
31 POTENSI SEJAK DULU
Ken terbangun dan melihat ada Deo dan Austin. Lalu dilihatnya di mana dia berada saat ini, yaitu di dalam unit Khea. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, dan kejadian tadi malam mulai dia ingat.
"Khea!"
Mendengar suara Ken—meski pelan—membuat Deo dan Austin terbangun.
"Khea!"
"Jangan ke dalam!" cegah Austin saat Ken ingin masuk ke dalam kamar Khea.
"Aku ingin melihat keadaan Khea."
"Dia baik-baik saja. Gean juga tidur di dalam bersamanya."
"Apa yang terjadi dengan Khea?"
"Seharusnya kami yang bertanya. Apa yang terjadi pada ... kamu?"
"Aku?"
Ken juga jadi teringat. Tadi malam dia mendadak keringat dingin saat mengingat kejadian di masa lalu.
"Tida ada apa-apa sama aku."
Austin mendecih. Dia tahu Ken sedang berbohong.
Pintu kamar terbuka, dan ternyata Jessica yang keluar.
"Gean belum bangun, kan?"
"Belum."
"Baguslah. Aku mau membuat sarapan dulu."
Jessica membuka kulkas dan mengeluarkan semua bahan yang ada. Dia lalu melihat Deo dan Austin yang bergantian mandi, seolah semua sudah biasa mereka lakukan.
Pintu kamar terbuka, Gean keluar dengan wajah bantalnya dan langsung menuju dapur. Dia juga terlihat nyaman-nyaman saja saat melihat ada Jessica, Deo ada Austin di dalam rumahnya.
__ADS_1
"Gean mau susu?"
"Mau teh saja."
"Ini."
Gean meminum segelas teh, lalu membawa gelas teh lainnya ke kamar Khea.
Khea perlahan membuka matanya.
"Mommy, ini teh buat mommy."
"Makasih, Sayang. Mommy buat sarapan untuk Gean dulu."
"Aunty Jessica sedang membuatkan sarapan."
"Aunty Jessica?"
"Iya. Di luar ada aunty Jessica, uncle Austin dan uncle Deo."
"Juga ... pria itu," lanjut Gean.
"Mommy tidak apa-apa? Mommy sakit apa?"
Khea lalu keluar kamar bersama Gean. Dilihatnya Ken yang sedang bicara dengan Deo dan Austin.
"Khea, aku ...."
"Pulanglah!"
Khea memalingkan wajahnya dari Ken. Keduanya kembali mengeluarkan keringat dingin, dan itu tidak lepas dari pengamatan Gean dan sahabat-sahabat Khea.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka berdua terlihat seperti orang sakit?
"Aku permisi dulu."
Di dalam apartemennya, Ken langsung mandi air hangat dengan minyak aromaterapi, untuk menenangkan dirinya.
💕💕💕
__ADS_1
Vara melihat-lihat foto dia bersama Ken sejak beberapa tahun yang lalu—bahkan sejak mereka masih anak-anak.
Bukan hanya ada foto dia dan Ken, tentu saja. Tapi ada juga Vana.
Vara memandang, memperhatikan, mengamati, dan akhirnya menangis.
Kenapa? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja. Kamu bukan hanya menyakiti hatiku, tapi juga adikku.
Vara mencengkram erat album foto lama itu. Dia mengatur nafas, tapi tetap saja rasa kesal dan sakit hatinya tidak reda begitu saja.
Di bawah, kedua orang tua Vara sedang membahas kedua putri mereka. Keduanya sudah sepakat untuk mengambil alih pekerjaan Vara yang berhubungan dengan perusahaan keluarga Ken, agar Vara bisa melupakan Ken dengan cepat.
"Mungkin sebaiknya kita juga mengirim Vara ke luar negeri. Biar dia mengurus perusahaan yang ada di luar. Mungkin saja dia juga bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan menikah dengan pria itu."
"Akan papa pikirkan dulu, Ma. Jangan sampai Vara juga merasa kita sengaja menyingkirkan dia hanya untuk membantu Ken bersama Vana."
Vanya menghela nafas. Di usia yang semakin tua, kenapa masalah ini datang? Dia ingin keduanya anaknya hidup rukun seperti mereka saat kecil dulu—yang kalau bertengkar, hanya memperebutkan boneka. Tapi kini bukan lagi boneka yang menjadi rebutan, tapi seorang pria. Pria yang juga sudah bersama mereka sejak bayi.
💕💕💕
"Ayo makan yang banyak." Jessica memberikan Gean dan Khea makanan yang dia buat sendiri. Dia juga memberikan air dari tanaman herbal untuk menjaga stamina ibu dan anak itu.
"Cuaca juga lagi tidak bagus. Ini, minum." Jessica sendiri juga ikut minum minuman hangat itu.
"Jangan terlalu lelah, Khea. Kamu harus bisa menjaga kondisi tubuh kamu juga."
"Ya, tapi akhir-akhir ini pekerjaanku sangat banyak. Aku punya banyak tawaran bermain iklan. Bahkan ada tawaran bermain film lagi."
"Lalu? Kamu ambil?"
"Masih aku pelajari. Aku tidak mau aji mumpung saja."
"Ambil saja, ini kan memang impian kamu sejak dulu."
"Begitu, ya?"
"Hm. Kamu tidak perlu bersusah-susah mencari job, mereka sendiri yang menawarkan. Itu artinya kamu memang punya potensi."
Dan seharusnya sudah sejak dulu kamu mewujudkannya, kalau saja tidak ada kejadian naas itu.
__ADS_1
Khea senang dia mendapatkan banyak dukungan. Bukan hanya dari anaknya saja, tapi juga dari sahabat-sahabatnya. Khea jadi berpikir, kalau saja dia masih bersama dengan keluarga itu, apa dia juga akan mendapatkan dukungan karir seperti ini?
Sepertinya tidak, batin Khea.