
Ken berusaha menenangkan degup jantungnya. Dia mendadak merasa menjadi orang bodoh. Ini lebih buruk daripada sidang skripsi, tapi lupa dengan materi. Lebih parah dari meeting dengan rekan bisnis, tapi tidak memahami jalannya meeting.
"Aku ... aku ...." Bibir Ken mendadak kelu.
Kenapa aku merasa seperti akan menembak seorang gadis? Ini bahkan lebih mendebarkan saat bersama Vara dulu.
Ternyata tidak mudah bagi Ken menghilangkan kegugupannya. Dia bahkan tidak sadar membasahi bibirnya dsn menggigitnya. Pria itu meremas tangannya sendiri, merasa hawa sangat panas tapi juga dingin.
"Kalau hanya ingin membuang-buang waktuku saja, lebih baik kamu segara pergi!"
"Khea, masalah soal Vara dan opa, aku benar-benar tidak ada hubungannya. Aku baru saja kembali ke sini, semua itu diluar kendaliku. Tolong jangan salah paham lagi padaku, Khea." Ken berkata dengan cepat, tidak mau kalau sampai Khea marah lagi dsn mengusir dirinya.
__ADS_1
"Dengar, aku tidak peduli kalau kamu akan menikah dengan perempuan itu atau tidak, tapi jangan pernah menyakiti hati anakku. Anakku selama ini sudah sangat menderita, jangan lagi menambah kesedihannya."
"Maafkan aku, Khea. Aku benar-benar menyayangi Gean. Aku memang salah karena dulu pernah tidak mengakuinya, tapi sekali lagi aku tegaskan, itu karena aku benar-benar tidak mengingatnya sedikit pun. Aku melakukan itu di laut kesadaran aku. Kalau saja aku ingat, aku akan langsung menikahi kamu saat itu juga, menjadikan kamu istriku dan membesarkan anak kita bersama." Ken memegang tangan Khea. Khea berusaha melepaskan pegangan tangan itu, tapi Ken menggenggamnya sangat erat.
"Ayo kita menikah."
Deg
"Ayo kita menikah. Aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu, juga menjadi daddy yang baik untuk anak kita. Kita menikah dan memberikan adik-adik yang lucu pada Gean."
Terdengar indah, memang. Membangun sebuah keluarga yang utuh dan saling melengkapi. Itu dulu, sebelum semua ini terjadi.
__ADS_1
"Mungkin rasa cinta kamu untuk aku Sidah hilang, tidak masalah. Biar sekarang aku yang mengejar kamu, biar sekarang aku yang memohon padamu. Khea, tolong maafkan aku. Aku sungguh-sungguh, bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk keluarga kita, terutama untuk Gean. Aku mohon."
Khea menatap ke dalam mata Ken. Tatapan lembut yang dulu tidak pernah dia dapatkan. Ken mengusap tangan Khea, tidak melepaskan pandangan mata iri, agar Khea yakin seberapa seriusnya dia. Ken tidak mau lagi mengulur waktu. Dia sangat takut kehilangan kesempatan dan membuat keduanya kembali pergi.
"Bagaimana kalau kamu memberikan kesempatan padaku. Ayo kita saling mendekatkan diri. Kita bertiga akan menghabiskan waktu bersama. Jalan-jalan, makan, shoping, liburan ke pantai atau gunung, memasak. Ayo kita melakukan pendekatan. Biar kamu dan Gean bisa melihat sendiri bagaimana rasa sayangku yang tulus."
...🌸🌸🌸...
Khea teringat lagi pembicaraan dia dan Ken tadi siang. Perempuan itu memang tidak menjawab apa-apa. Ternyata sampai saat ini, rasa sakit hati itu lebih dominan. Dia hanya ingin hidup tenang dengan Gean.
Tangannya mengusap lembut kepala Gean yang saat ini sedang tidur di sebelahnya. Kalau nanti dia bersama Ken, akan semakin banyak saja yang akan menghina dia dan Gean. Mereka akan menganggap dia memanfaatkan Gean untuk merebut Ken.
__ADS_1
Khea tidak mau salah mengambil keputusan, baginya yang terpenting adalah perasaan Gean.