Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
22 Menjaga


__ADS_3

22 Menjaga


Gean dipindahkan ke ruang ICU. Ken dengan cepat memakai baju steril dan melihat kondisi anaknya.


Cepat sembuh, Sayang. Mommy dan Daddy sangat menyayangi kamu.


Ken mengusap kening Gean yang tertutup perban. Melihat anaknya yang dipasangi berbagai alat penunjang kehidupan, membuat hati Ken sakit. Lebih baik dia saja yang sakit, asal jangan Gean ataupun Khea.


Ken keluar dari ruang ICU, dan menoleh kanan kiri, mencari keberadaan seseorang yang ingin dia lihat.


"Di mana Khea?"


Tidak ada yang menjawab, karena memang tidak ada yang tahu. Ketiga sahabat Khea—Deo, Austin dan Jessica juga tidak ada.


Ken duduk di sofa ruang keluarga, menghela nafas berat. Tidak lama kemudian, Austin dan Deo masuk.


"Ara, bagaimana keadaan Gean?"


"Gean kritis," jawab Ara pelan.


"Di mana Khea?" tanya Ken, tapi baik Austin maupun Deo, tidak menjawab.

__ADS_1


"Kalian!" Ken mengepalkan tangannya. Nio segera menenangkan Ken, agar tidak terjadi keributan.


"Di mana Khea? Kenapa tidak di sini?" Kali ini Ara yang bertanya. Bukan karena ingin membantu Ken, tapi memang dia ingin tahu di mana keberadaan sahabatnya itu, kenapa tidak melihat kondisi Gean.


"Khea sedang dirawat di kamar lain, dia dijaga oleh Jessica saat ini."


"Apa? Khea juga dirawat?"


"Kondisinya drop. Sekarang dia sedang tidur. Tidak tahu bagaimana nanti saat dia sadar dan mengetahui kondisi Gean."


Ken langsung keluar, diikuti Ara, Marco, Nio dan kedua orang tua Khea, sedangkan sisanya menunggu Gean.


Ken mendekat, mengusap kening Khea dengan pelan dan menghela nafas berat. Sekarang fokusnya terbagi dua. Gean yang sedang ada di ruang ICU, dan Khea yang juga dirawat.


Ken bingung harus berada di mana. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Khea di sini. Pasti nanti Khea akan mencari keberadaan Gean dan menangis lagi. Ken akan menjadi orang pertama yang menenangkannya, bukan orang lain—apalagi Austin atau Deo.


"Papa dan mama kembali saja ke ruang ICU, biar kami yang menjaga di sini," ucap Ken.


Akhirnya para orang tua menunggu Gean, sedangkan yang muda-muda menunggu Khea.


Khea bisa bangun kapan saja, dan mereka bisa saling menolong untuk menenangkan perempuan itu. Vara akhirnya ikut menunggu Khea, daripada harus menunggu Gean yang ada keluarga Ken dan kedua orang tuanya. Lagipula ada Ken di sini, dia ingin terus berada di dekat pria itu, takut juga kalau Ken dan Khea semakin dekat.

__ADS_1


Vara mendapatkan tatapan tajam dari sahabat-sahabat Khea. Hanya karena dia berteman dengan Rissa, jadi mereka pikir Vara juga akan berbuat ulah.


"Jangan menatapku seperti itu! Vana adikku, dan Gean adalah keponakan aku. Aku juga sedih mereka seperti ini."


Tidak ada yang menyahut, karena tidak mau memulai keributan.


Prinsipnya, ada yang jual, ya mereka beli.


Syukur kalau apa yang dikatakan oleh Vara itu benar. Kalau bohong, berarti dia memang keterlaluan.


Khea mulai melenguh pelan. Mulai menggerakkan badannya, tapi matanya masih terpejam, dan kembali tenang.


Semua bernafas lega. Memang lebih baik kalau Khea tidur lebih lama lagi. Mereka belum ada yang siap mengatakan apa yang terjadi dengan Gean. Lihat saja bagaimana tadi histerisnya Khea.


"Aku beli makanan dan minuman dulu," ucap Jessi.


"Sama aku," ucap Ara.


Keduanya pergi, kini hanya ada Vara sebagai perempuan satu-satunya yang menunggu. Suasana sangat canggung. Vara berharap Ken mau memperhatikan dirinya, mau mengajaknya bicara, tapi pria itu tetap diam saja.


Jangankan mengajak Vara bicara, memikirkan dirinya sendiri saja tidak.

__ADS_1


__ADS_2