
29 PINTAR MENYANJUNG
"Tuan ... Tuan!"
"Ya?"
"Kita sudah sampai."
"Oh, ya."
Ken keluar dari mobilnya, dan segera menuju ruangannya. Di dalam ruangannya, dia hanya diam. Memikirkan perkataan Arka sejak masih di perjalanan tadi.
"Tuan, sudah waktunya kita meeting dengan nona Vara."
"Ya, baiklah."
Hingga menjelang siang dan akan meeting, tidak ada satu pun pekerjaan yang Ken lakukan. Dia hanya duduk diam dan pikiran yang berkelana, masih memikirkan perkataan Arka.
Tidak membutuhkan waktu lama, Ken dan Arka tiba di restoran, karena lokasinya memang tidak terlalu jauh dari perusahaan Ken.
"Hai, Ken."
Ken hanya mengangguk saja mendapat sapaan semanis madu dari Vara, membuat gadis itu menghela nafas.
"Apa sekarang kamu juga akan bersikap layaknya rekan bisnis biasa?"
"Aku sedang banyak pikiran, Vara. Kita mulai saja sekarang."
Vara yang duduk tepat di depan Ken, membuat Ken diam-diam memperhatikan gadis itu.
__ADS_1
Dalam hati Vara tersenyum, merasa bahwa Ken masih memperhatikan dirinya.
Ken memang memperhatikan dirinya, tapi bukan karena seperti apa yang dipikirkan dan diharapkan oleh gadis itu.
Sekali lagi, Ken membandingkan ... Khea dan Vara, dulu dan sekarang.
"Ken?"
Ken tersentak dari lamunannya.
"Ya. Ayo kita mulai saja."
"Mungkin untuk proyek selanjutnya, aku tidak terlalu banyak meninjau langsung. Arka yang akan melakukannya."
"Apa sampai segitunya kamu menghindari aku, Ken?"
"Hufft, Vara, ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi kita. Aku memang sedang banyak pekerjaan. Ada beberapa proyek yang harus aku lakukan. Kamu tahu sendiri, kan, papa sudah tidak terlalu aktif di perusahaan. Sedangkan opa juga mau aku menunjukkan kinerjaku sejak masalah dua tahun yang lalu."
Mereka berdua saling menatap.
Ken kembali memperhatikan Vara. Memperhatikan gadis cantik yang pernah menemani masa-masanya selama bertahun-tahun. Baik sebagai sahabat atau sebagai tunangan.
Vara yang cantik, pintar dan sederhana.
Tapi, kenapa gadis seperti Vara tidak disetujui oleh opanya untuk menjadi istrinya?
Tapi justru Vana yang menjadi keinginan opanya.
Terlepas dari ada tidaknya Gean, opa memang menginginkan Vana yang menjadi cucu menantunya.
__ADS_1
Vana yang cantik, pintar, namun menyukai kemewahan, glamor, susah diatur, egois, mau menang sendiri.
Tapi kenapa?
Apa kelebihan Vana dari Vara.
Entah Ken tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu dan menutup diri.
"Aku duluan, masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan."
Kepala Ken rasanya berdenyut sangat kuat. Dia membutuhkan istirahat di ruang kerjanya. Tidak mau diganggu oleh siapa pun.
"Cepat kita kembali ke kantor!"
"Baik, Tuan."
💦💦💦
Khea mendapatkan tawaran bermain iklan. Bukan hanya bermain iklan saja, tapi dia juga didaulat menjadi brand ambassador produk minyak wangi itu.
"Bagaimana menurut Gean?" Khea menanyakan pendapat anaknya itu. Bukan tidak bisa mengambil keputusan sendiri, tapi dirinya ingin selalu melibatkan Gean dalam setiap langkah hidupnya. Bahkan jika nanti dia memutuskan untuk menikah, dia akan bertanya pendapat Gean dulu. Jika anaknya tidak setuju, maka dia tidak akan menikah. Itu pun kalau memang dia memutuskan untuk menikah, meski sangat sulit untuk dirinya sendiri.
"Ambil saja. Mommy Gean perempuan yang hebat. Orang-orang harus tahu, kalau mommy bisa menjadi apa saja yang mommy inginkan. Mommy bisa memberikan yang terbaik untuk Gean."
"Kenapa kamu selalu bisa menyanjung mommy?"
"Ini bukan sanjungan, Mommy, tapi kenyataan."
"Tuh kan, tuh kan, tuh kan! Saat dewasa nanti, pasti banyak gadis yang jatuh cinta pada Gean. Tapi jangan terlalu cepat dewasa, nanti mommy kesepian."
__ADS_1
Khea ingin Gean tetap menjadi bocah laki-laki untuk dirinya. Entah karena apa, mungkin saja takut nanti Gean akan menikah dengan perempuan pilihannya dan meninggalkan Khea sendiri.