
"Pagi, Sayang."
Entah untuk siapa kata sayang itu diucapkan oleh Ken. Apa untuk Gean, atau Khea? Atau keduanya?
Hari libur kerja, Ken sudah menyiapkan kebutuhan dapur dan ingin memasak untuk ibu dan anak itu.
"Daddy akan memasakkan makanan untuk kalian berdua."
Daddy?
Khea dan Gean saling tatap.
Cup
Cup
Kedua orang itu terkesiap ketika mendapatkan kecupan tak terduga dari Ken di kening mereka.
__ADS_1
Gean meremas tangannya.
Tentu saja.
Seumur hidupnya, dia belum pernah merasakan ini. Belum pernah mendapatkan kecupan dari yang namanya Daddy. Khea memperhatikan ekspresi Gean, lalu menatap punggung Ken yang menuju dapur tanpa dipersilahkan.
Ken mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan, dan mengolahnya. Tangannya sangat terampil, karena—dan untungnya saja, dia sangat pandai memasak.
Sebagai seseorang yang pernah dekat dengan Khea di masa lalu, tentu saja Ken sangat tahu apa selera perempuan itu. Dan setiap bersama Gean saat makan, dia juga tahu apa yang disukai oleh anak tampan itu.
Aroma masakan mulai tercium. Ken memasak dengan wajah yang terus-menerus tersenyum. Dia akan memperjuangkan kedua orang itu. Meskipun nanti Khea menolak menikah dengannya, dia berjanji untuk tidak akan menikah dengan siapa pun. Tapi, semoga saja Khea tidak menolaknya.
Sekarang dia baru paham kenapa Khea melepaskan Rissa dan tidak melaporkan Rissa ke polisi. Ken tiba-tiba saja tertegun. Baru menyadari sesuatu. Apa Khea yang menyebarkan berita itu?
Kalau pun Khea yang menyebarkannya, Ken akan diam saja. Dia akan mendukung apa saja yang perempuan itu lakukan selama itu tidak membahayakan dan merugikan Khea dan Gean. Dia berjanji akan selalu bersama dengan keduanya. Dia akan selalu berada di sisi mereka.
"Makanan sudah siap, ayo makan."
__ADS_1
Ken harap-harap cemas. Takut makanannya ditolak. Tapi ternyata ibu dan anak itu berdiri dan menuju ruang makan.
Di atas meja ada tiga piring steak salmon dengan salad buah dan sayur. Ada kentang tumbuk dengan daging cincang. Juga teriyaki dan katsu.
Khea menatap Ken, percaya tidak percaya kalau pria ini yang memasak semuanya.
Khea menatap makanan itu yang terlihat menggiurkan. Apa dulu yang harus dia makan?
Sementara ketiga orang itu sedang menikmati makan mereka, di lain tempat Vara sedang menarik kopernya. Hari ini dia akan pergi ke luar negeri setelah tadi malam berbicara kepada kedua orang tuanya. Tidak ada yang mengantarkannya ke bandara karena Vara melarang kedua orang tuanya. Dia tidak berpamitan kepada Ken, karena tidak mau melihat wajah Ken yang menunjukkan ekspresi 'Pergi saja.'
Dia juga tidak berpamitan kepada Nio dan Marco.
Vara memakai masker dan kacamata, karena tidak mau menjadi pusat perhatian. Bagaimana pun juga skandal yang masih sangat hangat diperbincangkan itu membuat mereka semakin terkenal dengan cara yang memalukan.
Vara menghela nafas berkali-kali. Masih selalu berharap ini adalah mimpi buruk.
Tapi bukan.
__ADS_1
Rasa sesak setiap bangun tidur itu semakin membuat dia sadar kalau semua ini nyata.