
"Cukup, kalian tidak berhak memaksa anakku untuk tinggal bersama kalian. Saat ini aku memang sakit, tapi bukan berarti aku tidak bisa mengurus Gean," ucap Khea pada ke kedua orang tua Vara dan Ken.
"Khea, bukan begitu. Mama juga bisa menjaga kamu sampai kamu sembuh. Kamu dan Gean pulang ke rumah ya, Sayang?"
"Aku akan ke rumahku sendiri begitu aku keluar dari rumah sakit. Kalau Gean tidak betah di sini, doa bisa memilih satu dari sahabat-sahabatku untuk tinggal menemaninya."
"Enggak mau, Gean mau di sini saja sama Mommy."
"Baiklah, Gean akan tetap bersama mommy."
"Jangan egois, Khea."
"Kalian yang egois, memaksakan kehendak pada anak kecil. Apa kalian tidak malu?"
"Kami hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua, kenapa kamu tidak pernah mau memahaminya dan selalu berpikiran buruk?"
"Tidak perlu aku memahami dan memikirkan pun, kalian memang sudah buruk. Membuang anak dsn calon cucu hanya karena berpikir aku menipu kalian. Menyuruh aku mengalah demi anak yang lain. Bahkan Gean yang lahir tanpa status pernikahan pun, yang mungkin bisa menjadi aib bagiku, tidak pernah aku, mengusirnya, membuangnya, tidak mengakuinya, apalagi malu karena dia.
Mereka merasa tertohok. Tidak bisa lagi berkata-kata.
...🌼🌼🌼...
__ADS_1
Mediasi yang dilakukan berjalan alot.
"Begini saja, coba tanyakan pada anakku, apakah dia mau tinggal bersama mereka apa tidak. Jangan berpikir aku yang mempengaruhinya."
Gean di bawa ke ruangan kosong, di mana di sana hanya ada Gean dan tim perlindungan anak.
"Gean, apa kamu ingin bertemu dengan Daddy kamu?"
"Tidak."
"Apa ingin bertemu dengan nenek, kakek, eyang, dan aunty kamu?"
"Tidak."
"Tidak."
"Apa yang mommy kamu katakan tentang mereka?"
"Tidak ada."
Mereka menghela nafas. Tidak mau membuat anak itu tertekan. Mereka juga memperhatikan keseharian Khea dan Gean selama di rumah sakit. Anak itu benar menyayangi mamanya dan selalu bersikap tak acuh kepada Ken dan keluarganya. Dia juga menunjukkan kemandiriannya, dan kedewasaan untuk anak seumurnya, bahkan lebih.
__ADS_1
Berat badan, kepintaran, apa saja yang telah Gean pelajari, semuanya didata. Tidak ada tanda-tanda kalau selama ini Khea lalai menjaga anak itu.
Gean merasa sakit hati.
"Apa kalian pikir mommy tidak bisa menjaga aku dengan baik? Kalau mommy tidak peduli padaku, kasti sudah sejak dulu aku mati." Gean menatap orang-orang itu tajam, yang dia pikir terlalu banyak ikut campur. Merendahkan sang mommy yang tidak bisa mengasuh seorang anak.
"Mommy aku adalah mommy terhebat di dunia ini. Bukan seorang mommy yang mengusir anaknya. Kenapa bukan perempuan seperti itu saja yang dipantau? Kenapa bukan Daddy yang seperti itu yang dipenjara, yang tidak mau mengakui anaknya?"
Glek
Lagi-lagi perkataan itu sangat menohok. Mereka seolah kalah dengan perkataan anak kecil. Merasa malu dan semakin merasa bersalah.
"Mommy, lebih baik kita pergi saja dari sini. Ini tempat yang sangat buruk untuk kita berdua."
"Ya, Gean, kita akan pergi dari sini. Sesuai dengan yang Gean mau."
...🌼🌼🌼...
Khea berusaha sembuh lebih cepat. Dia rajin terapi untuk tangan dan kakinya. Ini dia lakukan bukan hanya demi dirinya, tapi juga anaknya. Setelah semua kejadian ini, semakin meyakinkan Khea kalau ini adalah batas akhirnya.
Akan ada dia dan Gean di antara Ken dan Vara.
__ADS_1
Akan ada Vara di antara dia, Ken dan Gean.