
"Vara, aku melihat Vana."
"Apa? Di mana?"
"Di jalan. Aku melihat dia bersama dengan dua orang pria. Ini, aku memfotonya."
Vara melihat Vana yang dirangkul oleh seorang pria, sedangkan di sebelahnya pria lain juga sedang merangkulnya.
"Kalian sekeluarga sudah mati-matian mencarinya dan mengkhawatirkan dirinya, tapi dia malah bersama dengan banyak pria sekaligus."
"Kirimkan ini ke ponselku."
Rissa segara mengirimkan foto itu ke ponsel Vara. Vara sendiri langsung pulang setelah menerima foto itu.
"Pa, Ma," teriak Vara.
"Ada apa, sih, teriak-teriak begitu!"
__ADS_1
"Coba Papa dan Mama lihat ini!"
Kedua orang tua Vara terbelalak melihat foto-foto itu. Jelas sekali itu Vana, tapi dengan dia pria yang mereka tidak tahu siapa, karena tidak jelas wajahnya.
"Vana itu, bukannya pulang dan meminta maaf pada kita karena telah memperlakukan kita dan memfitnah Ken, tapi malah pergi dengan dua orang pria sekaligus. Pantas saja dia hamil di luar nikah. Sudah Pa, Ma, anak seperti itu tidak usah dicari. Biarkan saja dia hidup liar di luar sana!"
"Dasar anak tidak tahu diri! Kita di sini mengkhawatirkan dirinya, tapi dia semakin membuat ulah!" ucap papanya.
"Kalau memang hamil, entah anak siapa yang dikandungnya itu."
"Tapi ...."
💕💕💕
"Ken ingin kami segara menikah."
"Kenapa cepat sekali? Kamu kan lagi bagus-bagusnya di karir, apa tidak sayang?"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Ya, kamu kan sedang meniti karir. Nanti kalau kamu cepat menikah, lalu punya anak, kamu pasti akan kerepotan. Bukankah menjadi wanita karir dan meneruskan perusahaan papa kamu adalah impian kamu? Apa kamu siap kehilangan impian kamu yang sudah kamu perjuangkan dari kecil? Apa tidak sayang, kamu menyia-nyiakan perjuangan kamu sejak kecil? Belajar, kursus ini itu, tapi malah kamu lepaskan begitu saja."
"Iya, sih. Jadi, aku harus bagaimana?"
"Kalau saran aku, sih, kamu bilang saja pada Ken, kalau kamu masih ingin fokus pada karir. Kamu juga bisa mengatakan hal yang sama pada Ken, kalau dia sebaiknya fokus dulu pada karirnya."
"Apa dia setuju?"
"Aku yakin dia akan setuju kalau kamu menyampaikannya dengan cara baik dan bisa dipahami. Lagian, kalau memang dia mencintai kamu begitu besar, dia pasti tidak akan menghalangi karir kamu, dan mendukung kamu sepenuhnya. Sama seperti kamu yang akan mendukungnya, kan? Apa kamu akan menghalangi impian Ken?"
"Tentu saja tidak. Aku akan selalu mendukung dia."
"Ya memang seharusnya kalian seperti itu, harus saling mendukung. Kalian masih muda, jalan masih panjang. Toh yang penting kalian saling setia. Tidak akan ada lagi yang menghalangi hubungan kalian. Vana sudah pergi jauh bersama pria lain. Nanti kalau kalian punya anak, pasti fokus kalian akan terbagi. Kalau kalian kurang sabar dan kelelahan, bisa-bisa kalian malah bertengkar, yang paling parah adalah bercerai. Ken bisa saja mencari perempuan lain untuk sekedar curhat, ujung-ujungnya selingkuh."
"Gitu, ya? Tidak, aku tidak mau itu terjadi."
__ADS_1
"Makanya, jangan terburu-buru menikah. Puas-puaskan dulu masa lajang, mempertinggi karir. Nanti juga ada saatnya kamu fokus pada rumah tangga kamu. Ken pasti akan memahami dan menyetujui semuanya. Kan ini demi kalian berdua, demi masa depan kalian."