
Pesanan selanjutnya datang. Mereka bertiga langsung makan tanpa ada niat untuk menawari yang lain.
"Mommy, Mommy harus makan banyak agar tidak sakit." Gean meletakkan daging dan sayur ke atas piring Khea. Perhatian yang diberikan oleh Gean membuat yang lain terharu.
"Kamu juga makan yang banyak, ya."
Khea pun meletakkan daging dan sayur ke atas piring Khea, lalu mereka suap-suapan.
Vara yang melihat itu sangat iri.
"Gean, aunty ...," ucap Vara, tapi perkataannya langsung di potong.
"Mommy, siapa orang itu?"
"Enggak tahu, mommy juga tidak kenal."
Ara tidak peduli dengan perkataan Khea. Kalau dia jadi Khea, pasti dia juga akan melakukan hal yang sama, mungkin lebih seperti menjambak rambut mereka, mencakar bahkan menampar.
Ingin sekali Ara memaki mereka, sayangnya saja ada Gean di situ.
__ADS_1
"Gean sudah kenyang?"
"Sudah, Aunty. Perut Gean seperti ini akan meledak."
Ara dan Khea terbahak. Bagaimana tidak, Gean mengatakan itu tapi dengan ekspresi yang datar.
"Kalau begitu, ayo kita pergi. Marco, aku duluan."
Ara hanya berpamitan pada Marco, hanya karena dia tunangannya. Ara dan Khea pergi dengan perasaan senang, sedangkan Gean, masih tetap dengan ekspresi yang sama.
Ken hanya bisa menatap kepergian Khea tanpa bisa melakukan apa-apa. Dirinya sendiri juga masih bingung, apa yang sebaiknya doa lakukan. Semua ini terjadi dengan tiba-tiba, di luar dugaannya.
Selama enam tahun ini hidupnya baik-baik saja. Selalu disibukkan dengan pekerjaan. Lalu tiba-tiba saja, seorang perempuan di masa lalunya datang dengan seorang anak yang wajahnya sangat mirip dengannya. Perempuan yang dulu dia tolak mentah-mentah. Pere yang tidak pernah dia akui. Perempuan yang dia anggap penipu dan ingin menjebaknya.
Dilihat dari sikap Khea tadi, sudah jelas kalau perempuan itu benar-benar tidak ingin lagi bicara pada mereka. Jangan kan dengan dia, si pria brengsek yang sudah menghancurkan hidupnya, dengan kakaknya saja dia sudah tidak peduli.
Vara, Nio, Mico dan Rissa hanya bisa melihat Ken yang sepertinya sangat tertekan.
"Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tunai, Ken!" ucap Nio.
__ADS_1
"Kenapa kamu bicara begitu, sebagai sahabat, Sidah seharusnya kita mendukung dia," tegur Marco.
"Apanya yang harus didukung? Kebejatannya?" sahut Nio ketus.
"Dia memang sahabat aku, tapi bukan berarti aku akan mendukung kesalahan dia. Kesalahan dia sudah aan fatal."
"Berhenti menghakimi Ken, Nio!" ucap Rissa.
"Rissa, kamu ini perempuan. Kalau apa yang terjadi pada Vana, juga terjadi padamu, memangnya apa yang akan kamu lakukan? Apa yang kamu rasakan?"
Rissa diam saja, karena sudah pasti jawabannya dia akan sangat membenci pria yang sudah menghancurkan hidupnya itu. Bukan hanya benci, bahkan kalau bisa membunuhnya.
"Kamu juga, Vara. Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu menjadi Vana?"
Vara menggigit bibirnya, tidak sanggup mengatakan jawabannya yang semua orang juga pastinya sudah tahu. Air matanya menetes.
Mungkin saat itu aku akan lebih memilih mati!
Rissa mengusap punggung Vara. Tadinya mereka ke sini karena ingin membicarakan masalah perusahaan dengan suasana yang nyaman. Tapi siapa sangka mereka malah bertemu dengan Ara, Khea dan Gean.
__ADS_1
Bukannya mendapat suasana yang nyaman, malah membuat keadaan semakin buruk.
Hati semakin resah, pikiran menjadi kacau.