
"Kenapa diam saja? Apa begitu sulit melakukan hal seburuk itu para perempuan kesayangan kalian? Apa itu terlalu menyakitkan dan sangat berat? Apa itu hal yang buruk? Duku kalian begitu mudahnya menghina aku dan merendahkan harga diriku. Pria yang dulu aku anggap papa itu, sangat ringan tangan menampar aku. Membuang aku dari keluarga, menganggap aku mati dan merasa malu akan diriku. Seharusnya pria pertama yang akan membela aku, justru yang paling membuat aku terluka. Ibu yang seharusnya menjadi tempat untuk aku mengadu dan bersandar, memalingkan wajah tanpa mau mencegah kepergianku. Kakak yang seharusnya mengulurkan tangan dan ikut menangis melihat penderitaan aku, justru memilih pria brengsek itu. Siapa di sini yang sebenarnya cinta buta?"
Keluarga Vara hanya bisa menangis, menyesali masa lalu karena kebodohan mereka yang ternyata sangat fatal.
"Bahkan, di saat lain sudah tahu semuanya ... kalian masih mau duduk dengan tenang bersama pria itu dan keluarganya. Aku tidak melihat kebencian kalian pada mereka. Aku tadinya berpikir mungkin karena pria itu menantu di keluarga kalian, tapi ternyata mereka bahkan belum menikah apalagi mempunyai anak yang harus dijaga perasaannya. Di mana letak kepekaan kalian sebagai keluarga? Tapi hari ini bicara dan mengatas namakan ikatan darah. Bahkan perempuan ini masih berharap untuk menikah dengannya. Apa kamu tidak merasa jijik pada seorang pemerkosa? Apa kamu tidak sebegitu lakunya hingga masih mau bersamanya?"
Mereka merasa tertohok. Perkataan Khea benar-benar kejam, mengusik harga diri mereka yang paling dalam.
Khea tersenyum puas. Inilah balas dendam yang paling tepat untuk mereka. Usik harga diri mereka, tekan sedalam mungkin hingga mereka tahu apa itu dipermalukan dan dihina. Direndahkan dan dianggap tak punya harga diri, seperti yang dulu mereka lakukan padanya.
Ronald menatap Khea, dia akui perempuan itu memang pandai bermain kata. Anak yang dulu selalu terlihat manja dan ceria, kini telah bermetamorfosa menjadi perempuan tangguh yang tidak mudah ditekan. Khea yang dulu egois dan selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau dengan cara apa pun, semakin menjadikan perempuan itu kuat dan tangguh.
Sayangnya saja dulu dia tidak tinggal di negara yang sama dengan anak dan cucunya, hingga menghilangkan kesempatan untuk menjadikan perempuan ini cucu menantunya sejak awal.
__ADS_1
Sakit hati yang terlalu dalam memang akan menimbulkan dendam kesumat.
"Sayang, tolong maafkan keluarga kami. Sejak pertama kali melihat Gean, mama menjadi tidak tenang. Mama merasa sudah menjadi orang yang sangat jahat selama ini. Sebagai sesama perempuan, mama sangat mengerti perasaan kamu dan ...."
"Kata-kata yang terdengar indah dan mengharukan, tapi basi, tahu enggak!"
"Khea ...."
"Seharusnya sejak awal kata-kata itu aku dengar, bukan di saat kalian telah menanggung malu seperti ini."
Aib itu tidak akan bisa dihapus jejaknya. Jejak itu akan selalu ada dalam bentuk Gean, anak yang sangat dia sayang tapi harus ikut menanggung hinaan dan noda.
"Khea, tolonglah. Sejak saat itu, mama tidak bisa hidup dengan tenang dan menanggung rasa bersalah seumur hidup."
__ADS_1
"Apa hidup Anda tidak tenang?"
"Tentu saja, bagaimana bisa hidup dengan tenang melihat cucu mama menderita selama ini."
"Jika memang tidak bisa hidup dengan tenang, kalau begitu mati saja!"
.
.
.
Kak, baca juga ya ceritaku yang satu ini, biar rame gak sepi kaya hutan ðŸ¤ðŸ¤£
__ADS_1
Dukung semua karyaku ya kak, karena tanpa kalian apalah aku ini🙂