Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
43 Saat Seusia Kamu


__ADS_3

43 SAAT SEUSIA KAMU


Mereka memandang ketiga perempuan yang malah tidur di atas pasir itu.


"Bisa-bisanya mereka tidur di sini, apa tidak takut, ya?"


Vean menatap anaknya dan Khea yang tertidur, lalu pria itu tersenyum. Dia menutupi tubuh keduanya dengan kain pantai, agar terhindar dari sinar matahari dan tatapan para pria.


Marco juga menutupi tubuh Ara, dan Austin menutupi tubuh Jessica.


"Yuri kapan ke sini, Yo?" tanya Austin pada Deo.


"Minggu depan."


Para pria itu duduk di sebelah para perempuan. Mengambil tablet masing-masing untuk bekerja sambil menunggu yang para perempuan dan Gean bangun.


Ken tersenyum, dan mengambil foto ibu dan anak itu yang sedang tertidur sambil berpelukan. Dia juga menjadikan badannya sendiri sebagai tameng untuk menjaga keduanya dari sengatan sinar matahari.


Ken lalu teringat sesuatu, dia lalu beranting di sebelah Gean dan memfoto mereka yang sedang tiduran.


Sekarang aku punya foto kita bertiga, bukan lagi foto editan.


Ken tersenyum puas, tidak masalah di dalam foto itu Khea dan Gean tertidur.


Deo dan Austin yang melihat itu hanya mendengus, bukan karena cemburu.

__ADS_1


Dua jam kemudian, satu persatu mereka lalu bangun, dan menikmati es kepala tanpa merasa bersalah.


"Ayo kita ke hotel, aku sudah merasa sangat lengket."


💕💕💕


Meskipun kulit Khea selama dua hari ini terkena sinar matahari, tapi tetap saja putih mulus. Sepertinya dia benar-benar ditakdirkan untuk menjadi seorang bintang. Tapi kesenangan mereka saat liburan terusik dengan berita tentang cinta segitiga.


Bukan lagi antara Khea, Ken dan Vara, tapi antara Ken, Khea dan Nio.


"Tidak usah dipedulikan. Paling juga nanti dianggap gimmick."


Khea sendiri juga tidak peduli. Dia malah semakin memanasi orang-orang dengan berfoto-foto dan mengambil gambar para pria tampan yang ada di dekatnya—Deo dan Austin—yang ternyata foto Vean, Nio dan Marco juga ikut terambil.


"Pasti nanti mereka akan semakin panas," ucap Jessica.


"Ck, kalau begitu saja, masih kurang, Khea." Jessica malah dengan sengaja menyandarkan kepala Khea ke pundak Austin lalu memfotonya, dan disebar ke internet.


"Kebas, kebas dah, tuh, jari!"


"Apa tidak masalah, Jes?" tanya Ara.


"No. Toh kita juga tahu apa yang terjadi, kan? Suruh siapa nyebarin gosip yang tidak benar."


Ken lain lagi. Meski dia tahu itu hanya candaan saja, tapi tetap saja hatinya yang panas.

__ADS_1


Mungkin ini yang dulu dirasakan oleh Khea, saat aku bersama Vara.


Sore harinya mereka kembali ke rumah. Mengistirahatkan diri sebelum besok kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Jangan tidur malam-malam, Gean. Besok kita harus ke tempat syuting lagi."


"Ya, Mom."


Sebelum tidur, tentu saja Khea membuat jus tanpa gula untuk mereka berdua. Juga salad buah dan sayur.


"Gean senang hari ini?"


"Iya, Mom. Terima kasih Mommy sudah mengajak Gean berlibur."


"Mommy yang seharusnya berterima kasih, karena Gean selalu ada untuk Mommy. Gean adalah kebahagiaan dan kebanggaan Mommy. Tanpa Gean, mommy mungkin tidak akan bertahan sampai sekarang."


Suasana mendadak hening. Selalu ada nada getir dalam suara Khea saat mengingat dan membicarakan masa lalu. Mau bagaimana pun dia berusaha melupakan, tapi tetap tidak bisa. Tetap terasa berat dan sakit


"Ayo cepat habiskan, jangan tidur malam-malam."


Mereka makan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Gean mencuci peralatan makan mereka, membuat Khea hanya bisa menghela nafas dan bersedih.


Seharusnya kamu tidak merasakan semua beban ini, Gean. Dulu saat mommy seusia kamu, mommy tidak pernah mencuci piring, meskipun mommy seorang perempuan. Seharusnya kamu hanya belajar, bermain, dan melakukan hobi kamu tanpa harus ikut membantu mommy.


Khea menyeka sudut matanya yang basah, merasa semua ini sungguh menyakitkan.

__ADS_1


Ini bukan sekadar memaafkan mereka yang menyakitinya di masa lalu, tapi lebih dari itu.


__ADS_2