yang mendengar itu menelan salivanya, dan secara reflek menutupi bagian terpenting dari masa depannya itu. Mendengar perkataan Khea itu, bukannya merasa takut, Ken justru menahan tawa. Tapi sejak kapan Khea bisa bela diri? Apa mungkin perempuan itu sudah bisa sejak dulu, hanya dia saja yang tidak pernah tahu?


Ken melihat Khea yang meninggalkannya, masuk ke loby apartemen. Sebenarnya Ken ingin ikut masuk ke dalam, melihat keadaan Gean yang saat ini sedang sakit. Tapi mengingat Khea yang masih dalam mode sangarnya, Ken hanya bisa menahan diri. Dia tidak ingin Gean melihat dia dan Khea bertengkar. Dia ingin memberikan kesan yang baik untuk anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


Cepat sembuh, Sayangku. Daddy sangat menyayangi kamu.


Hanya itu hanya bisa Ken ucapkan, meski dalam hati. Ken lalu melihat Arka Jang mengusap wajahnya yang memar karena pukulan Khea. Wajahnya juga tidak kalah jauh. Ken lalu menepuk pundak Arka.


"Siapkan diri kamu sebaik mungkin. Mulai hari ini mungkin kamu akan menjadi samsak bagi Khea."


Arka menghela nafas. Kenapa dia Haris ikut terlibat dalam masalah bosnya ini?


Khea memasuki unit apartemen miliknya. Dilihatnya Gean yang sedang memakan buah yang sudah dipotong-potong. Meski sedang sakit, tapi anaknya itu tetap membaca buku.


"Bagaimanapun keadaan anak mommy?"


"Baik mommy. Gean sudah makan dan minum obat."


Obat yang dimaksud oleh Gean di sini adalah minuman herbal yang dibuat sendiri.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Ken tiba di rumahnya. Di sana sudah ada Vara dan juga orang tua mereka.


"Ken, apa yang terjadi padamu?" tanya Vara.


"Tidak apa-apa."


"Katakan yang sejujurnya, apa kamu membuat masalah lagi?" tanya Ronald. Opanya Ken itu sudah sangat kecewa pada Ken sejak masalah Khea terbongkar.

__ADS_1


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa tapi wajah kamu bisa seperti itu. Berilah alasan yang masuk akal kalau memang mau berbohong!"


"Benar tidak ada apa-apa, Opa." Tidak mungkin Ken mengatakan ini hasil perbuatan Khea. Hubungannya dengan Khea belum membaik, dia tidak mau menambah keadaan menjadi lebih buruk lagi.


Mereka hanya melihat Ken, yakin kalau pria itu berbohong. Tapi melihat Ken yang juga terlihat tidak ingin membicarakannya lebih lanjut, membuat mereka akhirnya diam saja.


Vara lalu mengambil kotak obat, mengobati luka di wajah Ken.


"Seharusnya kita melaporkan masalah itu pada polisi," ucap Vara.


"Jangan!" ucap Ken dengan cepat.


Mereka menatap heran pada pria itu. Biasanya Ken tidak akan diam saja bila ada yang berani mengganggunya, apalagi sampai melakukan tindak kekerasan seperti ini. Tapi kenapa sekarang pria itu malah diam saja, seolah apa yang terjadi padanya bukan hal yang serius.


"Apa semua ini ada hubungannya dengan Vana?"


.


.


.


Makasih buat teman-teman yang sudah membaca cerita ini, dan selalu mendukung karya-karyaku. Alhamdulillah awal tahun ini aku naik level, itu juga berkat dukungan kalian. Terus dukung aku ya๐Ÿ™‚ Follow akunku biar kalian dapat info terbaru seputar karya-karyaku mendatang.


Kalian juga bisa baca karya temanku Mama Lana๐Ÿ™‚

__ADS_1


__ADS_2