Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
13 Pertama Kali Melihatnya


__ADS_3

13 PERTAMA KALI MELIHATNYA


Pagi ini, Vara sudah bisa keluar dari rumah sakit. Sebelumnya dia sudah memeriksa ke dokter tentang penyakit yang dideritanya, dan akan menerima hasilnya beberapa hari lagi.


Vara masih menunggu di dalam kamar rawatnya, berharap Ken mau datang menjemputnya.


Ken sendiri saat ini ada rapat dengan perusahaan lain. Bukan dia tidak tahu kalau Vara akan pulang pagi ini. Sebagai seseorang yang pernah bersama selama bertahun-tahun, dia tentu saja masih peduli pada Vara, tapi sekarang sebagai teman, sebagai sahabat masa kecil.


Dia tidak mau nanti sikap baiknya disalah artikan oleh gadis itu. Dia tidak mau lagi ada kesalah pahaman yang terjadi.


Ken akan mulai fokus mendapatkan hati dan maaf dari Gean dan Khea. Apalagi ternyata mereka menjadi tetangga, seolah takdir sedang memihak padanya.


đź’•đź’•đź’•


Vara masuk ke dalam kamarnya. Menatap foto pertunangan dia dan Ken yang dibingkai besar.


Bisa dilihat dengan jelas, kalau saat itu mereka—bahkan keluarga mereka—sangat bahagia. Meskipun saat itu suasana sempat memanas karena perbuatan Vana, tapi semua masih bisa dikendalikan.


Kini?


Semua berlalu, seolah waktu itu tiada arti.


Bagaimana bisa Vara melepaskan Ken. Bagaimana bisa dia melihat pria yang seharusnya menjadi suaminya, malah menjadi adik iparnya sendiri. Memikirkannya saja Vara sudah tidak sanggup.


Pasti ini juga yang dirasakan oleh Vana saat itu.

__ADS_1


đź’•đź’•đź’•


Ken menyuruh orang untuk membeli tanah yang posisinya sangat strategis. Dia ingin membuat mansion untuk Khea dan Gean.


“Buat kerja sama perusahaan dengan butik Khea. Tapi jangan sampai Khea tahu.”


Arka terdiam, menelaah perkataan bosnya itu.


“Kamu cari cara sendiri, jangan nyuruh saya juga yang mikir!”


“Baik, Tuan.”


Ken bekerja dengan semangat. Dia ingin segera malam, dan bertemu dengan anak dan ibu dari anaknya. Hatinya menghangat saat memikirkan kalau saat dia pulang kerja dengan rasa lelah, dia akan disambut oleh anak istri.


Pasti itu sangat menyenangkan.


Menjadi suami dan Daddy yang baik.


Suami?


Lagi-lagi Ken tersenyum.


Baru membayangkannya saja, sudah bisa membuat dia tersenyum.


Tapi senyum itu langsung menghilang saat dia sadar, kalau perjuangannya baru akan dimulai. Dia tidak akan membuat kedua orang yang berarti itu kabur lagi, menghilang dari dunianya dan membuatnya gelap.

__ADS_1


Ken ingin bertanggung jawab, bukan karena nama baik. Bukan karena malu aib. Saat pertama kali melihat Gean, tumbuh rasa sayang begitu saja untuk anak itu. Tanpa diminta, tanpa perlu anak itu meminta kasih sayang darinya.


Ken benar-benar menyayangi Gean.


Ingin bersama dengan anak itu. Ingin menggantikan waktu yang sudah terbuang sia-sia karena kebodohannya.


Ken menghela nafas, menyeka sudut matanya. Dia teringat saat pertama kali melihat anak itu.


Bukan saat anak itu sedang membesar di perut ibunya.


Bukan saat anak itu masih bayi.


Bukan juga saat anak itu belajar tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari.


Bukan juga saat anak itu belajar bicara dan mengucap kata mommy atau Daddy untuk yang pertama kalinya.


Tapi saat anak itu sudah cukup besar, dan terlalu cepat dewasa saat mengetahui permasalahan mommy dan Daddy-nya.


Maafkan daddy, Sayang. Maafkan daddy.


Ken sadar dia bukan pria baik. Dia sudah menyakiti Vana, dan kini menyakiti Vara.


Tapi dia harus memilih ....


Sampai sekarang, Ken masih tetap tidak mengerti, kenapa semua ini bisa terjadi. Kenapa malam itu bisa terjadi?

__ADS_1


Ada banyak benang kusut yang harus dia luruskan. Masalahnya, benang kusut itu bukan hanya satu saja, tapi banyak. Dan semuanya saling berhubungan, membaut semakin ruwet pikirannya yang tidak baik-baik saja.


__ADS_2