Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
18 Pertunangan Ara


__ADS_3

Ara menatap pasangan di hadapannya.


Jadi ini yang namanya Ken, pria yang dulu sangat dicintai oleh Vana?


Ara menatap Ken, dia akui Ken memang tampan, mungkin karena itulah dulu Vana sangat mencintainya. Mengingat sahabatnya itu, membuat Ara kembali bersedih. Sudah enam tahun mereka tidak bertemu. Ara tidak tahu bagaimana keadaan Vana sekarang, apakah dia baik-baik saja?


"Kenapa kamu menatap Ken seperti itu?"


"Tidak apa. Hanya saja, melihatnya membuatku jadi teringat seseorang."


"Benarkah, siapa orang itu?"


"Vana."


Deg


Satu nama yang disebut itu langsung mengubah atmosfer yang ada. Sudah sangat lama sekali nama itu tidak disebut, apalagi diingat oleh mereka. Tidak ada yang pernah tahu di mana keberadaan Vana.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Ara menatap dirinya dalam pantulan cermin. Dia terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna biru itu.


Vana, kamu di mana? Aku harap, di mana pun kamu berada, kamu baik-baik saja. Hari ini aku akan bertunangan. Aku sangat berharap sekali kalau kamu akan mendampingi aku saat ini. Aku harap, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, dan keadaan kamu baik-baik saja.


"Ayo," ajak mama Ara. Dia menggandeng tangan putrinya, mereka sama-sama menuju ballroom hotel.


Suasana ballroom sangat ramai, para tamu undangan yang hadir berasal dari pebisnis dan teman-teman Ara dan calon tunangannya.


"Jadi ingat pesta pertunangan kita dulu, ya?" ucap Ken, dan keheningan kembali terjadi.


Peristiwa itu, entah kenapa, kini berputar dalam memori mereka. Hal memalukan yang tidak ingin mereka ingat lagi. Rissa mendengkus, dia juga tentunya masih sangat ingat hal memalukan yang Vana lakukan.


Tapi mereka tidak membiarkan suasana yang tidak menyenangkan ini berlangsung lama. Mereka kembali ceria dan melupakannya. Untuk apa memikirkan gadis pembuat onar yang kini Sidah menghilang dari kehidupan mereka, dan kalau bisa tidak usah muncul lagi.


Acara segera dimulai, mereka bertukar cincin dan teluk tangan para tamu mengiringi pertukaran cincin itu.


"Ara!" panggil seseorang.


Ara melebarkan matanya saat seorang perempuan cantik melangkah ke arahnya. Bukan hanya dia, bahkan yang lain juga tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bukan hanya karena wajahnya yang sangat cantik, tapi karena kehadirannya yang tidak pernah disangka oleh siapa pun. Sudah lama sekali perempuan ini tidak pernah menampakkan diri di hadapan mereka.

__ADS_1


"Vana? Vana, ini kamu, kan?"


Ara langsung menghampiri Vana, memeluk perempuan itu dan menangis tersedu.


"Apa yang terjadi padamu? Ke mana saja kamu pergi selama ini? Kenapa tidak pernah menemui aku? Kenapa baru datang sekarang?"


Vana hanya tertawa pelan mendengar pertanyaan Ara yang sangat banyak itu. Tangannya mengusap lembut punggung sahabatnya.


"Ada, aku baik-baik saja."


Ara menelisik wajah sahabatnya. Dia sangat merindukan Vana, dan bahagia karena sekarang mereka sudah bertemu kembali.


"Kamu tambah cantik banget."


"Kamu juga."


Mereka kembali berpelukan, melepaskan rindu antara dia sahabat, tanpa peduli orang-orang yang masih syok akan kehadiran perempuan cantik itu yang ... sangat mempesona.


"Vana, sekarang aku bertunangan ...."

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Makanya aku datang. Tadi aku melihatnya dari jauh."


Vana lalu melirik pria yang menjadi tunangan sahabatnya, dengan perasaan tidak suka.


__ADS_2