
Cukup, cukup sampai di sini saja, karena dia juga sudah merasa lelah. Akhiri saja hubungan rumit yang tidak tahu ujungnya ini. Lebih baik dia dan Gean yang mengalah, pergi sekali lagi dari kehidupan orang-orang itu.
Khea dan Gean menarik koper mereka. Berjalan di tengah keramaian bandara Internasional. Kalau dulu dia memilih kembali, maka sekarang dia berdoa agar tidak ada lagi alasan untuk kembali.
Ken mengendarai mobilnya dengan cepat. Dia belum lama tahu tentang kepergian ibu dan anak itu.
Jangan, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon, tetaplah di sini, bersamaku. Atau kalau kalian tidak mau di sini, maka kita bertiga akan pergi, ke mana pun yang kalian berdua mau, asal kita bertiga tetap bersama.
Ken memarkirkan mobilnya asal-asalan. Menunjukkan akses khusus yang dia punya ke pada penjaga.
"Gean, Khea!" teriak Ken, meski tidak tahu ada di bagian mana kedua orang yang dia cari itu. Ken mencari ke setiap sudut.
"Gean, Khea. Jangan pergi, jangan tinggalkan Daddy." Tidak peduli kalau orang-orang memperhatikannya, memfotonya bahkan memvideokan dirinya.
"Khea, Gean. Jangan bawa Gean pergi, jangan pisahkan kami lagi." Ken menangis, tidak sanggup kalau sekali lagi harus dipisahkan oleh Gean.
Ken tidak ingin berhenti, meski sudah lelah. Dia tidak tahu pasti, ke negara mana Khea akan membawa Gean. Informasi yang dia dapatkan juga tidak jelas. Dia terus berdoa, berharap bisa menemukan mereka sebelum terlambat.
Tidak, dia sudah terlambat. Dia terlambat bertemu dengan mereka, terlambat untuk mengakui keberadaan mereka.
Seharusnya sudah sejak dulu dia menemukan mereka. Seharusnya sudah sejak awal dia mengakui keberadaan mereka.
Bukankah Tuhan mempertemukan mereka lagi agar dia bisa memperbaiki semuanya?
__ADS_1
Atau mungkin saja Tuhan mempertemukan mereka lagi, hanya untuk membuat orang-orang yang dulu tidak mau mengakui mereka merasakan penyesalan yang mendalam?
"Khea, Gean!" teriak Ken sekali lagi.
Khea menoleh, merasa seperti ada yang memanggil namanya.
"Ayo Mommy, cepat!"
"Iya, Gean."
Mereka bergandengan tangan, memantapkan langkah untuk pergi dari negara ini.
Gean menoleh ke belakang, seolah melepaskan sesuatu yang tidak bisa dia lihat tapi bisa dia rasakan.
Khea dan Gean duduk di ruang tunggu. Sekitar tiga menit lagi mereka akan masuk ke dalam pesawat. Ibu dan anak itu menatap ke arah yang sama. Sebelah kanan adalah tempat mereka akan pergi, sebelah kiri adalah tempat mereka jika ingin kembali.
Mereka ada di tengah-tengah. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mulai hari ini mereka akan memulai hidup baru tanpa ada lagi yang mengusik.
Pemberitahuan tersebar, mereka berdiri untuk menuju pesawat.
"Ayo, Mommy."
Gean menarik kencang tangan Khea. Anak itu benar-benar sudah membulatkan tekadnya.
__ADS_1
Kini mereka telah duduk dengan tenang di dalam pesawat setelah melalui pemeriksaan dan mendapatkan tempat tempat duduk mereka.
Gean memandang dari jendela.
Ken tiba di tempat yang tadi Khea dan Gean duduki. Melihat ke sekeliling, masih berharap bisa menemukan keduanya. Jantungnya tiba-tiba saja mendadak berdenyut kencang.
Di sana, di luar sana. Pesawat mulai bergerak. Ken menoleh, memandangi pesawat itu seolah sedang mengantarkan kepergian dua orang yang ada di hatinya. Air matanya tiba-tiba saja menetes dsn hatinya merasa sangat sakit.
Apa, apa mereka di dalam sana?
Di dalam pesawat, Khea dan Gean menatap ke jendela. Melihat untuk yang terakhir kalinya negara ini.
Setidaknya, aku sudah bertemu dengan orang yang seharusnya sejak dulu bisa aku panggil Daddy itu. Goodbye ....
TAMAT
.
.
.
.
__ADS_1
Tamat ya. Jangan dihapus dari favorit, karena nanti ada info apa-apa. Bisa juga follow akunku.