Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
24 Jangan Membuat Takut


__ADS_3

24 JANGAN MEMBUAT TAKUT


"Apa ada orang lain yang mencurigakan?"


"Ck, kalau masalah musuh karena saingan, pasti ada saja. Khea itu seorang designer. Kamu sendiri Nio, yang seorang pengusaha sekaligus publik figur, pasti ada saja saingannya. Begitu juga dengan kita yang seorang pengusaha. Orang biasa saja suka ada musuhnya."


Benar apa yang dikatakan oleh Deo. Namanya orang, Alstom ada saja yang tidak suka. Tapi berbuat kriminal seperti ini, tentu saja itu sudah keterlaluan. Apalagi uang menjadi korbannya adalah seorang anak kecil.


Ken berjanji, siapa pun orang itu, pasti akan dia balas berkali-kali lipat.


💕💕💕


Sudah dua hari berlalu, tapi kondisi Gean belum menunjukkan tanda-tanda kalau anak itu akan melewati masa kritisnya. Khea juga masih berbaring lemah di atas brankar.


Setiap hari Ken menjaga keduanya. Pekerjaan dia lakukan di rumah sakit. Sahabat-sahabat Khea juga bergantian menjaga keduanya.


Saat ini mereka sedang berkumpul bersama, di saat Khea telah tidur nyenyak.


"Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV."


Deo membuka rekaman itu di laptopnya. Mereka melihatnya dengan teliti, dari awal Dhea dan Khea terlihat hingga sebuah mobil membentur dengan keras tubuh Gean.


Nafas Ken tercekat melihat bagaimana mobil itu menabrak Khea dan Gean.


"Pelakunya kabur, dan sekarang sedang dikejar oleh polisi."


"Aku sudah meminta orang-orang kepercayaanku untuk ikut mencari."


"Apa ada identitas orang itu?"


"Pekerja di salah satu pabrik. Hobi judi dan minum minuman keras. Tiga kali cerai tanpa anak."


"Apa mungkin saat itu dia sedang mabuk?"


Dilihat dari pekerjaan orang itu, sepertinya tidak ada hubungannya dengan Khea, tapi siapa yang tahu, kan? Bisa saja dia hanya orang suruhan.

__ADS_1


💕💕💕


"Kapan Gean sadar?" tanya Khea.


Dia sudah sangat gelisah. Rasanya hidupnya tak ada artinya. Melihat Gean yang masih saja belum sadar, membuat Khea selalu dilanda ketakutan.


"Anak kita akan baik-baik saja." Ken menggenggam tangan Khea. Perempuan itu diam saja, seolah tidak sedang berada di dunia yang sama. Tidak merasakan genggaman, atau apa pun itu.


Ken menghela nafas. Khea seperti mayat hidup dengan kantung mata yang menghitam. Baru beberapa hari saja, berat badannya sudah turun drastis.


Khea lali masuk ke dalam ruang ICU dibantu oleh Ken. Tangan Khea menggenggam tangan Gean. Mengusapnya dengan pelan, takut menyakiti anak itu.


"Mom ...."


Khea langsung mengangkat wajahnya, saat mendengar suara Gean, meski sangat pelan.


"Sayang, anak mommy. Kamu dengar mommy?"


"Mom ...."


"Bagaimana, Dok?"


"Syukurlah, kondisinya sudah membaik. Kami akan memindahkannya ke ruangan perawatan."


Khea bernafas lega. Dia tidak akan sanggup hidup tanpa anaknya itu. Hanya Gean saja penyemangat hidupnya, yang membuat dia bertahan sampai saat ini.


"Mommy tidak apa?" tanya Gean pelan.


Khea menggeleng. Kenapa anaknya ini begitu dewasa? Seharusnya Khea yang menanyakan kondisi anaknya itu.


"Maafkan mommy, Sayang. Maafkan mommy."


"Gean, Daddy senang kamu sudah sadar," ucap Ken dengan suara bergetar.


Gean memalingkan wajahnya dari Ken dan keluarganya. Mereka hanya bisa pasrah. Tidak mau terlalu memaksa anak itu.

__ADS_1


"Gean anak yang baik dan hebat, sudah menjaga mommy. Maafkan daddy yang belum bisa menjaga Gean dan mommy."


Ken benar-benar merasa bersalah. Rasa bersalah itu semakin besar. Belum dia menebus kesalahannya di masa lalu, sekarang dia malah kembali lalai.


"Jangan membuat mommy dan daddy ketakutan lagi. Gean segala-galanya bagi mommy dan Daddy."


Gean hanya diam saja, masih merasa sakit di tubuhnya, tapi tidak mau membuat Khea khawatir.


Luka ini tak ada apa-apanya. Tidak seperti luka hati yang pernah kami alami, dan kalian tidak tahu apa-apa.


Kalian hanya tahu meminta maaf dan merasa bersalah. Tapi penderitaan yang pernah mommy rasakan, tidak bisa dihilangkan dengan penyesalan kalian. Mau bagaimana pun kalian menunjukkan penyesalan itu, tidak bisa mengubah masa lalu itu.


"Gean makan dulu, ya. Setelah itu minum obat." Khea menyuapi Gean.


Ken juga ingin menyuapi anaknya itu, tapi dia tahu Gean akan menolaknya, bahkan mungkin melempar makanan itu.


Jadi lebih baik dia diam saja, cukup memandangi interaksi ibu dan anak itu, meski hatinya perih.


Iri dan sedih.


Dicuekin oleh orang lain, mungkin tak mengapa. Tapi dicuekin oleh darah daging sendiri, tentu saja rasanya sangat sakit.


Pernahkah dicuekin oleh orang yang dicintai?


Pernahkah dicuekin oleh keluarga sendiri?


Ya, rasanya seperti itu, ingin menjerit, ingin protes, ingin berteriak dan berkata, "Kenapa tidak adil?"


Tapi lagi-lagi hanya bisa diam, pasrah ....


Dan berdoa, semoga kelak Tuhan akan membolak-balikkan hati seseorang. Melembutkan kedua hati itu, dan mengakuinya ....


Seperti Tuhan yang telah membalikkan keadaan di masa lalu ....


Mereka kini sama-sama merasakan ....

__ADS_1


Rasa sakit itu!


__ADS_2