
Mereka tiba di salah satu restoran yang sudah dipesan oleh perusahaan Dennis secara khusus. Khea dan Gean masuk ke dalam restoran itu, dan langsung disambut oleh asisten Dennis yang bernama Sandy.
"Selamat siang, Nona Khea, Gean."
"Siang," ucap Khea, sedangkan Gean diam saja. Bukannya anak itu tidak memiliki sopan santun, tapi memang dia seperti itu.
Di dalam restoran itu, sudah hadir beberapa orang artis ternama yang pastinya akan ikut membintangi film itu. Mereka melihat kedatangan Khea dengan bertanya-tanya, untuk apa perempuan muda beranak satu itu datang ke sini? Apa dia akan menjadi salah satu dari pemainnya? Tapi sebagai apa?
Belum semua yang datang, karena Dennis mengundang bukan hanya pemain filmnya saja, tapi juga sutradara, penulis naskah dan pihak sponsor.
"Wah, ada Nona Khea di sini. Akhir ya aku bisa melihat secara langsung dan bicara dengan designer favorit aku," ucap salah satu artis perempuan.
"Terima kasih, Nona Inggrid."
"Panggil Inggrid saja."
"Kalau begitu panggil saja aku Khea."
__ADS_1
"Khea, boleh kita foto bersama?"
"Boleh."
"Sama Gean juga, yuk. Duh, genteng banget sih kamu."
Mereka akhirnya foto bersama, dan Inggrid mempostingnya di sosial media miliknya dengan tulisan With my favorite designer. Ternyata dia lebih cantik dari yang aku lihat di TV.
Postingan itu langsung mendapat banyak respon, bukan hanya dari fans Inggrid, Taki juga dari penggemar Khea dan rekan sesama artis. Kru yang bertugas untuk mendokumentasikan acara ini tentu saja tidak lupa untuk membidik dan merekam kegiatan mereka, yang nantinya akan dibutuhkan.
"Saya mau memesan gaun untuk acara itu ulang tahun anak saya yang ke tujuh belas," ucap salah satu artis senior.
Sebagai artis, pesta tentu saja menjadi salah satu momen untuk pamer penampilan. Lihat saja bagaimana tamu di acara pernikahan seringkali lebih berpenampilan WOW daripada pengantinnya, menyaingi ratu satu hari itu.
Dennis tersenyum mendengar pembicaraan para artisnya.
"Wah Khea, kamu jangan menyabotase acaraku, ya. Ini kan acara untuk memperkenalkan para pemain di filmku. Bisa-bisanya kamu yang mendulang untung!" guru Dennis yang langsung disambut tawa mereka.
__ADS_1
"Ya ya ya ... sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, kan? Tali ingat, jangan minta komisi padaku!" balas Khea.
Mereka kembali tertawa mendengar pembicaraan seorang designer dengan seorang produser dan CEO itu.
"Kenapa yang lain belum juga datang?" tanya Dennis tidak sabaran.
Mereka menunggu yang lain sambil minum dan memakan makanan ringan. Mempertemukan para artis itu tentu saja tidak mudah, karena perbedaan jadwal masing-masing. Ada yang harus syuting Iklan, dan ada juga yang harus bertemu duku dengan klien lainnya.
"Arfan masih di perjalanan, Tuan. Pesawatnya baru saja mendarat setengah jam yang lalu."
"Ck, aku tidak mau saat sudah mulai syuting nanti, jadwal syuting terganggu. Pastikan semaunya hadir sebelum syuting dimulai, dan persiapkan semuanya dengan sangat baik."
Kini hampir semuanya telah tiba, dan tinggal menunggu satu orang lagi.
Pintu kembali terbuka, dan masuklah orang terakhir yang ditunggu.
"Kamu di sini?" ucap Khea dan orang itu bersamaan.
__ADS_1