Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
15 Bersyukur Atau Menyesali Takdir


__ADS_3

15 BERSYUKUR ATAU MENYESALI TAKDIR


Vara merenung di dalam kamarnya. Berpikir dan terus berpikir, apakah Ken akan benar-benar meninggalkan dirinya?


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Apa pun yang terjadi, kami harus tetap menikah. Bagaimana bisa, Ken meninggalkan aku di saat aku mengalami cobaan seperti ini? Dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku sekarang.


Vara sudah tampil cantik saat ini. Dia memastikan tidak ada yang kurang dari penampilannya. Vara langsung datang ke kediaman keluarga Ken. Dia harus bicara pada pria itu dan keluarganya. Vara tidak mau ditinggalkan sendiri begitu saja. Setelah bertahun-tahun menunggu untuk dinikahi dan tetap setia, dia malah dibuang seperti sampah.


“Vara, ayo masuk. Mama baru saja membuat sarapan. Kebetulan Ken juga ada di sini. Kamu janjian sama Ken?”


“Enggak, Ma.”


“Duduk dulu, mama panggilkan Ken.”


Tidak lama kemudian Ken turun, dan langsung ke ruang tengah tempat di mana Vara berada.


“Vara, maaf saat itu aku tidak menjemput kamu dari rumah sakit.”


“Ya, aku tahu kamu ada meeting.”


“Ayo kita sarapan dulu.”


Mereka sarapan bersama. Tidak ada kecanggungan bagi Vara, karena selama bertahun-tahun, dia sudah biasa sarapan bersama keluarga Ken. Begitu juga Ken yang sudah biasa sarapan bersama keluarga Vara—tanpa Khea tentunya.


“Aku mau bicara padamu, Ken.”

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita ke taman belakang.”


Kini keduanya ada di taman belakang. Suasana pagi dengan pemandangan bunga-bunga menemani keduanya saat ini.


“Ada apa?”


“Ken, kamu tetap akan menikahi aku, kan?”


“Apa? Vara, bukankah sudah aku katakan, kalau aku membatalkan pertunangan kita. Jadi, bagaimana bisa aku tetap akan menikah dengan kamu?”


“Kamu tahu kan, aku akan susah memiliki anak, bahkan mungkin tidak bisa.”


“Vara, aku ....”


“Kalau orang-orang tahu, tidak akan ada orang yang mau menerima aku sebagai istri dan menantu mereka. Tolong jangan tinggalkan aku, Ken.”


“Aku mohon! Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menikah denganku?”


“Tapi aku sudah punya Gean, Vara. Aku ....”


“Justru itu, karena kamu sudah memiliki Gean. Kamu sudah punya anak. Jadi, tidak akan masalah kan, kalau aku tidak bisa memberikan kamu anak. Kamu tidak perlu mengadopsi anak lain.”


“Kamu bisa saja memiliki anak, Vara.”


“Justru itu ... toh kalau pada akhirnya aku pun akan memberikan kamu anak, itu pasti jauh lebih baik, kan!”

__ADS_1


“Vara ....”


“Kamu akan memiliki anak dari dua perempuan yang berbeda. Aku ... aku ikhlas, asal kamu tidak meninggalkan aku.”


“Tidak Vara. Tidak bisa, maafkan aku.”


“Jadikan aku yang kedua!”


“Apa?” Ken bukannya tidak mendengar, tapi dia tidak menyangka apa yang dia dengar ini, keluar dari mulut seseorang yang sudah dia kenal sejak kecil.


“Kalau Vana tidak mau dijadikan yang kedua, aku saja. Jadikan dia yang pertama dan aku yang kedua.”


“Jangan gila, Vara! Aku memang bukan pria baik. Aku pernah menyia-nyiakan Vana dan Gean, dan aku sangat menyesali hal itu. Kalau saja dulu aku tahu apa yang Vana katakan adalah sebuah kebenaran, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan mereka. Dan sekarang kamu menyuruh aku untuk menyakiti mereka lagi? Yang benar saja!”


“Tapi ini yang terbaik untuk kita bertiga—berempat dengan Gean.”


“Tidak, kamu salah besar. Ini bukan yang terbaik, bahkan untuk salah satu dari kita. Aku ... kini aku bersyukur karena sampai sekarang kita belum menikah. Jika kita sudah menikah, mungkin aku akan benar-benar menyesali takdir yang aku terima.”


Mendengar perkataan Ken itu, hati Vara benar-benar merasa teriris. Apa sekarang pria itu merasa bahagia karena mereka belum menikah? Apa dia senang karena takdir belum—atau tidak menyatukan mereka?


Kalau saja rasa cinta Vara untuk Ken juga telah menipis, mungkin saja dia tidak akan sakit hati mendengarnya, bahkan juga akan ikut bersyukur.


Tapi semua itu dikatakan oleh pria yang dia cintai, di saat cinta itu masih sama, bahkan lebih besar dari saat mereka remaja dulu.


Dan yang lebih parahnya, di saat dia sedang dalam keadaan terpuruk begitu dalam, tanpa ada dukungan dari siapa pun.

__ADS_1


Sakit ....


Namun tetap saja, yang dulu Vana alami, lebih sakit dari yang dia rasakan saat ini.


__ADS_2