
Vara belajar ini itu, dan ternyata terbukti, kedua orang tuanya semakin perhatian padanya. Salah memuji dan memberikan apa saja yang dia mau.
Berbeda dengan Vana yang hobinya bermain. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri saat dinasehati.
Jika kedua orang tua Vara merasa senang dengan segala prestasi Vara, maka berbeda dengan Ronald—opa Ken—yang sepertinya lebih perhatian kepada Vana. Apa saja yang Vana mau, akan dia berikan, padahal Vana bukan cucu kandungnya. Vana akan selalu diajak jalan-jalan, dibelikan ini itu, dan itu membuat Ken merasa kesal. Dia dituntut itu, tapi kenapa bukan dia yang diperhatikan?
Perasaan senasib dengan Vara, membuat Ken semakin dekat dengan sahabat kecilnya itu. Mereka akan saling curhat. Mengeluhkan tuntutan keluarga, dan berbicara tentang Vana yang semakin hari, semakin menyebalkan dari sudut pandang mereka.
Ken tidak lagi peduli pada Vana.
Vara dan Vana tumbuh menjadi gadis yang cantik, namun karakter berbeda jauh. Vana yang selalu tampil cantik, dan seksi, padahal dia masih sekolah menengah pertama, membaut Ken semakin kesal.
Dia kesal, iri, dan tidak suka apra laki-laki melihat Vana seperti itu.
"Masih kecil, centil banget, sih!"
__ADS_1
"Apa sih, Kak Ken, aku kan mau jadi model. Jadi harus menjaga penampilan." Vana yang masih SMP, bergelayut manja pada pemuda itu.
"Lepas!"
Ada perasaan rindu pada diri Ken kepada Vana, saat mereka masih kecil. Saat Vana merengek padanya meminta boneka dan es krim. Meminta digendong dan lainnya. Tapi ada juga rasa iri dan benci.
Iri, kenapa Vana bisa melakukan apa saja yang dia mau. Iri, kenapa Vana bisa abai dengan keinginan kedua orang tuanya, tapi tetap terlihat baik-baik saja saat dimarahi.
Bahkan, Vana yang saat itu masih sekolah dasar, sudah bisa memutuskan saat dewasa nanti, dia akan menjadi model internasional.
Ronald pun, terlihat bangga pada cucu orang lain itu. Bukannya bangga pada cucu sendiri. Di lubuk hati terdalam, Ken ingin bisa seperti Vana, yang lepas dengan segala ekspresinya.
"Apaan, sih. Ini tuh masih ketutup, tahu! Nanti kalau aku jadi model, disuruh pakai bikini, masa mau pakai seprei kasurnya kak Ken!"
Ken menganggap Vana pembangkang, susah dikasih tahu. Centil, cenderung murahan. Berbagai pikiran negatif, sudah tersemat untuk gadis itu.
__ADS_1
"Tutupi tubuhmu! Seharusnya tubuhmu itu hanya untuk suami kamu, bukan dipamerkan ke orang-orang."
"Siapa yang pamer! Memangnya aku bugil? Aku pakai rok pendek, juga masih pakai celana pendek kok di baliknya. Mau lihat, nih?"
"Stop Vana, dasar gak tahu malu."
"Siapa yang gak tahu malu? Aku kan cuma mau buktikan saja. Jangan asal nuduh, deh. Eh, jangan-jangan Kak Ken cemburu, ya?"
"Apaan, sih!"
Ken langsung memalingkan wajahnya.
"Tenang Kak, walau nanti aku jadi model internasional, dan berfoto dengan banyak pria tampan dan seksi, aku tetap akan menyukai Kakak. Tetap setia. Kakak tunggu aku sukses jadi model, ya."
"Gak usah kepedean. Siapa juga yang mau sama kamu! Kamu lihat tuh, Vara. Bajunya sopan, bicaranya lembut, pintar, paham bisnis."
__ADS_1
"Halah, buat apa aku mau seperti dia? Dikontrol orang lain, gak bisa jadi diri sendiri, gak punya impian. Hidup itu hanya sekali, jadi harus bahagia. Buat apa menyenangkan orang lain, kalau hati tidak bahagia. Yang ada nanti gila! Gak akan ada habisnya, Kak, kalau hanya berusaha menyenangkan orang lain, tapi lupa bahagia untuk diri sendiri."
Ken yang mendengar itu, merasa tertohok. Dia malah semakin kesal dengan Vana, karena dalam hati mengakui, apa yang Vana katakan itu memang benar.