Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
9 Si Gadis Tanpa Cela


__ADS_3

Vana menghempaskan tubuhnya ke kasur.


Prang


Prang


Prang


Semua barang yang ada di atas nakas dia lempar.


Ini tidak bisa dibiarkan, mereka tidak boleh menikah. Ken hanya milikku, hanya untuk aku.


Vana membuka bajunya, mengguyur tubuhnya dengan shower, mencoba meredamkan emosinya. Pikirannya sibuk mencari cara agar Ken tidak bisa bersama dengan Vara.


Ken dan keluarganya sudah pulang setelah selesai membicarakan masalah pertunangan Ken dengan Vara. Saat ini, Vara sudah berada di kamarnya. Dia merasa sedih melihat kemarahan dan kebencian adiknya itu. Di satu sisi, dia ingin mengalah, di satu sisi, ingin tetap bersama Ken. Kalaupun dia tidak bersama Ken, belum tentu juga Ken mau bersama Vana. Kalau memaksakan Ken bersama Vana, Vara khawatir adiknya itu malah menderita.


Vana, aku harap kamu mengerti, dan segera mendapatkan pria yang benar-benar mencintai kamu dengan tulus, bukan dengan cara memaksakan kehendak kamu.


Keesokan paginya, suasana terlihat kaku. Bryan, Vanya dan Vara Sidah berkumpul di ruang makan. Mereka masih menunggu Vana untuk sarapan bersama dan membicarakan masalah tadi malam.

__ADS_1


Gadis itu akhirnya turun juga, melewatkan ruang makan begitu saja tanpa mau menyapa keluarganya.


"Vana, tunggu dulu!" ucap Vara sambil memegang tangan Vana. Vana langsung menghempaskan pegangan tangan Vara, hingga membuat gadis itu terjatuh.


"Apa, mau mengadu pada Kak Ken dan bersikap sebagai korban? Akulah yang kamu sakiti. Kamu menikam aku dari belakang. Bersikap seolah sangat menyayangi aku dan menarik perhatian semua orang."


Vara menggelengkan kepalanya. Dia tulus menyayangi adiknya itu, tapi masalah hati lain lagi, kan?


"Cukup Vana, kamu ini sudah benar-benar keterlaluan!"


"Terus saja membela anak kesayangan kalian. Kalian selalu membandingkan aku dengan dirinya. Vara di anak sempurna tanpa cela. Vara begini, Vara begitu, sedangkan Vana begini Vana begitu!"


"Kalau begitu berikan Ken padaku!"


"Ken itu bukan barang yang bisa kamu ambil sesuka hati atau yang bisa Vara berikan begitu saja. Ken sendiri juga sudah memilih Vara, bukan kamu!"


"Itu karena kalian main belakang. Itu yang namanya adil?"


Memang sudah bicara dengan gadis keras kepala seperti itu. Seandainya Ken memilih Vana, mereka juga tidak akan keberatan.

__ADS_1


Vana meninggalkan rumah itu tanpa pamit.


"Sudah, dia masih labil. Suatu saat nanti juga dia pasti akan bertemu dengan pria lain," ucap Vanya sambil mengelus punggung anak pertamanya itu.


Vana pergi ke rumah ke rumah Ara, sahabatnya. Dia meluapkan segala emosinya dan menceritakan semuanya pada Ara.


"Sudah Vana, ikhlaskan saja pria itu. Kamu itu cantik, masih banyak pria lain yang menyukai kamu. Mereka juga tampan dan kaya."


Memang di sekolahnya, Vana juga banyak yang menyukainya. Namun hati Vana hanya terpaut pada Ken. Pria yang sejak kecil sudah bersamanya.


"Enggak bisa. Pokoknya Ken harus menjadi milik aku, apapun yang terjadi."


Ara menghela nafas. Sahabatnya itu kalau sudah menginginkan sesuatu, memang tidak akan menyerah. Dia hanya khawatir nanti Vana sendiri yang akan terluka dan lebih menderita lagi.


"Sudahlah, kan sebentar lagi kita mau ujian. Gimana kalau kita belajar saja."


"Ck, mendingan kita shopping."


"Hm, ayo deh."

__ADS_1


Ya, lebih baik menemani Vana shopping dari pada seharian harus mendengar gadis itu marah-marah. Mungkin saat mulai kuliah nanti, dia akan menemukan sosok lain yang lebih baik dari Ken. Ya, Ara akan mendoakan kebahagian sahabatnya itu.


__ADS_2