Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
3 Tidak Dibela


__ADS_3

3 TIDAK DIBELA


Khea mendapatkan telepon dari bawahannya yang mengurus butiknya di Jakarta, kalau di sana terjadi beberapa masalah. Perempuan cantik itu mendengarkan dengan teliti, lalu menghela nafas.


“Baiklah, aku akan mengutus orang untuk mengurus masalah yang ada di sana.”


Bukannya Khea tidak mau mengurusnya sendiri, dia hanya tidak mau kembali ke sana, bertemu dengan orang-orang itu yang selalu saja bersikap seperti korban dan menjadikannya seolah penjahat yang memisahkan seorang ayah dari anaknya.


💕💕💕


Ken tiba di Belanda bersama Arka. Keduanya langsung menuju hotel miliknya. Di hotel itu, tentu saja dia memiliki kamar sendiri yang sangat mewah dan fasilitas kamar yang lengkap.


Di mana kalian berada sekarang?


Ken memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian tertidur.


Waktu berlalu, sudah dua minggu Ken berada di Belanda. Saat ini pria itu sedang ada di kafe, menikmati waktu sore di hari terakhir dia ada di sini.


Ken menulis nama-nama kota dan negara yang sudah dia kunjungi selama dua tahun ini, tapi tidak satu tempat pun dia bertemu dengan Khea dan Gean.


Ken lalu menerima pesan dari dokternya, agar dia tidak lupa kontrol ke rumah sakit. Ken diam-diam memang menjalani konsultasi dengan seorang dokter, dan keluarganya tidak ada yang tahu. Hanya Arka saja yang tahu apa yang Ken lakukan itu. Arka juga menutup rapat-rapat rahasia itu, dan memastikan tidak akan ada satu orang pun yang tahu, bahkan jika seorang hacker melakukan pelacakan tentang data Ken, maka mereka tidak akan mendapatkan apa pun.


Malam harinya dia dan Arka kembali ke Jakarta.


💦💦💦


Ara sedang menikmati makan siangnya di salah satu restoran.


“Ara.”


Ara mendengus melihat kedatangan Marco. Hubungan keduanya belum membaik karena masalah Ken dan Khea, apalagi selalu ada Rissa yang menjadi kompor dan minyak tanah sekaligus.


“Kamu tidak mau bilang juga, di mana Khea?”


Ara menghela nafas berat.

__ADS_1


“Kalau jodoh, nanti juga mereka bertemu lagi.”


“Tapi kasihan dengan Ken yang selalu mencari Khea.”


“Lebih kasihan mana, sama Khea dan Gean? Mereka yang lebih banyak menderita. Baru segitu saja, teman kamu itu sudah banyak mengeluh.”


“Ken tidak pernah mengeluhkan apa-apa.”


“Terus saja bela teman kamu itu.”


Marco mengusap tengkuknya. Kenyataannya, Ken memang tidak pernah mengeluh, semuanya pria itu pendam sendiri.


Di depan pintu kafe, Rissa dan Vara melihat Marco. Keduanya langsung menghampiri Marco tanpa melihat dengan siapa Marco bersama.


“Marco.”


Sekali lagi Ara mendengus, kali ini karena melihat Rissa dan Vara.


“Kenapa kamu melihat kami seperti itu?” tanya Rissa.


Marco mencoba menenangkan Ara, karena dia tahu, Ara dan Rissa akan selalu bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah.


Dan benar saja ....


Brak!


“Heh, sombong banget jadi cewek!” bentak Rissa.


Brak!


“Aku sombong wajar, nah kamu? Sombong tapi gak punya kemampuan apa-apa!” balas Ara.


Byur


Rissa menyiram wajah Ara dengan es jeruk milik Ara.

__ADS_1


“Dasar perempuan gila enggak laku!”


Plak


Jangan dikira Ara itu cewek lemah yang akan diam saja dan tidak bisa membalas.


Mereka berdua kembali jambak-jambakan.


“Sudah, Ara,” ucap Marco.


Marco dan Vara berusaha memisahkan Ara dan Rissa.


“Dia duluan yang mulai, datang-datang langsung cari masalah. Aku yakin perempuan kaya dia, tidak akan ada pria yang mau bersamanya. Sombong dan kurang ajar.”


Rissa semakin mengencangkan jambakannya.


“Lepas Rissa!” bentak Maco.


Rossa memang sahabatnya, tapi dia juga tidak suka dengan sikap perempuan itu yang selalu kasar.


“Kamu membentak aku hanya karena dia?”


“Kamu sudah sangat keterlaluan, Rissa.”


Marco lalu mengajak Ara pergi, jangan sampai mereka kembali terlibat perkelahian. Kini pria itu mengerti, kenapa dulu Khea tidak pernah akur dengan Rissa.


Tapi kemana Vara bisa dekat dengan Rissa?


Entahlah, Marco juga tidak tahu.


Rissa menatap Vara, berharap sahabatnya itu mengatakan sesuatu untuk menenangkannya.


“Kamu harus lebih menahan diri, Rissa. Jangan memperkeruh keadaan. Kamu tahu sendiri kan, Ara itu siapa.”


Bukannya mendapat pembelaan, Rissa malah ikut disalahkan, membuat perempuan itu semakin kesal.

__ADS_1


Awas kalian, ya, kenapa malah aku yang disalahkan?


__ADS_2