Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
87 Pertemuan Tidak Diduga


__ADS_3

"Kalau begitu ayo kita pulang."


Mereka berdiri dari tempat duduk mereka, merasa cukup akan pembicaraan mengenai pernikahan Ken dan Vara.


Mereka keluar dari ruangan VIP itu, dan begitu mereka ada di tengah restoran, mereka berpapasan dengan rombongan Khea.


Deg


Mata Ken menatap Khea dan Gean yang tepat ada di hadapannya. Wajah cantik dan juga anak yang tampan, mampu membuat hati Ken ketar-ketir. Tanpa sadar pria itu melepaskan rangkulan tangan Vara di lengannya.


Suasana mendadak canggung, rombongan Vara yang terdiri dari Dennis, Bang J, dan para artis itu diam.


"Hai, kaloan juga di sini?" sapa Nio memecahkan kecanggungan itu.


Ken melihat tangan Bang J yang ada di pundak Khea. Bagi yang lain, hal itu biasa saja. Merangkul seorang rekan kerja bukankah hal yang spesial, apalagi di dunia entertainment. Mereka sudah biasa seperti itu, tidak akan menganggap lebih atau melebih-lebihkan. Tapi berbeda dengan Ken. Dia merasa sikap Bang J itu tidak sopan.


Apa mereka berkencan? Tanya Ken dalam hatinya.


Ken lah yang berlebihan. Pria itu menatap wajah Khea yang terlihat datar saat melihatnya. Lalu dia menatap Gean, anak itu pun sama.


Mereka tentu saja tahu tentang gosip yang beredar antara Khea, Ken dan Vara. Apa benar Gean anak dari pengusaha muda ini?

__ADS_1


Setelah dilihat secara langsung dan bersamaan seperti ini, memang Gean sangat mirip dengan Ken.


"Wah Gana, kamu benar-benar mirip dengan ayah kamu, ya. Pantas saja ganteng," celetuk salah seorang artis pendukung, yang tangannya langsung disikut oleh seorang di sebelahnya.


"Aku tidak punya ayah. Dsn aku tidak mirip dengannya. Aku hanya mirip dengan mommy!"


"Gean, opa ...."


"Aku juga tidak punya opa. Aku bilang enggak punya, ya enggak punya!"


Gean memberengut kesal.


"Mommy aku itu anak yatim piatu, jadi bagaimana bisa aku punya oma dan opa? Iya kan, Mom?"


Penolakan seorang anak akan ayah kandungnya dan keluarganya.


Mungkin itulah berita yang akan beredar besok pagi.


"Ayo kita ke dalam!" Dennis akhirnya mengajak rombongannya itu ke dalam, agar tidak ada kekacauan yang akan terjadi. Dia malam ini berinisiatif mengajak semua yang terlibat dalam syuting ini, sebagai ungkapan rasa senangnya karena syuting ini, sampai sejauh ini berjalan dengan lancar, semua itu berkat keprofesionalan setiap pemain, yang berakting dengan baik dan sungguh-sungguh, jadi tidak ada penundaan jadwal syuting atau melakukan take berulang-ulang atau break.


Nio merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Di satu sisi, saat ini Khea adalah rekan kerjanya, juga teman lamanya walau hubungan mereka di masa lalu juga tidak bisa dibilang sebagai teman, tapi saling mengenal. Di lain sisi, ada Ken dan Vara juga keluarga mereka, sebagai sahabat dekat dan kerabat.

__ADS_1


Nio mengambil jalan tengah, tidak ingin memihak.


Sorry!


Ucap Nio pada mereka tanpa suara, hanya gerakan bibir saja.


Rasanya ingin memiliki, tapi sulit.


Rasanya ingin bersama, tapi selalu ditolak.


Inilah dulu yang Khea rasakan, dan kini mereka sendiri yang merasakannya.


"Makan apa saja yang kalian mau, saya yang akan mentraktir kalian," ucap Dennis.


Khea bersikap biasa saja meski dia tahu orang-orang diam-diam sedang memperhatikannya. Ibu dan anak itu terlihat santai, seolah tidak ada yang terjadi.


.


.


.

__ADS_1


Hai kak, yang mau ngasih vote, makasih banyak ya. Jangan lupa like dan komen, biar gak sepi🤭


__ADS_2